Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 140 Dewa Mautmu


__ADS_3

Hingga pada suatu hari, keduanya khilaf dan melakukan kesalahan. Namun, rupanya kekhilafan itu terus berlanjut hingga menyebabkan Elisa kemudian hamil.


" Mas.... aku hamil! " kata Elisa suatu hari dengan wajah pucat saat menemui Pak Alfred.


Arryan terhenyak, sesak rasa di dada. begitu roh gadis yang merasuk ke dalam tubuhnya keluar. Elisa ... gadis itu bernama Elisa. Dia juga adalah salah satu mahasiswa di kampus ini. Gadis itu juga masih satu tingkatan yang sama dengan dia.


" Aku harus mencari tahu di mana sekarang Pak Alfred berada." kata Arryan dalam hati.


...----...


Malam ini, di langit bentuk bulan bulat penuh. Malam ini adalah malam bulan purnama. Di langit, walaupun bulan tertutup serabut awan hitam, namun tetap saja cahaya yang dia hadirkan mampu menerangi alam sekitarnya. Hamparan sinar bulan memantul di hamparan rimbun pepohonan, menghadirkan sebuah pemandangan yang luar biasa indah jika di lihat dari langit.


Di padepokan Pasir Hitam, suasana terlihat sunyi dan lengang. Hanya satu dua terlihat murid padepokan yang berkeliaran.


" Apakah semua sudah siap? " Ki Dirga, sang guru bertanya kepada beberapa orang muridnya yang dari tadi terlihat sibuk mempersiapkan sesuatu.


" Sudah, Ki! "


" Kalau begitu segera laksanakan ritualnya! Ingat jangan sampai ada yang terlewatkan atau kepala kalian penggantinya! " ucap ki Dirga datar.


Mendengar hal itu, murid padepokan Pasir hitam itu menjadi mengkeret ketakutan. Mereka takut jika sedikit saja melakukan kesalahan, nyawa mereka akan melayang.


Di ruang bawah tanah Padepokan Pasir Hitam, sebuah ritual pengorbanan tumbal anak perawan sedang disiapkan. Ki Dirga, guru besar padepokan tersebut sudah duduk bersila di depan sebuah altar. Altar itu berbentuk meja besar terbuat dari batu marmer putih yang berkilauan di tempa oleh cahaya bulan yang sengaja di biarkan masuk melalui lubang yang terdapat di atas langit - langit ruangan.


Tumbal anak perawan akhirnya berhasil juga mereka dapatkan. Bunga tujuh rupa dan dupa tak lupa melengkapi sesajen mereka. Di ujung altar terdapat sebuah cawan besar yang berisi air kembang tujuh rupa yang di campur dengan sedikit darah dan sebilah belati yang di redam di dalamnya.


Asap menyan sudah memenuhi ruangan ini. Beberapa orang murid padepokan sudah mulai membacakan mantra puji - pujian untuk memanggil sesembahan mereka.


" Wahai pemilik kuasa atas seluruh kegelapan , Yang menguasai empat penjuru mata angin.....Hadirlah.... hadirlah. Berilah kami kekuatan kegelapanmu. Hadirlah...... wahai pemilik kuasa atas Seluruh Kegelapan.... Berilah kami kekuatan kegelapanmu...!


Beberapa orang murid padepokan membawa masuk seorang anak gadis yang masih remaja. Gadis remaja itu terikat dan dalam kondisi yang lemah tak berdaya. Tampaknya dia dalam kondisi yang tak sadarkan diri.


Tubuh gadis itu dibaringkan di atas meja altar yang terbuat dari batu marmer putih.


Ki Dirga mendekati gadis remaja yang masih belum juga sadarkan diri. Segera Lelaki paruh baya yang masih terlihat muda dan berbadan kekar itu mengambil belati dari dalam cawan yang berisi air rendaman bunga dan darah.


Mulutnya masih terlihat komat kamit membaca mantra - mantra pemanggil junjungannya.


