PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
153. Pertemuan Pertama.


__ADS_3

"Apa ! Mama. Papa sudah di bandara ?" Kaget Tama yang mengetahui Orang tuanya baru saja mendarat di Indonesia.


Setelah mendapatkan kabar tersebut, bergegas Tama mengganti pakaian dinasnya dengan kemeja, untuk segera menjemput kedua orang tuanya.


Secepat kilat Tama berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk menuju parkiran.


Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Tama tiba di bandara. Lagi-lagi Tama harus berjalan dengan sedikit berlari untuk mencari keberadaan papa dan mama nya.


Tidak biasa papa dan mama nya tidak memberi Tama kabar ketika akan kembali ke Indonesia, ini merupakan kali pertama mereka tidak memberi kabar.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Tama, akan menyambut kedatangan papa dan mamanya, namun kali ini tidak ada penyambutan apa pun, karena memang semuanya dadakan.


"Ma !" panggil Tama yang menyadari kedua orang tuanya berjalan ke arahnya.


Tama pun berjalan dengan sedikit berlari untuk menghampiri keduanya. setelahnya Tama pun Meraih tangan papa dan mama nya dan mencium punggung tangan keduanya dengan takzim.


"Ma. Kok nggak kasih kabar dulu sama Tama ?" Tanya Tama yang masih tidak percaya dengan kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba.


"Biasa lah tam, Mama mu itu suka nya dadakan" Ucap pak Fajar Yang merupakan ayah dari Tama


Mendengar hal itu Bu Siska pun merasa kesal. "Iih papa itu kenapa sih, Udah lama tau tam Mama pengen pulang, papa aja yang selalu sibuk sama kerjaan nya" Kesal Bu Siska pada sang suami.


Tama hanya terkekeh kecil mendengar perdebatan dua orang suami istri yang tidak lagi muda tersebut.


"Udah udah, Kita pulang sekarang Aja, Supaya mama Sama papa bisa istirahat" Ucap Tama menengahi.


Setibanya di parkiran Tama segera membuka bagasi dan memasukkan koper milik papa dan mamanya. Setelahnya Tama menyusul keduanya masuk kedalam mobil.


"Tam . Kita mampir bentar ya " Pinta Bu Siska pada sang putra.


"Oke ma, Emangnya mama mau mampir kemana? " Tanya Tama


"Nggak, Mama cuma mau ketemu sama seseorang " Jawab Bu Siska dengan mengulas senyum smirk.


Menyadari senyum yang terasa aneh dari sang mama, Tama pun merasa heran.


"Mama mau kenalin kamu sama seseorang" Ucap Bu Siska lagi dengan santai


"Apa !" Kaget Tama mendengar penuturan mama nya.


"Kenapa ?, Biasa aja kali tam, Siapa tahu kalian jodoh" ucap Bu Siska lagi.


"Astaga mama ! Kenapa sih ma selalu gitu sama anak sendiri" Ucap Tama tidak terima jika dirinya selalu di jodoh-jodohkan.

__ADS_1


Masih jelas teringat oleh Tama, perjodohan seperti ini tidak sekali atau dua kali di lakukan oleh sang mama, namun sudah berkali-kali. Dan semuanya gagal karena memang diantara banyaknya orang yang dikenalkan pada Tama, tidak ada satupun yang membuat Tama tertarik.


"Ma. Please !." Ucap Tama dengan kesal.


"Mama nggak bisa paksain Tama kaya gini " Ucap Tama


"Tam, Sekali ini saja kamu turutin maunya mama sama papa" Ucap Bu Siska penuh harap.


"Ma . Tapi Tama sudah punya pilihan sendiri" Ucap Tama dengan berat hati.


"Mama mohon tam, kamu pasti suka dengan pilihan mama" Ucap sang ibu penuh permohonan


"Setidaknya kamu bertemu dengannya dulu tam, baru kamu putuskan" Pinta sang mama


"Soal pilihan kamu, itu kan baru sekedar pilihan Tam" Ucap sang mama.


Mendengar hal itu Tama semakin dibuat bingung, sementara dirinya juga telah melamar Annisa. Tapi mau tidak mau Tama juga tidak bisa mengabaikan begitu saja permintaan orang tuanya.


