
__ADS_3
Susana menjadi lebih tegang setelah beberapa kali ustadz Furqan melemparkan kalimat tidak mengenakan pada ustadz Hamzah.
"Ingat Hamzah ini merupakan penghinaan bagiku !" ketus ustadz Furqon.
"cih. Ingat Hamzah. Kembalikan apa yang pernah aku berikan padamu !" Ucap ustadz Furqan dengan suara dingin dan tatapan tajam
Ustadz Hamzah hanya menatap lekat wajah sahabatnya yang nyatanya saat ini telah berubah, tidak lagi seperti sahabatnya dulu.
"Ku beri kau waktu satu Minggu !, Jika tidak kau harus melimpahkan pesantren ini atas nama putraku !" Ucap Ustadz Furqon lagi.
"Abi !. Astaghfirullah" Ucap Maher yang lagi-lagi menggeleng kesal dengan ucapan memalukan ayahnya.
Mungkin Maher memang bukan orang yang baik, namun untuk urusan ini rasanya Maher pun menolak keras ucapan Abi nya , yang terkesan berlebihan.
"Diam Lah kau Maher !" Ucap Ustadz Furqon memperingati anaknya.
Lagi Maher harus menekan rasa malunya di depan gadis pujaan hatinya, atas ulah sang ayah.
"Astaghfirullah " Gumam Nissa dalam hati, tak terasa sudut matanya menghangat mengingat bagaimana sahabat Abi nya begitu kasar memaki sang Abi, mengatakan jika ustadz Hamzah sudah bagai kacang lupa kulitnya, dan banyak lagi makian lain.
"Ehem "
Semua orang terlihat mendongakkan wajahnya, Suara deheman yang seketika memecah ketegangan diantara orang-orang yang berada di ruang tamu tersebut.
"Assalamualaikum "
Ucap Tama seraya melangkah masuk kedalam ruang tamu yang memang tidak tertutup tersebut.
"Waalaikumsalam " ucap orang-orang yang ada di ruang tamu tersebut.
"Nak Tama " Silahkan masuk , Ucap Ummi Nissa yang langsung berdiri menyambut tamunya.
"Terima kasih ummi" Jawab Tama dengan mengulas senyum
Nissa tertegun kaget dengan kedatangan Tama yang tiba-tiba, begitu juga ustadz Hamzah yang juga tidak kalah kaget.
Tidak hanya Nissa yang terkejut, ustadz Furqan dan juga Maher pun merasa sangat terkejut dengan kedatangan Tama saat itu.
Menyadari kebingungan dari seseorang yang juga merupakan tamu dari ustad Hamzah, Tma pun tersenyum.
"Perkenalkan saya Tama " Ucap Tama dengan menganggukkan kepala pada tamu ustadz Hamzah tersebut.
Ustadz Furqan hanya menatap tidak suka pada Tama , begitu juga Maher yang merasa tidak nyaman dengan kedatangan Tama.
Mencekam.
__ADS_1
"Do-dokter ingin bertemu Ali ?" Tanya Nissa terbata
Tama hanya mengulas senyum ramah pada Nissa yang duduk di samping sang Abi.
Melihat tatapan Tama pada Nissa yang memiliki arti lain, seketika jiwa Maher terasa terbakar api cemburu. Menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.
Nissa hanya membalas senyuman Tama dengan balik tersenyum getir, karena pertanyaan nya tidak mendapatkan jawaban dari Tama. Setelahnya Nissa memutuskan untuk kembali menundukkan wajahnya.
Selain Maher, nyatanya Ustadz Furqon dan sang istri juga merasa kesal dengan kedatangan tamu ustadz Hamzah yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan semuanya.
"Maaf saya tidak mengenal anda !, Namun jika tidak ada yang penting untuk di bicarakan, sebaiknya anda menunggu di luar !" Ketus ustadz Furqan tajam pada Tama
"Kami masih punya urusan penting yang perlu di bicarakan pada keluarga ini" Ucap ustadz Furqan lagi dengan menatap sang sahabat.
Bukan pemilik rumah, namun berani mengusir tamu, mungkin itu yang ada dalam benak Tama saat ini.
Namun bukanya terpancing, justru Tama tersenyum mendengar ucapan seseorang yang juga merupakan tamu dari ustadz Hamzah tersebut.
"Kurang ajar !, apa kau mentertawakan ku ?" tanya ustadz Furqan, yang bagi-lagi salah mengartikan senyuman ramah Tama.
