Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 54 Touring Ke Parangtritis


__ADS_3

Pangeran Hasyeem tersenyum sambil menyeringai.


" hm, menarik. Rupanya murid penguasa hutan larangan sudah kembali. " Katanya.


Asmi memandangi wajah tampan kekasihnya.


" Siapa? " tanyanya heran


" bukan siapa-siapa. Hanya seseorang dari masa lalu saja. " jawabnya


" Masih mau pergi keluar ? " tanya sang pangeran Jin.


Asmi mengangguk tanda dia masih berniat untuk keluar malam ini walaupun beberapa saat yang lalu ada insiden kecil yang kurang menyenangkan


Hasyeem pun membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Dia ingin menepati janjinya untuk membawa Asmi keluar malam ini untuk menikmati pemandangan di kota pada waktu malam hari.


Walaupun tadi ada gangguan sedikit karena mendapat ' kiriman' dari Nyi Darsih, murid dari Penguasa Hutan Larangan. Namun, itu tak membuat Asmi dan Hasyeem kehilangan mood mereka untuk bersenang-senang.


Hasyeem kini sudah mendekap dan memeluk tubuh Asmi dengan erat dan membawa wanita bertubuh sintal itu terbang ke angkasa menembus kegelapan malam.


" Wow, indah sekali pemandangan di bawah sana kalau di lihat dari sini! " seru Asmi yang melihat kebawah dari ketinggian di atas awan.


Asmi berasa kencan dengan Superman. Dia ingat sewaktu Clark Kent membawa Lana terbang ke langit untuk berkencan.


Pemandangan lampu kota dan jalanan seperti karpet hitam yang bertabur permata. Sangat indah dan menakjubkan. Bahkan dinginnya udara malam tak terasa lagi oleh Asmi karena hangat pelukan Hasyeem membuatnya nyaman.


" Hasyeem, aku mau melihat taman kota. Ayo bawa aku ke sana! " pintanya manja pada Hasyeem. Hasyeem mengangguk lalu melesat terbang ke arah taman kota membawa Asmi.


" Wahhhh, indahnya di sini.! " kata Asmi yang takjub melihat pemandangan di taman ini dari atas.


" Ayo, kita turun ke bawah, sayang! " ajak Hasyeem pada Asmi.


" Nggak, aku maunya lihat dari sini saja. Kalau lihat dari bawah sudah sering. Aku mau lihat dari sini! " rengeknya.


Hasyeem menghela nafas. Begini sudah kalau Asmi sedang kumat manjanya. Semua maunya harus di turuti, kalo tidak dia akan ngambek sepanjang hari.


" Baiklah, tunggu sebentar! " kata Hasyeem. Dia lalu mengeluarkan sebuah karpet kecil seukuran sajadah besar. Setelah dapat dia berseru senang.


" Nah.... ini dia ! pakai karpet ini saja..! sayang, duduklah di sini !" Dia lalu membentang karpet dan menyuruh Asmi untuk duduk di sana.


Keduanya duduk di atas karpet yang melayang- layang di atas ketinggian beberapa puluh meter di atas taman itu. Asmi duduk di pangkuan pangeran Hasyeem sambil menikmati panorama taman sampai akhirnya dia lelah dan mengantuk. Dia tertidur dalam dekapan hangat tubuh sang Pangeran.

__ADS_1


Pangeran Hasyeem kemudian terbang dengan karpet itu membawa tubuh Asmi ke istananya di bukit Malaikat.


Sesampainya di sana Pangeran tampan itu menggendong tubuh Asmi dan membawa wanita itu ke dalam bilik peraduannya.


Di rebahkannya tubuh Asmi di pembaringannya, lalu setelah itu dia pun tidur di samping Asmi dengan posisi memeluk tubuh wanita itu dengan posesif. Hasrat dalam dirinya bergejolak saat menyentuh tubuh kekasihnya.


" akhh, kamu sungguh membuatku bergairah. hmm, tunggu lah sebentar lagi. Aku akan menghalalkan tubuh ini untukku! " bisiknya.


Lalu dia memejamkan matanya berharap gairahnya pada Asmi akan padam dengan tertidur. Asmi, akh... desahnya.


...---...


Sesuai dengan janjinya pada Nadia, Asmi menyanggupi mengantar dan menemani keponakannya itu ikut acara Touring yang di adakan oleh pihak sekolah.


Tour akan di ikuti oleh seluruh siswa-siswi taman kanak-kanak Tunas Mekar itu beserta orang tua siswa atau wali murid yang mendampingi.


Agenda kegiatan tour adalah darmawisata ke pantai Parang tritis. Pantai yang terkenal dengan keindahan sunset nya itu di pilih karena alasan lokasinya yang berada tidak terlalu jauh dari kota mereka.


Awalnya Hasyeem keberatan jika Asmi harus menemani sang keponakan pergi touring. Dia masih belum bisa mengungkapkan siapa pelaku yang beberapa waktu yang lalu menabrak sang kekasih.


Yang dia cemaskan adalah jika saja pelaku adalah salah satu keluarga dari siswa-siswi Tk itu, tentulah akan mudah bagi mereka untuk mencelakakan Asmi.


