
__ADS_3
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Kakek Amar, Pak Roni tampak tidak fokus dengan kemudinya.
Berfikir dan menimbang sejenak mengenai kejadian yang baru saja di alaminya. Merasa ada sesuatu yang janggal dari kejadian yang baru saja dialami oleh Maryam.
Segera pak Roni menepikan mobil yang dia kemudikan, dan mencari tempat parkir yang di rasa strategis, kemudian meraih ponsel yang dia letakkan di saku.
Tidak menunggu lama pak Roni segera menekan sebuah nama disana "Tuan Reza " , karena tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi lagi, pak Roni ingin segera mengadukan kejadian yang baru saja dialami oleh Nyonya mudanya.
Pak Roni sangat yakin jika kejadian yang baru saja di alami bukanlah murni ketidak sengaja an, meski Maryam selalu mengatakan hal itu terjadi karena dirinya yang tidak berhati-hati.
Pak Roni tengah menyimpan kecurigaan yang sangat besar pada sosok dua pengendara sepeda motor yang sebelumnya selalu membuntutinya.
"Halo" Sapa seseorang dari ujung telepon.
"Halo Tuan Reza" ucap pak Roni dengan sedikit kepanikan di wajahnya
"Ada apa pak !" Ucap Reza , terlihat nada tidak sabar dari ucapan Reza.
Karena memang tidak biasanya supir pribadinya itu menghubungi di jam-jam seperti ini, Reza pun menyadari ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
"E--em Begini Tuan" Ucap pak Roni gagap.
"Katakan dengan jelas !" Ucap Reza dengan meninggikan suaranya satu oktaf
"Tadi Nyonya Maryam mengalami ke-- kecelakaan Tuan " ucap pak Roni lagi dengan suara gagap, merasa sedikit tegang jika berhadapan dengan majikannya yang terkenal dingin tersebut.
"Apa !" ucap Reza seketika
"Bagaimana bisa kau tidak berhati-hati !, Dirawat dimana istriku?, Bagaimana keadaannya saat ini " Seketika Reza memberondong pak Roni dengan pertanyaan bertubi.
Mendengar kepanikan dari Reza , lantas pak Roni segera menceritakan awal mula kejadiannya.
Mulai dari dirinya yang merasa diikuti oleh dua pengendara sepeda motor, yang membuntuti sejak dari saat mobil yang di kemudikan Pak Roni keluar dari gerbang besar kediaman majikanya tersebut.
Juga mengenai kejadian kecelakaan yang terjadi, bukan terjadi saat di perjalanan, namun kecelakaan terjadi justru saat keduanya telah tiba di kediaman Abi hanif.
Sebuah sepeda motor yang menurut pak Roni telah sengaja menyambar Tubuh Maryam dari samping, untuk membuatnya celaka.
Kejadian itu sangat cepat hingga pak Roni pun merasa sangat terkejut, dan tidak sempat untuk menyelamatkan Maryam.
Setelah menceritakan keadaan Maryam yang baik-baik saja dan hanya mengalami Cedera ringan, yang sudah di tangani oleh keluarganya, kemudian pak Roni menutup telpon tersebut, dan kembali melajukan kendaraannya lagi setelah merasa lega.
__ADS_1
***
Disebuah gedung pencakar langit dengan dinding yang terbuat dari kaca transparan yang menampakkan pemandangan kota di bawahnya , Reza tampak mengeratkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya, mendengar penuturan yang baru saja di sampaikan oleh salah satu supir pribadinya tersebut.
Sudah bukan hal yang asing bagi Reza jika ada orang yang tidak suka dengan dirinya, terlebih berkaitan dengan dunia bisnis, sudah pasti akan ada orang yang nekat berbuat curang.
Melihat pamor seorang Reza Abizar El Shirazy yang begitu luar biasa di usianya yang tergolong masih muda, dengan segala kesuksesan dan kemapanan yang dia miliki.
Begitu sangat di segan i dan di takuti banyak petinggi perusahaan di negeri ini. Tidak heran jika banyak pula orang yang tidak suka.
Namun Reza sangat tidak terima jika hal itu menyangkut orang-orang yang dia sayangi.
Begitu juga dengan Denis yang berada di ruangan Reza pun ikut merasakan kepanikan dari raut wajah Bos besarnya tersebut.
"Ada apa Tuan !" Ucap Denis seketika.