"Maaf pak , Bukan saya mentertawakan anda" Ucap Tama dengan lagi mengulas senyum ramah.
"Saya hanya tersenyum, apa itu salah ?" tanya Tama tampak heran.
"Sebelumnya saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Bapak dan ustadz Hamzah" ucap Tama Masih dengan senyum di wajahnya
"Lancang kau !" Sergah ustadz Furqan.
"Tenang pak " Pinta Tama dengan suara lembut.
Ustadz Furqan hanya mendengus kesal dengan Tama yang dianggapnya hanyalah anak bau kencur yang berani-beraninya menentang dirinya.
"Sesungguhnya jika memang ada masalah bukankah semua bisa di bicarakan baik, tanpa ada pemaksaan dal lain sebagainya" Ucap Tama memberi pendapat.
"Anak kemarin sore saja berani menentang !" Ketus Ustadz Furqon kesal.
lagi-lagi Ustadz Furqon merasa kesal dengan ucapan seseorang di hadapannya yang telah dianggapnya lancang berani menasehatinya.
"Jaga Mulutmu !" Ketus ustadz Furqan
"Anda juga harus menjaganya pak !" Ucap Tama yang sedikit terpancing amarah.
Tama yang memang telah berdiri cukup lama di balik dinding luar ruang tamu ustadz Hamzah merasa jengah dengan ustadz Furqan yang selalu memojokkan ustadz Hamzah.
"Jadi apa mau anda !" ucap Tama dengan wajah yang telah kembali pada mode serius.
__ADS_1
Deg.
Nissa yang tidak pernah melihat Tama seserius itu merasa sedikit terkejut, pasalnya Tama yang dia kenal adalah sosok dokter yang begitu ramah dan punya kepribadian baik serta begitu hangat.
Ustadz Furqan bergeming hanya menatap nyalang Tama yang dengan berani menanyakan apa kemauannya.
"Anda seorang guru, Rasanya tidak pantas seseorang yang harus Yandi gugu dan di tiru (*Istilah Jawa) berkata demikian " Ketus Tama dengan wajah santai.
"Lancang !" ketus ustadz Furqon yang kembali tersulut emosi.
Tama hanya menampakkan senyum seringai, mendapati orang tua di hadapannya kebakaran jenggot.
"Anda menginginkan unag ?" tanya Tama tanpa basa-basi
Ustadz Furqan semakin di buat telak oleh pertanyaan Tama , Tidak hanya ustadz Furqan saja , namun saat ini Maher pun juga di buat gusar dengan sosok yang baru saja bergabung dalam obrolan mereka.
"Nak Tama !" Ustadz Hamzah merasa kaget dengan ucapan Tama yang terkesan berani.
Tama hanya menanggapi panggilan Ustadz Hamzah dengan senyuman ramah, dan anggukan kepala. Isyarat agar ustadz Hamzah memberinya ijin untuk berbicara.
"Berapa yang anda inginkan ?" Tanya Tama dengan suara datar dan tatapan mengarah pada ustadz Furqan
"Cih" Ustadz Furqon mendengus kesal.
"Tidak perlu sungkan katakan saja, berapa yang anda inginkan " tanya Tama lagi tanpa basa-basi.
Ustadz Furqan hanya menatap Tama dengan tatapan tajam, seolah ingin rasanya melayangkan bogem pada wajah tampan Tama.
Tama yang menyadari jika tamu Ustadz Hamzah hanya mengacu, dia pun juga tidak ingin basa-basi yang justru akan menghabiskan energinya saja.
"Dua Miliar!" ucap ustadz Furqan lantang, dengan tatapan sinis pada Tama
Deg.
Tidak hanya Nissa , kini ustadz Hamzah, dan Ummi Nissa pun juga terhenyak kaget mendengar nominal yang di ucapkan oleh ustadz Furqan.
Maher dan sang ibu pun sama kagetnya dengan yang lain. Bahkan Maher merasa sangat malu dengan ulah sang ayah.
"Astaghfirullah Furqon, Apa aku tidak salah dengar ?" Tanya ustadz Hamzah memastikan nominal yang baru saja dia dengar.
"Tentu saja tidak, kecuali jika kamu tuli " Ucap ustadz Furqan sinis
"Stop !" Sergah Tama seketika, mendengar ucapan lancang dari orang tua di hadapnya membuat Tama naik pitam.
***
__ADS_1
__ADS_2