
__ADS_3
Waktu menunjukan 03.05
Seorang perawat jaga yang masuk kedalam ruangan Tama , untuk membangunkan dan mengingatkan Tama berkaitan rencana tindakan yang harus dilakukan Tama saat itu.
Tidak menyia-nyiakan waktu, bergegas Tama Mencuci mukanya , menyiapkan kembali staminanya.
Meski masih dengan mata sembab namun Tama telah siap menjalankan kembali tugasnya.
Tama berjalan cepat, dengan meraih ponsel miliknya, memasukkannya dalam kantong celana baju dinas malamnya.
***
"Nissa" panggil sang Ummi
"Ya mi " Jawab Nissa sopan.
"Hari ini bukannya jadwal kontrolnya Ali ya" Tanya ummi
"Astaghfirullah iya Ummi, Nissa sampai lupa jadwal kontrolnya" Kaget Nissa yang memang lupa dengan kapan jadwal Ali untuk kontrol rutin.
Ali masih terus berobat jalan, mengingat dia belum sembuh total pasca kepulangannya dari rumah sakit.
Untuk berjalan saja Ali masih harus membutuhkan bantuan tongkat. Sesuai saran dokter Anton sebelumnya, jika Ali harus rutin kontrol setiap Minggu, karena Ali juga harus melakukan fisioterapi untuk memilihkan tulang nya yang cedera, serta melatih otot-otot kaki.
"Ya sudah kamu siap-siap , Ummi ke asrama putra dulu biar Ali juga Siap-siap" Punya ummi . Dan Nissa pun menjawab dengan anggukan kepala, seraya bergegas menuju kamar.
Tidak butuh waktu lama, Nissa Dan Ali pun terlah siap, dengan menumpang Taksi online yang di pesan Nissa sebelumnya, keduanya berangkat menuju rumah sakit.
Annisa juga telah mendaftar melalui online sebelumnya, namun karena memang dadakan, jadi Ali mendapatkan nomer antrian akhir.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, Nissa dan Ali pun akhir ya sampai di rumah saki.
Nissa mengedarkan pandanganya, mencari tempat duduk yang masih kosong untuk dirinya dan tentunya untuk Ali.
Sebuah bangku panjang terlihat masih kosong di antara banyaknya orang yang juga tengah duduk, Nissa mengajak Ali untuk duduk di bangku tersebut.
"Ust. Ali di tinggal saja , Nggak papa lagian ini masih lama kayaknya Ust. " Pinta Ali pada Nissa setelah melihat banyaknya Antrian yang juga masih menunggu giliran.
Nissa pun tersenyum tamah pada salah satu santri ya tersebut.
"Ali. Ali tenang saja tidak perlu sungkan dengan Ust. Ini sudah menjadi tanggung jawab kami" Jawab Nissa dengan suara lembut.
Ali pun menganggukkan kepala dengan mengulas senyum canggung pada sang ustadzah.
Seolah melihat seseorang yang dia kenal, Nissa pun menajamkan penglihatannya. Benar saja nyatanya sosok yang tengah duduk di bagian depan adalah orang yang sangat dia kenal.
"Ali, Kamu tunggu sebentar ya, Ust ada sedikit urusan" Ucap Nissa dengan suara lembut.
"Baik ust. Jawab Ali dengan menganggukkan kepala.
Setelahnya Nissa berjalan kearah sosok yang dia kenal.
"Maryam " Sapa Nissa dengan menyentuh bahu nya. Masih ada rasa ragu benarkah sosok yang di sapa Adalah Maryam, adik dari sahabat dekat nya Mahira.
__ADS_1
"Kak Nissa " ucap Maryam dengan wajah berbinar.
"Assalamualaikum, Maryam " Ucap Nissa dengan mendaratkan tubuhnya di sebelah Maryam.
"Waalaikumsalam salam ka, Siapa yang sakit ka ?" Tanya Maryam dengan suara lembut.
"Itu nis, Santri yang waktu itu kecelakaan. Hari ini jadwal untuk kontrol dan fisioterapi" Jawab Nissa dengan mengulas senyum di wajahnya.
"Ohya kamu kesini sama siapa ?, Sendirian ?" Tanya Nissa yang tidak melihat siapapun di dekat Maryam.
"Oh, Maryam sama suami ka, Cuma sekarang menemui temanya" Jawab Maryam. Nissa pun menjawabnya dengan anggukan kepala
Mereka pun larut dalam obrolan yang begitu akrab, sampai tanpa di sadari oleh keduanya, berdiri dua sosok gagah, tampan dan rupawan disana
"Mas. Sudah ?" tanya Maryam pada Reza yang berdiri tepat di hadapannya.
"Sudah sayang, Kamu gimana usah selesai ?" tanya Reza pada Maryam yang sebelumnya juga tengah Mengantri di poli kandungan.
Sementara Reza dan Maryam tengah berbincang. Tama Dan Nissa hanya saling melemparkan pandangan, merasa canggung untuk kali pertama di pertemukan setelah kejadian tempo hari.
