PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
115. Kedatangan Tama


__ADS_3

Hari baru.


Kesibukan begitu terasa pagi ini di kantor Reza, Denis yang juga telah berada di kantor pun tidak luput di buat kelabakan karena Reza yang selalu meminta nya untuk melakukan berbagai pekerjaan.


Terlebih semenjak kehamilan Maryam, Reza lebih fokus pada sang istri, hingga Denis harus ekstra sigap dalam menghandle semua pekerjaan di kantor.


Hamil muda membuat Maryam mengalami beberapa keluhan, seperti mual dan muntah serta banyak keluhan lain, hingga sebagai suami siaga Reza akan selalu sigap dalam menjaga calon bayi dan juga sang ibu.


Agenda pagi ini, di awali Reza dengan melakukan meeting bersama salah satu investor Kenamaan di kota ini untuk bekerja sama dalam sebuah proyek, yang akan di gawangi oleh perusahaan Reza dalam melakukan pembangunan sebuah rumah sakit berskala internasional.


Reza yang sudah hampir kesal karena lama menunggu, hampir -hampir saja hilang kesabaran, dan ingin segera beranjak, namun dengan sigap Denis mencegah Reza untuk pergi, namun dari jarak yang lumayan jauh terlihat pak Bima berjalan dengan wibawa bersama seseorang yang sangat dia kenal.


"Dokter Tama !" batin Denis dalam hati.


Keempatnya kemudian saling berjabat tangan ketika Pak Bima dan Tama berdiri tepat di hadapan Reza dan Denis.


Akhirnya Reza, Denis , pak Bima, dan juga dokter Tama telah duduk bersama dalam satu meja. Mereka tampak serius dengan beberapa pembahasan penting.


Ada rasa terkejut dalam hati Denis, ketika melihat dokter Tama yang bergabung dalam acara meeting ini, Terlebih Reza yang juga tidak mengatakan apa pun padanya mengenai hal ini, karena sebagai sahabat dari Tama, Denis berfikir sudah pasti Reza tahu mengenai rencana kedatangan Tama ini, namun setelah nya Denis mendapatkan jawaban dari sosok pak Bima.


Nyatanya kedatangan dokter Tama berdasarkan atas tawaran dari pak Bima, yang memintanya untuk bergabung menjadi salah satu investor dalam pembangunan Rumah sakit berskala internasional tersebut.


Berada dalam satu meja, Tama yang telah menyadari bahwa Denis terlihat beberapa kali mengamati dirinya dengan tatapan yang tidak biasa "Maaf ada yang bisa saya bantu, Tampak nya anda memperhatikan saya sejak tadi" Sergah Tama dengan suara tegas.


Mendapatkan pertanyaan demikian, Denis hanya mengulas sebuah senyum ramah dan tidak memberi jawaban, bukan tanpa alasan Denis melakukan hal tersebut, Denis melakukanya karena ingin menghargai Sang Bos Besar yang tengah berbicara pada Pak Bima, sehingga dirinya tidak ingin mengganggu dengan obrolannya bersama Tama yang bersifat remeh, pasalnya antara Denis dan Tama saat ini sama-sama telah mengetahui jika keduanya tengah dalam satu misi untuk memperebutkan sosok Mahira.


Reza menyadari sahabatnya dan sang asisten kepercayaan tengah dalam suasana perang dingin, dengan tatapan masing-masing yang hanya keduanya pahami, meski hanya dengan menatap sekilas Reza sangat hapal karakter dari kedua orang yang dekat dengan dirinya itu, seketika Reza hanya menggelengkan kepala, kemudian kembali fokus dengan perbincangannya bersama pak Bima.


Setelah beberapa saat acara rapat pun mereka akhiri , karena agenda selanjutnya adalah meninjau lokasi yang akan di gunakan untuk pembangunan Rumah sakit berskala internasional tersebut.


Tidak ada yang absen setelah rapat selesai, ke empat orang tersebut bersama-sama menuju lokasi pembangunan.


Setibanya di lokasi, tidak ingin berlama -lama Reza segera mengajak pak Bima menuju beberapa titik penting lokasi pembangunan, setelahnya Reza kembali sibuk dengan penjelasanya pada Pak Bima.


Selama Reza berkeliling Denis hanya mengekor dan mengikuti langkah kaki Reza dalam jarak yang tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh.


"Ehem !" Suara deheman Tama yang seketika memecah fokus dari Denis.


Denis hanya melirik sekilas pada Tama yang berdiri tepat di sampingnya. Kemudian melemparkan sebuah senyuman ramah dan anggukan kepala.


"Saya dengar anda sedang dalam misi menaklukan hati seorang wanita" Ucap Tama jujur.


Kembali Denis menatap sekilas wajah Tama "Saya rasa tidak ada hubungannya dengan anda" Ucap Denis dengan suara dingin.


"Tentu saja ada hubungan" ucap Tama dengan suara datar, dan senyum sinis.


Denis tampak menyunggingkan sebuah senyuman "Apa pun hubungannya dengan anda saya tidak perduli" Jawab Denis kemudian


Mendengar jawaban dari Denis , Tama hanya tampak mendecih dengan mengulas sebuah senyum


"Saya hanya ingin mengingatkan, melawan sebuah keyakinan itu bukan hal yang mudah" Sindir Tama

__ADS_1


"Dan anda sudah harus bersiap dengan segala kemungkinan!" ucap Tama lagi.


Denis hanya bergeming , mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Tama berusaha untuk tidak menghiraukan, meski sejujurnya berkaitan dengan keyakinan memang sesuatu yang sangat berat untuk Denis putuskan.


