
__ADS_3
Seketika Bola mata Reza dan Maryam terbelalak sempurna, mendengar dering telepon dari handphone milik Maryam yang tiba-tiba mengagetkan.
"Maaf mas " Ucap Maryam pelan dengan perasaan tidak enak.
Reza mendengus kesal, dengan tersenyum kecut pada maryam. terlebih Adik kecil Reza sudah sangat siap untuk diajak berpetualang.
Mengingat sudah cukup lama sang adik kecil tertidur pulas.
Beberapa kali Reza mendengus kesal dengan posisi masih berada diatas tubuh ramping Maryam , dan mengukungnya dengan kedua tangan kekarnya.
Semakin di diamkan, dering telepon tersebut semakin terdengar tidak sopan di telinga Reza.
Tanpa henti dan permisi mengganggu Reza yang telah siap berpetualang dengan istrinya, mengarungi bahtera dan memulai malam indah berdua.
"Sial" Batin Reza dengan mendengus kesal.
"Mas " ucap Maryam memecah fokus Reza.
"Boleh Maryam angkat telepon nya ?" Tanya Maryam ragu dan sungkan kepada Reza.
Maryam sangat tidak enak hati dengan suaminya saat itu, namun dering telepon tersebut juga tidak kunjung berhenti berbunyi. Yang seketika memaksa keduanya untuk Menghentikan aktifitas panas yang baru saja akan di mulai.
Dengan mendengus kesal, Reza menghempaskan kasar Tubuhnya, dan merebahkan dirinya di samping tubuh Maryam.
Membiarkan istrinya untuk mengangkat telepon sesegera mungkin.
Beberapa kali Reza berusaha menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan, untuk menguasai dirinya dari Adrenalin yang sudah berada di puncak nya.
"Bisa-Bisanya dia tidak mematikan Handphone nya" Gumam Reza dengan tersenyum geli. mengingat aktifitas malam ini merupakan pengalaman pertama bagi Maryam.
Reza beberapa kali melihat Maryam dengan mengusap kasar wajahnya, dengan senyuman yang tidak dapat di artikan.
Maryam bergegas bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya .
Segera Maryam mengambil handphone miliknya, yang dia letakkan diatas meja.
"Bi Minah?" Gumam Maryam pelan.
Segera Maryam mengangkat telepon dari BI Minah yang telah beberapa kali berdering
"Assalamualaikum Bi , Ada apa Bi Minah ?" Tanya Maryam
"Waalaikumsalam Ning," Jawab Bi Minah dari ujung telepon, terdengar nada panik di dalam ucapan bi Minah.
"Ada apa Bi Telepon Maryam malam malam begini ? " Tanya Maryam kemudian
"ii itu Ning, Maaf Bibi mengganggu, Bibi telepon malam begini" Jawab bi Minah
"Emm.. Itu Ning, Ummi drop lagi, Baru saja ini di larikan ke rumah sakit sama Abi sama pak darman " Ucap Bi Minah dengan nada panik.
"Astaghfirullah... Bibi nggak bohong ?" Tanya Maryam tampak tidak percaya dengan informasi yang di berikan oleh BI Minah.
"Demi Allah SWT Ning" Ucap Bi Minah dengan sesenggukan.
"Sebetulnya Abi sudah memperingati bibi untuk tidak mengatakan sama Ning Maryam, Tapi ..." Ucap Bi Minah terputus
__ADS_1
"Tapi Apa Bi? Tanya Maryam kemudian dengan nada cemas dan suara bergetar.
"Tapi sepertinya kondisi Ummi lebih parah dari kemarin Ning" Jawab bi Minah dengan Meraung.
Maryam tertunduk lesu, hingga kekuatan yang ada di kakinya seketika hilang, Tubuh Maryam bergetar hebat dengan Isak tangis yang sudah tidak dapat dia tangan lagi, Beberapa saat tubuh Maryam terasa ringan hingga hampir saja terjatuh di lantai.
Melihat tubuh Maryam yang mendadak lunglai, segera Reza berlari dan menangkap tubuh Maryam yang hampir mendarat di permukaan lantai.
"Astaghfirullah " Ucap Reza panik.
"Ada apa Sayang " Tanya Reza panik
Maryam masih bergeming dengan pertanyaan Reza. dengan bulir-bulir bening merembes dari sudut mata Maryam , bahkan sambungan telepon pun belum dia matikan.
Setelahnya Reza meraih tubuh Maryam, dan menenggelamkan Tubuh mungil tersebut kedalam pelukannya.
Reza segera mengambil telepon yang masih ada di genggaman Maryam, dan berbicara dengan seseorang dari ujung telepon.
"Halo!! , Siapa ini ? " Tanya Reza panik.
"Halo, Katakan apa yang terjadi!!" Ucap Reza keras pada seseorang di ujung telepon.