"Assalamualaikum Calon istriku" sapa Tama tanpa basa basi.
"Astaghfirullah" Batin Nissa yang merasa malu dengan kata Istriku yang di sematkan oleh Tama diakhir kalimat ya.
"Apa. istri ?" Tanya Reza tampak sedikit kaget
Mendengar hal itu Nissa hanya tertunduk dengan rasa malu, berbeda dengan Nissa, Tama justru merasa bangga dengan hak itu.
"Beneran ka Nissa ?" ucap Maryam yang juga sedikit terkejut. Mencoba menggali kebenaran dari sosok Nissa yang duduk di sampingnya.
Dengan Malu-malu akhirnya Nissa pun menganggukkan kepala. Membenarkan ucapan Tama sebelumnya.
"MashaAllah. Alhamdulillah ka, Selamat ya ka Nissa dan Selamat juga untuk Dokter Tama" Ucap Maryam penuh haru.
"Selamat ya bro, Bergerak dalam diam ternyata" goda Reza pada sang sahabat.
Tama merespon dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Udah gak usah lama-lama, Kasian yang di bawah Sono" Goda Reza lagi.
"Astaghfirullah. Mas Reza" Ketus Maryam yang merasa suaminya begitu fulgar.
Mendengar hal itu Reza hanya tersenyum smirk.
Tama pun terkekeh kecil mendengar perdebatan suami dan istri di hadapannya tersebut. Sementara Nissa begitu malu, dengan bahasan yang sejujurnya dia sangat tahu apa yang di maksut Reza.
Bagi seorang wanita yang sudah matang dan terbilang cukup dewasa, Nissa tentu saja tahu mengenai hal itu.
***
Setelah cukup berbincang dengan sang sahabat, Reza dan Maryam pun beranjak untuk kembali ke rumah, meninggalkan Dua calon pasangan halal tersebut.
Karena memang sebelumnya Maryam telah selesai dengan pemeriksaan kandungannya, dan hanya tinggal menunggu Reza yang sedikit ada keperluan dengan Tama.
__ADS_1
"Kenapa tidak membalas pesanku" Tanya Tama dengan raut wajah kesal.
Nissa hanya menautkan kedua alisnya. "Apa dokter belum membuka handphone dokter ?" Tanya Nissa kemudian.
Segera Tama meraih handphone miliknya yang dia letakkan di jas kerja nya, benar saja beberapa pesan masuk yang tentunya itu dari sosok di hadapannya.
Tama pun tersenyum simpul pada Nissa, menyadari ternyata Nissa pun menanggapi nya. Nissa yang mendapatkan senyuman menggoda pun Sampai harus menunjukan wajahnya.
Tring.
Dering telepon yang tiba-tiba masuk kedalam Handphone milik Nissa
Segera Nissa meraih handphone miliknya dari dalam Sling bag,Melihat sosok yang tengah menyambungkan panggilan
"Tante" Gumam Nissa Lirih
"Dok, Maaf Nissa boleh angkat telepon sebentar" Ucap Nissa meminta izin pada Tama yang juga duduk di tempat Maryam sebelumnya.
Tama pun menganggukkan kepala menyetujui permintaan Nissa. Meski ada rasa penasaran terhadap sosok penelpon namun Tama tetap diam, tidak ingin membuat Nissa ilfil dengan dirinya. Belum menikah sudah dianggap posesif. Meski Tama Takut kalau-kalau sang penelpon adalah Maher.
Sementara dari kejauhan, Tama melihat Jika Nissa telah selesai dengan panggilan ya, dan berjalan menghampirinya.
"Maaf dok" Ucap Nissa
"Tidak Masalah" Jawab Tama singkat.
"Ohya omong-omong siapa yang menghubungimu ?" Tanya Tama pada akhirnya.
Nissa mengulas sebuah senyum dan kembali menundukkan wajahnya.
"Hanya seorang kenalan Nissa sewaktu di Kairo" Jawab Nissa jujur.
"Oh. Untuk apa dia menghubungimu ?" Tanya Tama yang semakin penasaran.
Meski sejujurnya tidak ingin menanyakan hal itu, namun Tama merasa tidak tenang dan ingin memastikan siapa sosok penelpon tersebut.
"Beliau Mengundang Nissa untuk, Makan siang ini" Ucap Nissa
"Kau menerimanya ajakan nya ?" Tanya Tama yang tampak tidak suka. Dan Nissa pun menjawab dengan anggukan kepala
Melihat reaksi Nissa, Tama hanya bisa menahan rasa kesal.
Tuut
Dering telepon pun kembali terdengar, namun kali ini handphone Tama yang berbunyi.
"Maaf aku tinggal dulu, Ada hal penting yang harus aku selesaikan" Ucap Tama setelah melihat handphone miliknya yang berdering.
Nissa menjawab dengan anggukan kepala masih dengan mengulas sebuah senyum di wajahnya.
Setelah kepergian Tama , tiba saat nya nomor antrian Ali pun di panggil, Segera Nissa menghampiri Ali dan membantu nya menuju Ruang dokter.
***
__ADS_1
__ADS_2