Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 158 Perjanjian Ghaib ( Part 1)


__ADS_3

" Jauhi dia! " ancam makhluk itu sebelum menghilang dari hadapan Arryan.


Kening Arryan terangkat. " Apa maksudnya dengan berkata ' Jauhi dia'? siapa yang harus dia jauhi? " tanyanya pada diri sendiri.


" Heukkk....! " kembali Arryan memuntahkan isi perutnya karena tak tahan dengan bau anyir makhluk itu.


" Arry...benaran kamu nggak papa? "


Keanan merasa cemas mendengar suara Arryan.


Arryan membuka pintu dan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat. Keanan yang melihat hal itu makin diliputi kecemasan.


" Are you, okay? " Arryan mengangguk lemah. " Aku nggak papa, kak. Sepertinya aku sedang tak enak badan. Mungkin masuk angin. Kak, kurasa sebaiknya aku pulang saja." Arryan merasa seluruh tubuhnya lemas. Sial.... makhluk itu telah menyedot energinya.


Arryan harus segera menyingkir dari tempat ini. Lama-lama jika berada di sini, dia bisa kehilangan seluruh energinya tanpa bisa melakukan perlawanan, karena sibuk melindungi jati dirinya.


Keanan meraih pergelangan tangan Arryan dan membimbing gadis itu ke ruang keluarga. " Mah, Keanan minta izin mau mengantar Arry pulang dulu. Sepertinya Arry sedang nggak enak badan." Mama dan papa Keanan sepertinya terkejut mendengar perkataan Keanan. Mama Keanan langsung berdiri menghampiri Arryan yang sedang di gandeng Keanan.


" Kamu sakit apa, sayang? " tangan mama Keanan memegang dahi Arryan. "Astaga.... badan kamu panas sekali. Kamu demam, sayang. Keanan, cepat antarkan Arryan ke rumah sakit sekarang juga ! " titahnya sambil menarik tangan Keanan.


" Nggak usah, tante. Aku nggak apa - apa, kok. istirahat sebentar juga, demamnya pasti hilang. Paling juga masuk angin." tolak Arryan halus.


" Tapi, sayang... " ada raut cemas di wajah mama Keanan.


" Benaran, kok tante. Aku nggak papa. Aku pamit ppulang dulu, ya tante, om. " Arryan mencium tangan mama dan papa Keanan lalu pamit pulang diantar oleh Keanan.


Sesampainya di tempat kos, Arryan langsung masuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Keanan yang mengantarkan gadis itu hingga sampai ke depan kamar, merasa heran dan cemas.


"Arry.... apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja. Sumpah... aku cemas banget melihat kamu begini.. "


" Aku tak apa - a..... "


Brakkk..!! pintu kamar Arryan mendadak tertutup dengan sendirinya. Arryan dan Keanan menatap ke arah pintu dengan pandangan heran. Makhluk itu, .... makhluk itu sekarang berada di sini. Mata Arryan yang memang bisa melihat keberadaan makhluk ghaib, dapat melihat dengan jelas kehadiran makhluk yang dilihatnya di rumah Keanan. Cepat Arryan melangkah ke arah pintu.


" Kak Keanan, kakak pulang aja sekarang aku mau istirahat saja. Makasih, ya. Sudah nganterin aku pulang. " Keanan mengangguk patuh dan kemudian berlalu dari rumah Arryan walaupun hatinya diliputi oleh perasaan heran. Sikap Arryan hari ini sangat berbeda. Apa karena dia sudah menyatakan cintanya pada gadis itu, hingga gadis itu sekarang menjaga jarak dengannya. Apa yang membuat Arryan menolaknya, sampai sekarang hal itu masih menjadi pertanyaan bagi Keanan. Namun, dia tak akan menyerah. Dia akan berjuang untuk mendapatkan cinta gadis itu.


Sepeninggal Keanan, Arryan duduk bersila mengembalikan energinya yang tadi sempat terkuras oleh keberadaan makhluk itu. Makhluk itu masih berdiam diri di depan kamar Arryan, diam tak bergeming.


" Dinda, tampaknya ada makhluk jelmaan iblis haus darah sedang mengincarmu. Jangan lengah, makhluk itu bisa menyerangmu kapan saja! " kata Azzura yang kini juga sudah berada di sebelah Arryan.


" Iya, kanda. Aku juga tadi sempat melihatnya di rumah Keanan. Dia hampir menyedot habis energiku."


Azzura dan Arryan kini bersiap - bersiap menghadapi serangan makhluk itu. Makhluk itu masih saja diam seperti sedang menunggu sesuatu. Kedua kakak beradik itu menjadi heran. Apa yang ditunggu oleh makhluk itu.


Sore hari berganti malam, makhluk itu masih saja betah berdiam diri dan hanya memandang ke arah mereka.