Namun, bukan Asmi namanya jika tidak berhasil membujuk sang kekasih posesifnya. Dia meyakinkan pada sang kekasih, bahwa dia akan baik- baik saja. Dan bukankah Hasyeem bisa mengikutinya kemana saja, apalagi yang harus dia takutkan?, jawab wanita itu untuk meyakinkan sang Pangeran.


" Sayang, kamu hati-hati, ya. Jaga diri dan pandanganmu! " kata Pangeran Hasyeem sambil memeluk Asmi dengan mesra.


" Iya, aku bisa kok jaga diri. Tapi jaga pandangan itu sulit, sayang. Hmm, banyak sekali lelaki tampan di luar sana. lumayan buat cuci mata, hehehe! " goda Asmi pada Sang pangeran.


" akan ku bunuh semua lelaki yang kau sukai.! " ucapnya dingin.


" Hah, segitu parahnya rasa cemburumu, sayang. Hadeuh,.. aku cuma becanda sayang. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta lagi. Hatiku sudah kamu ambil semua. " kata Asmi sambil memberi kecupan kecil di pipi kekasihnya yang sedang ngambek. ( bisa juga pangeran Hasyeem ngambek).


" Tapi mereka nyata dan bisa terlihat oleh bangsamu, sedangkan aku, aku hanya bisa terlihat olehmu dan beberapa orang saja yang aku mau. " kata Hasyeem dengan sedih.


" Biar saja, Itu lebih baik. Agar kamu tidak bisa di rebut oleh wanita lain. Hanya aku saja yang boleh memiliki wajah tampan ini. " kata Asmi.


Pangeran Hasyeem menatap Asmi. Ada cinta dan tatapan memuja yang dia lihat di mata wanita itu untuknya, membuat pangeran Hasyeem merasa bahagia.


" Baiklah, kau bisa pergi sekarang. Aku akan ikut bersamamu, bagaimana sayang? " tanyanya.


" Itu lebih baik lagi. Ayo kita pergi. Nadia pasti sudah menunggu kita! " kata Asmi seraya menggandeng lengan lelaki itu.

__ADS_1


Hasyeem berjalan di sisi wanita itu yang kini sedang menutup pintu rumahnya.


Tadi malam memang dia tidur di rumah Asmi. Dia tidur di samping wanita itu, menjaga dan memeluk tubuhnya dengan posesif hingga pagi menjelang. Dia tak ingin ada kejadian lagi wanitanya menghilang di bawa kabur oleh murid penguasa Hutan Larangan. Apalagi sekarang dia tahu, wanita itu sudah kembali. Maka jangan di tanya lagi, sifat posesif sang pangeran semakin menjadi- jadi.


" Tante Asmi!! " jerit Nadia saat melihat sang Tante muncul di depan rumahnya.


" princessnya tante sudah siap, kah? " tanya Asmi.


" Sudah, sudah dari tadi, tante. Tante koq lama. Nanti kita telat loh. " katanya cemberut.


" Nggak dong. Kan bisnya berangkat jam 07.30. Nah, ini baru pukul 07.00 kurang. Kita masih ada waktu." jawab Asmi.


" iya kah, tante? " gadis itu mengambil tas yang berisi bekal yang sudah di siapkan oleh sang Bunda.


" ini bekal dari bunda. " katanya seraya menyerahkan tas itu pada Asmi.


" oke, sini. Nadia pamit dulu pada bunda!" kata Asmi pada Nadia. Dia menggantungkan tas Nadia di motornya.


Gadis kecil itu berpamitan pada Sang bunda dan kembali lagi pada Sang tante bersama sang bunda.


" Mbak pergi dulu, Mir." kata Asmi pada Mirna adiknya.


" Iya, mbak. Hati-hati! " balas sang adik.


Asmi menjalankan motornya ke sekolah. Sampai di sana dia lalu memarkirkan motornya dan bergegas menyusul Nadia yang sudah lebih dahulu memasuki bus bersama Diva yang baru saja tiba bersama sang kakek.


" Hai, kamu pasti Diva, ya.? Sini duduknya sama Nadia saja.! " ajak Asmi. Gadis kecil itu menatap Asmi lalu beralih pada Nadia.


" Kata kakek aku tidak boleh jauh dari bi Rumi." jawabnya pelan.


" Bi Rumi? siapa Bi Rumi? " tanyt Asmi


" Bi Rumi itu pengasuhnya Diva, tante! " jawab Nadia.


" Oh, begitu. Ya udah, Diva sama pengasuhnya saja kalo begitu. " kata Asmi. Gadis kecil itu berjalan ke depan dan duduk di samping seorang wanita paruh baya yang memakai kerudung hitam.


Asmi dan Nadia memilih duduk di barisan belakang bus. Pukul 07.30, rombongan itu mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman sekolah.


Sementara itu, dari kejauhan sebuah mobil mewah juga bergerak perlahan mengikuti bus yang Asmi tumpangi.


" Pak Han. Awasi terus wanita itu! " kata seseorang yang duduk di belakang jok mobil mewah itu.

__ADS_1


" Baik, Tuan! " kata lelaki yang di panggil Pak Han itu seraya terus menjalankan mobilnya mengikuti bus dari belakang.


__ADS_2