Tangan Ki Dirga terangkat ke atas siap menghujamkan belati tersebut ke dada gadis itu, ketika dia buah sinar putih menyambar tangan lelaki itu di iringi dengan pekik tertahan seseorang dari arah belakang.


Dua orang murid ki Dirga roboh dengan leher menganga.


Belum hilang keterkejutan ki Dirga atas semua yang terjadi, tiba-tiba saja gadis yang akan menjadi tumbal untuk junjungannya kini mendadak lenyap.


Ki Dirga menjadi geram karena seseorang telah berani mengusiknya.


" Siapa yang sudah berani mengusik seorang Ki Dirga, Apa sudah bosan hidup!! " bentaknya murka.


" Hahahaha, kaulah yang tak sadar diri, tua bangka! Ajalmu sudah dekat. Masih saja bisa berkoar - koar! " jawab sebuah suara tanpa wujud dengan nada mengejek .


" Bedebah... pengecut! Kalau berani tampakkan dirimu! Jangan bersembunyi. Takut mati, hah! "


" Baiklah... jika memang kamu tak sabar ingin melihat malaikat mautmu, bersiaplah..! "


Selesai itu, kembali dua buah sinar melesat ke arah Ki Dirga dan menyerang guru besar padepokan Pasir hitam itu dengan secepat kilat.


Ki Dirga yang memang sudah bersiap - siap langsung saja melayani serangan itu.

__ADS_1


Tubuh Ki Dirga melayang ringan dan berkelebatan di udara di kelilingi oleh dua buah sinar putih yang menyerang dirinya secara bergantian.


Duar!!!! Dua tenaga dalam saling bertubrukan. Dinding - dinding batu di ruangan bawah tanah itu bergetar. Bahkan ada beberapa bagian yang runtuh akibat getaran dari tenaga dalam mereka.


Saat bentrokan sesaat tadi, Ki Dirga tersadar bahwa lawan yang sedang dia hadapi bukanlah lawan biasa. Dan sepertinya mereka juga bukanlah sebangsa manusia.


" Kalian dari bangsa jin. Siapa kalian. Dan apa mau kalian yang menggangu ritualku?"


" Hahaha, sudah kami katakan, bahwa kami adalah malaikat mautmu, jadi bersiaplah menyambut kematianmu.! "


Ki Dirga memberi isyarat kepada salah seorang muridnya yang langsung faham apa maksud dan keinginan sang guru.


Secepat kilat, murid tersebut berlari memasuki sebuah ruangan lain dan tak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sebilah tombak berbungkus kain kuning. Murid padepokan Pasir hitam itu menyerahkan tombak tersebut kepada ki Dirga.


" Baiklah, aku akan menyambut kalian seperti keinginan kalian. Kini bersiaplah! "


Ki Dirga membuka kain kuning penutup tombak sehingga tampaklah ujung mata tombak yang berkepala tiga. Tombak itu mengeluarkan cahaya kemilau berwarna kuning keemasan.


Wajah Ki Dirga sedikit terkejut saat melihat dengan siapa kini dia sedang berhadapan.


Rupanya, kedua cahaya putih itu adalah perwujudan dari dua orang jin muslim yang berwujud seekor Harimau raksasa dan seekor gorrila raksasa.


Ki Dirga segera berkonsentrasi dan mengeluarkan segenap kemampuannya. Kini bukan lagi wadalnya yang bergerak, akan tetapi sukma ki Dirga yang berwujud harimau hitamlah yang bergerak maju menghadapi kedua jelmaan jin muslim itu.


Kedua cahaya putih yang merupakan perwujudan dari jin muslim itu kembali menyerang lelaki yang merupakan orang nomor satu di padepokan itu.


Pertempuran ghaib pun tak terelakkan. Kini dengan keadaan semakin menegangkan. Beberapa murid padepokan Pasir hitam yang juga mempunyai kemampuan ilmu kanuragan tak tinggal diam. Mereka juga turun tangan membantu sang guru.