"Saya mas, Bi BI Minah" Ucap Bi Minah terbata, merasa takut dengan suara lantang Reza. Suara yang terdengar jelas dan sangat memekakkan telinga.
"Ada apa Bi katakan" Ucap Reza tegas.
Segera Bi Minah menceritakan semua kejadian yang baru saja di alami keluarga Abi Hanif sama seperti yang baru saja dia ceritakan pada Maryam.
Setelah Mendengarkan semua cerita dari BI Minah, Reza mematikan telepon tersebut. Seketika Reza menundukkan kepala melihat betapa seseorang yang tengah berada di dalam pelukannya saat ini begitu sangat sedih
Maryam terlihat masih tersedu dengan tangisannya.
Reza membiarkan Maryam tetap menangis untuk sementara waktu.
Sejenak suasana menjadi hening, hanya terdengar isak tangis lembut dari bibir Maryam .
Melihat situasi Maryam sudah cukup tenang Reza bergegas meraih wajah Maryam dan membingkainya dengan kedua tangan kekar Reza.
"Tenangkan hatimu, Kita doakan Ummi baik-baik saja " Ucap Reza dengan nada lembut.
"Ummi Mas" Maryam kembali menjatuhkan Bulir-bulir bening dari sudut matanya.
Kembali Maryam melingkarkan tangannya di pinggang Reza memeluk tubuh kekar tersebut dengan begitu erat. Terlihat rasa takut yang cukup besar di sana.
Reza kembali membiarkan Maryam menangis untuk mengurai kepanikan, untuk melegakan Hati dan perasaanya.
Kembali Reza memberikan usapan lembut pada punggung Maryam dan membelai rambut Maryam .
Setelah terlihat Maryam lebih tenang dari sebelumnya, bergegas Reza meraih bahu Maryam dan menguatkan wanitanya tersebut.
Terlihat wajah sendu dengan tatapan nanar dari mata Maryam yang terus meneteskan buliran bening disana.
Reza pun merasa sangat terluka melihat istrinya menangis, Namun Reza berusaha menguatkan Maryam dengan sekuat tenaga, Membuat hati Maryam tenang.
"Mas.." Ucap Maryam lirih dengan tatapan nanar. dan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
"Sayang Kuatkan hatimu, Kita akan Pulang dan Menemui Ummi malam ini juga " Ucap Reza menguatkan
"Bersiaplah, kita akan berangkat malam ini juga" Ucap Reza lembut
"Baik Mas " Jawab Maryam pelan, dengan perasaan lega.
Segera Maryam menyiapkan beberapa bajunya dan juga tentunya baju milik Reza, yang dia kemas kedalam satu koper.
Setelahnya Maryam segera mengganti pakaiannya mengenakan gamis, jilbab dan juga cadarnya kembali.
Begitu juga dengan Reza yang dengan sigap mengganti pakaiannya dengan baju yang telah di siapkan Maryam sebelumnya.
Setelah dirasa semua sudah siap, Segera Reza meraih tangan Maryam, menggandengnya dengan lembut.
Keduanya segera menuju kamar kakek Amar dan nenek Halimah untuk berpamitan dan meminta izin untuk tinggal beberapa hari di Rumah Abi Hanif
Tok tok tok
"Kakek, Ini Reza !" Ucap Reza pelan
Ceklek
Terlihat kakek Amar berdiri di ambang pintu.
"Ada Apa za , Malam malam begini pada mau kemana ?" Tanya kakek Amar setelah melihat pakaian yang dikenakan Maryam dan Reza tampak rapi.
Terlihat seperti seseorang yang akan bepergian, begitu juga dengan koper yang di tenteng oleh Reza.
"Kek, Barusan Maryam dapat kabar kalau ummi masuk rumah sakit" Ucap Reza mewakili Maryam
"Kami berencana ke sana malam ini juga kek" Ucap Reza lagi.
"Oh.. Baiklah, hati-hati di jalan Za" Ucap kakek Amar lembut.
"Dan kau Maryam , Doakan Ummi mu, InshaAllah kakek juga akan Mendoakan Untuk kesehatan dan Kesembuhan Ummi mu" Ucap kakek Amar.
"Terima kasih Kek" Jawab Maryam dengan terisak.
"Segeralah berangkat, Hari semakin larut , Dan selalu hati-hati di jalan Za" Ucap kakek Amar lagi mengingatkan keduanya.
Keduanya lantas mencium punggung tangan kakek Amar dengan takzim.
Mereka berlalu dengan hanya berpamitan pada kakek Amar, karena nenek Halimah telah tidur sebelumnya.
"Baik kek, Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam " Jawab kakek amar.
***
Bersambung
***
Jangan Lupa Dukunganya ya kak 🥰
__ADS_1
__ADS_2