" Kanda, kita serang saja makhluk itu sekarang. "

__ADS_1


" Jangan di sini, dinda. Bisa repot urusannya kalau kita buat keributan di sini. Bisa - bisa kita ketahuan. Bagaimana kalau kita pancing dia ke tempat asalnya."


" Aku setuju, dinda. Ayo kita pergi...! "


Keduanya kemudian melesat pergi meninggalkan kamar Arryan. Melihat buruannya pergi, makhluk itu ikut juga pergi menyusul keduanya.


" Kamu yakin makhluk itu berasal dari sini ? " tanya Azzura sesampainya mereka di depan rumah Keanan.


" Iya, pertama kali aku melihatnya sedang merayap menuruni tangga dari lantai atas. "


Baru saja mereka hendak memasuki halaman rumah Keanan, makhluk itu sudah menyerang mereka dengan buas. Hampir saja Azzura yang berada di depan terkena semburan air liur makhluk itu.


" Hati - hati, dinda. Air liur makhluk itu sepertinya beracun. Lihatlah tanah itu..! " Arryan bergidik ngeri saat melihat rumput di depannya mengering dan berubah menjadi hitam akibat terkena air liur dari makhluk itu.


Sigap Arryan menarik pedangnya saat melihat makhluk itu sudah bersiap untuk menyerang mereka kembali.


" Siap - siap, dinda. Makhluk itu ingin menyerang kita...! " Azzura menghunus pedangnya siap menyambut serangan makhluk itu.


Makhluk itu semakin beringas saat serangannya gagal. Kedua manusia setengah jin yang berada di hadapannya ternyata bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng. Terlebih saat pedang mereka berhasil menggores tubuhnya.


Darah berwarna hitam pekat bercampur bau hanyir yang menyengat mengucur melalui luka akibat sabetan pedang Arryan dan Azzura.


Makhluk itu menggeram marah. " Mengapa bau sekali..? Aku tak tahan, kanda! " seru Arryan .


" Minggir, dinda.! Biar aku saja yang menghadapinya..! " Selesai berkata demikian, Azzura kembali membabatkan pedangnya ke arah makhluk itu.


Merasa tak bisa melawan keduanya, makhluk itu memutuskan untuk mundur.


" Kanda, makhluk itu sepertinya kewalahan menghadapi kita. Hayo hajar terus, Kanda. Jangan beri ampun! " sorak Arryan kegirangan. Untung saja mereka bertempur di alam ghaib. Jika saja mereka bertempur di dunia nyata, maka suasana akan menjadi heboh. Bisa - bisa pertarungan mereka akan menjadi sebuah atraksi yang menarik.


Azzura kembali menyerang makhluk jelmaan Iblis itu yang tampaknya sudah mulai kehabisan tenaga.


Hingga pada suatu ketika, Azzura berhasil mengunci serangan makhluk itu dan berniat akan menghabisinya. Namun, dia kalah cepat dengan makhluk itu. Sebelum Azzura menegaskan pedangnya, makhluk itu mengibaskan ekornya ke arah pedang Azzura sehingga pedang pemuda itu terlempar dan jatuh menancap di tanah.


Kesempatan ini digunakan oleh makhluk itu untuk melepaskan diri dari kuncian Azzura dan lari menyelamatkan diri.


Arryan dan Azzura berniat untuk mengejar makhluk itu ketika sebuah sinar terang muncul di hadapan mereka dan menahan mereka.


" Tahan...! " seru sebuah suara. Keduanya berpaling dan mendapati seorang kakek tua yang berjenggot putih sedang berdiri di hadapan keduanya. Arryan langsung mengenali siapa kakek tua berjanggut putih itu.


" Kanda, Itu adalah eyang Hadi Wijaya, kakek buyutnya Keanan. Tapi, apa maksudnya menghalangi kita untuk mengejar makhluk itu, ya? "


" Assalamu'alaikum, wahai pangeran dan putri dari Pangeran Hasyeem! " Kedua kakak beradik itu saling pandang.


" Wa'alaikum salam !" jawab keduanya. " Maaf bertanya, tapi bagaimana bisa anda mengetahui jati diri kami berdua? " tanya Azzura keheranan.


" Namaku adalah Eyang Hadi Wijaya. Aku adalah kakek buyut Keanan . Tentu saja aku mengenal kalian sebagai anak dari pangeran Hasyeem, karena ayah kalianlah yang telah membebaskan aku dari jeratan perjanjian ghaib dengan penguasa Hutan Alas Purwo, Dewi Sekar Wulan"

__ADS_1


" Oh, jadi Eyang mengenal ayah kami. Maafkan kami yang tak punya sopan santun ini, Eyang. Tapi apa boleh kami tahu, mengapa Eyang Hadi Wijaya menghalangi kami untuk mengejar makhluk itu."


" Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya. Tapi.. aku tak ingin kalian mencelakai anak cucuku."