Orang awam yang melihat semua itu mungkin hanya bisa melihat kilatan cahaya saja yang saling menyerang satu sama lain.


Tubuh Ki Dirga terpental beberapa jajar dan mengeluarkan darah segar dari mulut nya. Demikian juga halnya akan nasib beberapa orang pengikutnya. Mereka semuanya terkapar tak berdaya dengan mulut mengeluarkan darah segar.


" BEDEBAH.... tampakkan wujudmu, kalian berdua adalah jin keparat pengganggu orang...! "


Sinar putih itu kemudian menjelma menjadi dua orang lelaki yang tampan. Keduanya berdiri menatap ke arah Ki Dirga dan muridnya.


Namun itu hanya sekejap saja. Kedua lelaki tampan itu kemudian kembali muncul dengan wujud asli mereka yaitu sesosok harimau dan gorila raksasa dengan mahkota di kepalanya.


" Kalian.... apakah kalian adalah penguasa dari Bukit Malaikat? " Ki Dirga teringat akan cerita dari beberapa orang bahwa Bukit Malaikat memiliki sesosok penguasa ghaib yang bernama Pangeran Hasyeem yang wujud aslinya adalah sosok gorila raksasa dengan mahkota di atas kepalanya.


" Baguslah... jika kau mengenali Malaikat mautmu, jadi kau dan murid - muridmu semua tak mati penasaran." bentak harimau itu dengan suara keras.


" Bah.... kau pikir kami takut dengan dua orang jin macam kalian! Hayo... maju kalian. Kami akan hadapi kalian semua!"


Setelah itu, seluruh murid ki Dirga yang hadir di ruangan itu duduk membentuk lingkaran dan kemudian mereka membaca sebuah mantra.


Tak lama berselang, sebuah kedua lelaki jelmaan jin itu sudah dikelilingi oleh api yang mengelilingi keduanya. Api itu semakin lama semakin tinggi hingga menutupi keduanya dan kini mulai menjilati keduanya.


Pangeran Hasyeem mengeluarkan pedang Halilintar miliknya dan membabatkan pedangnya ke arah api yang mengelilingi dirinya dan Ammar. Luar biasa kekuatan pedang Halilintar miliknya hingga dalam sekejab api yang mengelilingi keduanya padam seketika.


Tubuh semua murid padepokan Pasir hitam yang tadi duduk mengelilingi keduanya, kini terkapar tak berdaya. Kekuatan mereka tak bisa menandingi kekuatan pedang Halilintar milik Sang Pangeran.


" Hmm.... kini terimalah kematian kalian semua. Kalian lebih baik dimusnahkan dari pada berbuat kemusyrikan dan kemungkaran di atas dunia ini." Setelah berkata demikian, Pangeran Hasyeem kembali membabatkan pedangnya hingga semua murid padepokan Pasir hitam yang ada di ruangan itu tewas dengan tubuh bersimbah darah.


Melihat semua muridnya telah tewas, Ki Dirga semakin murka. Dia kembali berkonsentrasi untuk merapalkan ajian yang dimilikinya.


Tubuh lelaki itu kemudian berubah wujud menjadi seekor Harimau hitam yang sangat besar. Kemudian dengan sekali gebrakan, harimau hitam raksasa itu menyerang pangeran Hasyeem dan Ammar.

__ADS_1


Pangeran Hasyeem dan Ammar tak tinggal diam. Mereka berdua dengan senang hati meladeni serangan-serangan yang dilancarkan oleh Ki Dirga.


Kembali pertempuran sengit terjadi. Ki Dirga mengeluarkan segenap kemampuan dan ilmu- ilmu andalannya untuk menghadapi kedua manusia jelmaan jin yang memiliki kemampuan pilih tanding itu.