Reza hanya bergeming dengan ucapan sang asisten, sejenak berusaha menenangkan dirinya.
"Kau ikut denganku!" Ucap Reza seketika, dengan sigap menyambar Jas yang dia letakkan di sandaran kursi.
"Baik Tuan !" Ucap Denis.
Berjalan cepat mengikuti langkah kaki sang Bos besar , dengan rasa penasaran namun urung dirinya untuk bertanya, karena tidak ingin membuat suasana hati sang bos menjadi lebih buruk dengan pertanyaannya, Denis memilih untuk diam dan menurut.
"Akan kemana kita tuan ?" Tanya Denis.
"Ikuti saja perintahku " Jawab Reza dengan suara dingin.
Denis hanya mengangguk, dan segera membukakan pintu penumpang untuk Reza.
"Kita ke rumah Ayah mertua sekarang !" ucap Reza ketika telah berada di dalam mobil dan duduk di bagian kursi penumpang.
"Baik tuan" Jawab Denis dengan anggukan kepala.
Dengan sigap Denis mengemudikan kendaraan berharga miliaran tersebut, jalanan lumayan lengang saat ini, mengingat waktu memang telah berganti petang. Hingga dengan mudah Denis memacu kendaraan dengan lebih cepat
Sepanjang perjalanan Reza hanya terdiam dan tampak berfikir dengan raut wajah cemas dan khawatir terhadap kondisi sang istri yang belum di ketahui.
***
Mahira tampak menghela nafas panjang dan menghembuskan perlahan, setelah membetulkan posisi duduknya, Mahira mulai membuka suara.
__ADS_1
"Sejak pertemuan terakhir kita" Ucap Mahira lirih
"Pertemuan terakhir kita di rumah sakit saat itu" Ucap Mahira lagi dengan pandangan tertunduk.
Ada rasa terkejut dengan menautkan kedua alisnya , namun Maryam tetap fokus pada cerita Mahira.
"Rasanya hati kakak sakit sekali ketika Abi memohon maaf pada suamimu untuk kesalahan kakak" Ucap Mahira kemudian
"Kakak sudah sangat menyakiti hati Abi, dan Ummi" Ucapnya lagi
"Tidak hanya mereka, tapi kakak juga telah menyakiti hatimu, bahkan kakak berusaha merebut suamimu" Ucap Mahira dengan sesenggukan , buliran bening yang sudah begitu saja lolos dari sudut mata Mahira.
Maryam tampak menautkan kedua alisnya, menyelami setiap kalimat yang diucapkan oleh sang kakak memang betul semua itu sebuah kenyataan.
Namun terlepas dari itu, Maryam merasa Sangat bahagia dengan perubahan sikap dan diri sang kakak.
"Kakak tahu, ini sangat mengejutkan, dan mungkin kau juga belum sepenuhnya mempercayai ucapan kakak" Ucap Mahira kemudian
"Bukan, Bukan begitu kak Ira" ucap Maryam, mencoba memberi penjelasan dan menenangkan hati sang Kakak
"Memang ini sangat cepat bagi Maryam, namun jujur Maryam sangat bahagia melihat kak Ira yang sekarang" Ucap Maryam kemudian dengan mengukir sebuah senyum ketulusan disana.
Begitu juga Mahira terlihat sebuah senyum simpul dari rona wajahnya yang tengah duduk di hadapan Maryam.
Tidak berselang lama, Ummi Maya telah masuk kedalam kamar dan membawakan makanan dan minuman untuk putri bungsunya tersebut.
Melihat kedatangan sang Ummi, Mahira memberi rongga dan sedikit mundur, agar Ummi Maya bisa duduk tepat di samping Maryam.
"Ummi Suapi ya nak " Ucap ummi Maya penuh perhatian
"Tidak usah ummi, Maryam bisa sendiri" sergah Maryam kemudian
Namun ummi Maya tetap memaksa untuk menyuapi putri kecilnya tersebut
"Oya , Mahira , hubungi Abi mu dan juga Bi Minah, minta keduanya untuk segera pulang" Ucap ummi Maya memerintah pada putri sulungnya Mahira
"Baik Ummi" Jawab Mahira singkat dengan anggukan kepala.
Tidak menunggu lama Mahira segera keluar dari kamar Maryam untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Abi Hanif juga Bi Minah.
***
__ADS_1
Bersambung
***
__ADS_2