Keduanya kembali saling berpandangan. " Anak cucuku? " Apa mungkin makhluk jelmaan Iblis tadi adalah keturunan dari salah satu keluarga Hadi Wijaya?


" Benar... memang makhluk jelmaan tadi adalah salah satu keturunan keluarga Hadi Wijaya. " kata Eyang Wijaya seperti mengetahui apa yang di pikirkan oleh keduanya.


" Sebenarnya ini adalah dosaku yang harus dipikul oleh anak turunanku." katanya dengan raut wajah sedih. Ada air mata yang mengalir di sudut mata Eyang buyut Keanan itu.


" Dosa?? maksud Eyang dosa apa? " tanya Arryan. Dia menjadi penasaran dosa apa yang telah dilakukan oleh kakek buyut Keanan itu di masa lalu hingga membuat anak cucunya yang harus menanggung akibat dari perbuatannya.


Mata Eyang Hadi Wijaya menerawang jauh. Ada kesedihan dan penyesalan yang tergambar di wajah keriput miliknya yang tak mampu dia sembunyikan dari kedua mata anak Pangeran Hasyeem.


Flash Back ke masa lalu


" Kang Hadi, apa kamu nggak punya niat untuk merubah hidup kita. Masak sudah bertahun-tahun kita hidup, begini - begini terus, kang. Aku juga pengen koyo wong liya, hidup senang, punya banyak harta. Lah.. kowe... buat makan aja susah, kang." Lelaki yang bernama Hadi itu menghela nafas panjang. Sudah sering kali dia mendengar rengekan dari Widarti istrinya, yang selalu mengeluhkan hidup mereka yang serba susah.


Dia tak bisa menyalahkan Widarti. istrinya itu memang terlahir dari keluarga ningrat dan berada. Nasib keberuntungan mungkin sedang berpihak padanya.


Widarti, putri kedua keluarga Bangun Sujiwo jatuh hati pada seorang pemuda yang bernama Hadi Wijaya, yang bukan berasal dari Keluarga ningrat dan berada.


Meskipun mendapat tantangan keras dari Romonya dan seluruh keluarga Bangun Sujiwo, namun Widarti bersikeras dan ngotot ingin menikah dengan pemuda itu. Hadi Wijaya kala itu hanyalah bekerja sebagai kusir keluarga Bangun Sujiwo.


Rupanya cinta mengalahkan segalanya. Cinta Widarti menang. Mereka akhirnya menikah dan di karuniai dua orang putra. Hutama Hadi Wijaya dan Barata Putra Wijaya. Kedua anak mereka tumbuh sehat dan gagah.


Namun sayangnya, walaupun beristrikan keluarga bangsawan, tetapi kemiskinan masih saja terus membelit keluarga Hadi Wijaya


Hinaan dan ejekan dari keluarga sang istri puas pula dia terima. Tak terkecuali juga sang istri yang turut merasakan hal tersebut. Rupanya hinaan dan ejekan dari keluarga sang istri membuat seorang Hadi Wijaya menjadi dendam dan gelap mata. Dia tak Terima harga dirinya sebagai suami dan kepala keluarga diinjak-injak oleh keluarga besar Bangun Sujiwo.


Sampai pada suatu hari. Widarti tak menjumpai suami tercintanya di rumah sepulangnya wanita itu dari sawah. Memang suaminya tadi pagi itu pamitnya mau ke kampung sebelah.


Namun sampai pada malam hari, suaminya itu belum juga kembali ke rumah. Wanita itu menjadi heran dan cemas. Kemana perginya sang suami.


Seminggu sudah sejak kepergian Hadi Wijaya yang pamit mau pergi ke kampung sebelah. Widarti juga sudah pergi ke kampung sebelah untuk menyusul sang suami. Namun hasilnya, dia tak menjumpai suaminya itu di sana.


Menurut kabar dari orang kampung yang pernah berjumpa, suaminya itu pergi ke Hutan Alas Purwo. Hutan larangan yang terletak di desa Purwa Lingga. Widarti menjadi resah. Untuk apa suaminya pergi ke Hutan Alas Purwo. Bukankah Hutan itu terkenal angker. Jarang sekali ada manusia yang bisa keluar hidup - hidup setelah memasuki hutan tersebut.


Berhari - hari Widarti menunggu kabar kepulangan sang Suami dengan cemas. Namun tak ada tanda - tanda akan kemunculan sang suami.


Tiga tahun berlalu, namun suaminya itu tak kunjung kembali. Tak juga ada kabar berita yang menyatakan tentang keberadaan sang Suami. Suaminya bagai raib di telan bumi.


Widarti masih setia menunggu kedatangan suaminya. Sampai akhirnya dia lelah dan berhenti berharap. Dia sudah mengikhlaskan suaminya itu. Anggapannya, barangkali saja suaminya itu sudah meninggal dunia.


Hingga pada suatu hari,.....


" Widarti...! "

__ADS_1


__ADS_2