Namun, tetap saja dia tak mampu melawan keduanya. Sampai suatu ketika Harimau hitam raksasa perwujudan dari Ki Dirga, ambruk bersamaan juga dengan robohnya tubuh Ki Dirga ke bumi dengan luka dalam yang sangat parah.


Kedua sinar putih itu kemudian melesat pergi begitu saja meninggalkan tubuh Ki Dirga yang sekarat meregang nyawa.


...---...


Sementara itu, di kediaman Ki Anom, seorang gadis baru saja tersadar dari pingsan. Sudah berhari-hari gadis itu tak sadarkan diri.


" Hmm, kau sudah sadar? " suara seseorang menegurnya.


Ambika, gadis itu segera menoleh.


" Siapakah tuan ini? "


" Mereka biasa memanggilku Ki Anom! " lelaki itu menjawab sambil melesat mendekati Ambika.


Lelaki itu memeriksa luka dalam di dada gadis itu.


"Tampaknya kau sudah sembuh dari luka pukulan telapak dewa hitam. Aku sarankan kau harus banyak bersemedi untuk mengembalikan kekuatanmu. "


" Terima kasih sudah menolongku, Ki Anom.! Aku harus segera kembali. Karena aku yakin kedua orang tuaku pasti kebingungan mencariku! "


" Aku sudah memberitahu mereka tentang dirimu, putri Ambika! "


" Kau tahu siapa diriku, ki? "


" Tentu saja aku mengenalmu. Tak ada lagi gadis di negeri ini yang memiliki tanda harimau di bahunya selain putri dari raja Siluman Harimau Putih dari hutan Tabut. Lagi pula keberadaan harimau putih yang mengantarmu kemari sudah menjelaskan siapa dirimu." jawab Ki Anom bijak.


" Hmm...rupanya kau sudah sehat, sebaiknya kamu segera pulang. Ayo... aku akan mengantarmu pulang..! " sebuah suara menyela percakapan keduanya. Seorang pemuda berambut panjang hitam berdiri di tengah pintu.


" Oh.. Pangeran Azzura, kemarilah! " panggil Ki Anom pada muridnya itu.


" Salam, Ki Anom. Maaf, tapi aku harus bergegas mengantar gadis harimau ini ke tempat asalnya karena aku takut kedua orang tuanya mencemaskan dirinya."


" Kalau begitu silahkan pangeran! " jawab Ki Anom.


" Ayo, Ambika. Aku akan mengantarmu pulang! " ajak Pangeran Azzura.


Ambika hanya menurut saja ketika pemuda itu menarik tangannya dan kemudian keduanya lenyap dari hadapan Ki Anom.


Putri Ambika terkejut, karena pemuda berdarah campuran jin dan manusia ini ternyata juga memiliki kemampuan untuk menghilang.


" Ambika..! " Sebuah suara berat menyapa keduanya sesaat kedua baru saja menginjakkan kakinya di depan sebuah istana. Itulah istana siluman Harimau Putih, istana ayah putri Ambika.


" Sangkala.. ! apa yang kamu lakukan disini? "


" Aku mencarimu..! Kemana saja kamu beberapa hari ini? " Sangkala menatap ke arah Pangeran Azzura. Ada kecemburuan yang terpancar jelas di mata pemuda itu ketika melihat kedatangan Putri Ambika bersama pemuda berambut panjang hitam itu.


" Bukan urusanmu...! Minggir.. aku mau bertemu ayahku! " Putri cantik itu menerobos masuk ke dalam istana ayahnya sambil menarik tangan Pangeran Azzura, meninggalkan Sangkala yang masih betah berdiri menatap kepergian Putri Ambika.


"Huhhh, siapa pemuda itu. Mengapa Ambika terlihat sangat perhatian sekali padanya? " Sangkala menatap Putri Ambika dan Pangeran Azzura dari kejauhan dengan hati kesal.


" Ambika, kau milikku. Aku tak akan membiarkan seorang pun merebutmu dari tanganku! "

__ADS_1


__ADS_2