"Oke. Sekedar bertemu saja ya ma, Kalau Tama tidak cocok mama tidak bisa memaksa Tama " Ucap Tama penuh penekanan.


Sejujurnya hal itu Tama katakan hanya untuk membuat sang mama memahami jika.dirinya juga telah memiliki pilihan lain, yaitu Nissa.


"Em" Jawab singkat Bu Siska.


"Ust Nissa nggak usah khawatir Ali bisa pulang sendiri, lagian taksinya kan nganter Ali sampai rumah" Ucap Ali memberi solusi pada Nissa.


Sejujurnya Nissa berat membiarkan Ali sendiri pulang ke pesantren.


"Tenang aja Ust" Ucap Ali lagi


"Yakin. Ali berani sendiri ?" tanya Nissa lagi meyakinkan remaja 16 tahun tersebut.


"100% Ali yakin Ust" Jawab Ali penuh keyakinan.


Mendengar jawaban Ali yang memang begitu serius, akhirnya Nissa pun mau tidak mau membiarkan Ali pulang ke pesantren sendiri.


"Pak, Tolong ya langsung di antar ke pesantren ya " pinta Annisa memberi instruksi pada sang supir taksi online.


"Siap buk" jawab nya kemudian


"Kalau ada apa-apa bapak segera kabari saya via chat ya pak" Ucap Nissa lagi , Memastikan Ali akan benar-benar aman jika pulang sendiri.


"Baik Bu " jawab supir taksi tersebut.

__ADS_1


Setelah kepergian Ali, Nissa pun bergegas untuk menuju Restoran dimana dirinya telah membuat janji dengan seseorang sebelumnya.


02.30 merupakan waktu yang di sepakati untuk bertemu, Bukan saudara ataupun teman Nissa , hanya seseorang yang pernah Nissa bantu ketika Nissa menjadi Sukarelawan Petugas PKHI.


Selama libur semester Nissa kerap membantu petugas PKHI di tanah suci, nah dari situ lah Nissa mulanya bertemu dengan beliau.


Orang yang Nissa kenal begitu baik, dan sangat pengertian, Bahkan beliau masih kerap menanyakan kabar Nissa samai saat ini.


Nissa sedikit terkejut sewaktu beliau mengatakan datang ke Indonesia, karena yang Nissa tahu orang tersebut merupakan jamaah Haji dari Turki.


Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Nissa pun samai di tempat tujuan.


Masuk dan mencari nomer meja yang sebelumnya telah di beritahukan.


"Nona Nissa ?" Tanya seorang pelayang yang memang bertugas menyambut kedatangan tamu


"Benar, Saya Nissa " Ucap Nissa dengan sopan.


"Mari nona saya antarkan ke meja Anda" Ucap pelayan tersebut.


Nissa Pun berjalan mengikuti pelayan tersebut, menuju tempat yang telah di pesan oleh sosok yang mengundangnya untuk datang


**


Setengah hati Tama menuruti permintaan orang tuanya, namun meski berat, Tama pun juga tidak samai hati untuk menolak permintaan sang mama.


Tidak ingin larut dalam pikiran yang Tama anggap tidak penting, Tama memilih untuk memainkan Smartphone miliknya, melihat beberapa data pasien yang di kirim oleh perawat yang rencananya akan melakukan operasi.


Sementara Tama sibuk dengan smartphone miliknya, Bu Siska dan pak Fajar tengah sibuk memilih beberapa menu makanan


"Yang mana ya pa " Tanya Bu Siska penuh antusias.


"Papa ikut mama saja lah" Jawab pak fajar


"Lho kok gitu sih pa" Ucap bu Siska


"Pilihan mama selalu yang Ter baik lah " Goda pak Fajar pada sang istri.


"Ah papa bisa aja" Ucap Bu Siska dengan senyum manja.


Melihat kelakuan kedua orang tuanya, meski kesal, namun Tama merasa bahagia.


Di usianya yang tidak lagi muda keduanya masih terlihat begitu harmonis dan sangat menjaga hubungan diantara keduanya.

__ADS_1


Terlihat dari cara pak fajar yang menggoda sang istri dan juga cara Bu Siska menanggapi hal itu dengan sikap manja-manja ala anak muda jaman sekarang.


__ADS_2