Setelah selesai dengan kegiatan meninjau lokasi, Reza dan Denis masih memiliki beberapa agenda lain.Sebwlum keduanya kembali kekantor lagi.


***


"Masih adakah agenda lain ?, Hari yang melelahkan " Ucap Reza dengan melonggarkan dasinya.


"Tidak Tuan !, Hari ini semua agenda telah selesai dengan baik !" ucap Denis


Reza tampak tersenyum puas "Kerja bagus " Ucap Reza lagi dengan menepuk bahu Denis.


"Terima kasih tuan" ucap Denis dengan tersenyum bangga.


"untuk kinerjamu hari ini apa yang kau inginkan, atau berapa bonus yang kau harapkan ?" tanya Reza dengan tatapan lurus, dan berjalan menuju parkiran.


Mendengar tawaran dari sang bos besar, seketika Denis menjadi berbinar dengan bahagia yang membuncah dalam hatinya.


"Apa tuan serius" Ucap Denis dengan berbinar


"Apa aku pernah membohongimu ?" Jawab Reza dingin dengan kaki tetap melangkah.


Mendengar hal itu Denis semakin bahagia "Tuan apa saya boleh meminta sesuatu yang lain?" Ucap Denis


Reza hanya bergeming dengan menganggukkan kepala.


Reza tampak menghentikan langkahnya, dan berbalik badan menghadap Denis yang berada di belakangnya "Kau yakin hanya itu?"ucap Reza


Dan Denis hanya menjawab dengan anggukan penuh semangat dan wajah berbinar.


Sebuah pilihan yang sedikit aneh dari biasanya, pasalnya seluruh asisten Reza akan meminta bonus berupa sejumlah uang atau tiket berlibur ke luar negri, namun kali ini Denis meminta sesuatu yang di rasa cukup unik. Tapi Reza tidak ingin ambil pusing dan akan mengabulkan apa pun permintaan asisten nya tersebut.


***


Diwaktu yang sama namun tempat yang berbeda, Tama tengah dalam suasana hati yang bahagia. Menempuh perjalanan dengan perasaan berbunga.


Beberapa saat menempuh perjalanan akhirnya Tama tiba di tempat tujuan, dengan membawa sekotak oleh-oleh dan sebuah Paper bag berukuran besar.


Tok tok tok "Assalamualaikum"


Beberapa kali terdengar suara nyaring Tama yang mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam, Tunggu sebentar " Terdengar jawaban dari balik pintu.


"Eh pak dokter " Sapa bi Minah


"Iya Bi" Ucap Tama ramah


"Mari pak dokter masuk, mau ketemu sama siapa pak dokter ?" ucap Bi Minah sopan.

__ADS_1


"Abi ada Bi" Ucap Tama kemudian


"Oh, ada pak dokter, silahkan duduk dulu, bibi panggilkan Abi" Ucap Bi Minah dengan membungkukkan badan dan setelahnya berlalu dari hadapan Tama.


Beberapa saat menunggu akhirnya Abi Hanif muncul dan menyapa Tama dengan ramah serta senyuman yang menghiasi wajah nya.


"Assalamualaikum Abi" sapa Tama sopan, dan berdiri meraih tangan Abi Hanif untuk mencium punggung tangan Abi Hanif dengan takzim l.


"Waalaikumsalam nak dokter, kok tumben kesini,ada perlu apa nak dokter ?" tanya Abi Hanif ramah.


Mendengar pertanyaan Abi Hanif seketika tengkuk Tama meremang dan ada sedikit rasa bingung, segera Tama mengulas sebuah senyuman tipis di wajahnya untuk menetralkan perasaan gugupnya "Oh, ini Bi, saya cuma mau kembalikan baju tempo hari, waktu saya menginap di sini" Ucap Tama kemudian dengan menyodorkan sebuah Paper bag berisi baju.


"Ohh.. tidak perlu sungkan nak dokter, Abi ikhlas, tidak perlu di kembalikan" Ucap Abi Hanif ramah.


Namun Tama tetap kekeh untuk mengembalikan baju tersebut pada Abi Hanif.


Setelah menyampaikan maksut dari kedatanganya, Tama dan Abi hanif tampak larut dalam obrolan, sampai keduanya menghentikan pembicaraanya tatkala Bi Minah datang dengan membawa dua cangkir kopi panas.


"Terima kasih Bi Minah" Ucap Tama ramah.


Dengan mengulas senyum ramah "Silahkan di minum pak dokter" Ucap Bi Minah kemudian. dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Tama .


"Ohya Abi, mohon maaf sebelumnya, apa Mahira ada ?" ucap Tama kemudian


"Mahira " Jawab Abi Hanif dengan mengerutkan dahi.


"Oh, ada nak dokter, sepertinya Mahira sedang di taman belakang" Ucap Abi Hanif kemudian


"Bisa saya bertemu Mahira bi?" Ucap Tama


"Silahkan, Mau Abi panggilkan" Jawab Abi dengan suara lembut.


"Tidak usah bi, biar saya susu ke taman saja" Jawab Tama dengan mengulas senyuman lebar di wajahnya.


Setelah cukup berbasa basi dengan Abi Hanif, Tama memilih segera undur diri untuk menemui Mahira yang berada di taman belakang.


***


Bersambung


***


Mohon maaf ya semuanya Up nya lama


Bukan karena apa-apa hanya saja beberapa hari terahir Author lagi kurang baik, jadi baru sempat up.


Mohon selalu Suport ya semuanya, biar Author selalu semangat Nulisnya.


Dan terima kasih buat semua yang selalu setia menanti cerita ini.


Peluk cium dari jauh untuk semuanya 🤗🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2