
__ADS_3
Pangeran Hasyeem benar-benar tak dapat lagi menguasai emosi dan dirinya. Dia mengamuk dan membabat habis semua yang menghalangi jalannya.
" Pangeran Hasyeem, jika kamu tidak menghentikan semua ini, maka aku akan segera memerintahkan semua pengawal untuk mencari dan menangkap wanita yang kau cintai itu dan menghabisinya agar selamanya kamu tidak akan bisa lagi bertemu dengannya.! " sebuah suara yang mengandung tenaga dalam tinggi terdengar sampai ke telinga pangeran Hasyeem.
Pangeran berparas tampan yang sedang mengamuk membantai habis para pengawal raja Haizzar yang terus - menerus berdatangan untuk menangkapnya, mau tak mau harus menyerah dan menghentikan perlawanannya. Pangeran yang tampan itu hanya bisa pasrah ketika para pengawal ayahandanya membawanya kembali ke istana Raja Haizzar di gunung Kahyangan.
Sesampainya di istana, Pangeran Hasyeem di kurung dalam kamar pribadinya dan di jaga ketat oleh puluhan pengawal raja Haizzar yang setia. Pangeran muda berwajah tampan itu hanya bisa marah dan berontak tanpa berdaya untuk menghadapi ancaman ayahandanya.
Sementara itu, putri Bilqis yang mendengar kejadian yang menghebohkan seantero gunung Kahyangan itu, segera pergi untuk menemui ayahandanya.
Namun, ayahandanya yang masih di kuasai emosi, juga memerintahkan kepada pengawalnya untuk menahan dan juga mengurung putri Bilqis di kamarnya juga dengan penjagaan yang ketat sama halnya dengan nasib pangeran Hasyeem.
"Yang Mulia, anda sudah berlaku tidak adil padaku dan kanda! " kata putri Bilqis pada Raja Haizzar, ayahandanya.
" Kamu sama saja dengan kakandamu, kalian berdua bersekongkol untuk menggagalkan rencana pertunangan kakandamu dengan putri Azylla.! " bentak Raja Haizzar marah.
" Kanda Hasyeem tidak pernah mencintai putri Azylla. Dia hanya menganggapnya sebagai adik. Bagaimana mungkin dia bisa menikahinya." bela putri Bilqis.
" Kenapa kamu juga menjadi pembangkang? apakah kamu mau ku jebloskan dalam penjara, hah? " ancam Raja Haizzar pada putri Bilqis.
Bukannya takut, putri Bilqis malahan menantang sang ayahanda.
" silahkan , Yang Mulia. Silakan jebloskan saya ke penjara, jika itu bisa membuat Anda senang dan puas. Tapi tetap saja itu tidak mengubah pandangan saya bahwa yang Anda lakukan adalah salah.! " jawab putri Bilqis mantap.
Raja Haizzar terdiam mendengar ucapan putri Bilqis. Putri bungsu kesayangannya ini memang terkenal akan kecerdasan dan kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak. Pemahamannya terhadap suatu masalah dan cara dia menyelesaikannya sering membuat para tetua dari bangsa mereka terkagum-kagum.
Namun kali ini, Raja Haizzar sedang tidak ingin di debat. Maka dengan wajah merah padam menahan amarah dia pergi meninggalkan kamar tempat putri Bilqis di kurung. Hatinya benar-benar kesal.
Sementara itu sang istri ratu Kalina, tampak berpikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di istana ini. Suami dan anak-anaknya bersitegang karena seseorang wanita dari bangsa manusia. Rasa penasaran di hatinya , ingin tahu seperti apa sosok wanita pujaan hati anaknya yang sudah membuat seorang pangeran Hasyeem berani melawan perintah sang ayahanda.
__ADS_1
...----...
Lain tempat dan lain waktu. Di dunia manusia, semua berjalan normal. Asmi melewati hari - harinya sama seperti kemarin. Pagi hari ke sekolah, mengantar dan menjemput nadia. Lalu kembali lagi ke toko.
Hari ini, setelah menjemput Nadia di sekolah Asmi langsung mengantar keponakannya itu pulang ke rumah. Baru saja Asmi memarkirkan motor Mirna yang dia gunakan untuk mengantar jemput Nadia, dari dalam rumah dia mendengar suara Nadia yang berteriak minta tolong.
Bergegas Asmi lari menerobos masuk ke dalam rumah Mirna dan mendapati adiknya itu sedang duduk di samping lemari pendingin di dekat dapur. Dari sela-sela betis Mirna mengalir darah segar.
Rupanya adiknya itu sudah tiba waktunya untuk melahirkan, sedang suami Mirna tidak berada di rumah. Suaminya sedang berada di pasar menjaga toko mereka yang satu lagi. Karena memanglah Mirna mempunyai sebuah toko sembako lagi yang di pegang oleh suaminya.
Asmi segera menelpon suami Mirna. Dia mengabarkan bahwa Mirna sudah mau melahirkan. Afdal, suami Mirna yang mendengar hal itu, buru - buru menutup tokonya dan segera pulang untuk menemui sang istri.
Sementara itu, Asmi sudah ke sana ke mari mencari bantuan tetangga terdekat untuk membawa Mirna ke rumah sakit.
Beberapa tetangga mereka segera memberikan bantuan. Bahkan ada di antara mereka yang menawarkan diri untuk mengantarkan ke rumah sakit.
Afdal, suami Mirna datang menyusul ke rumah sakit setelah memperoleh informasi dari tetangga mereka bahwa istrinya sudah di antar ke rumah sakit bersama Nadia dan Asmi.
Afdal segera masuk ke ruang bersalin untuk mendampingi Sang istri yang merengek minta di temani. Benar saja, tak berapa lama kemudian terdengar tangisan bayi dari ruang bersalin. Bayi Mirna telah lahir. Semua menarik nafas lega. Karena Mirna dan bayinya lahir dengan selamat.
" Selamat, ya Pak. Bayinya laki-laki sehat dan ganteng.! " kata bidan bersalin yang kemudian menyerahkan bayi mungil yang masih merah itu untuk di azankan oleh sang ayah.
Dengan penuh haru, Afdal membisikan azan di telinga putranya. Hatinya penuh dengan rasa bangga dan bahagia. Putra yang di mimpi - mimpikan telah lahir.
Selesai mengazankan putranya, Afdal segera menemui sang istri yang tampak kelelahan setelah melahirkan. Dia mengecup dahi perempuan itu penuh kasih.
" Terima kasih, sayang. Karena melahirkan putra yang sehat untukku. Aku bangga padamu.! " bisiknya lembut di telinga istrinya.
Mirna tersenyum malu-malu karena bukan hanya mereka berdua di ruangan itu, tapi ada Asmi dan juga beberapa orang perawat yang tersenyum penuh arti melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
Asmi sebenarnya juga merasa iri, melihat bayi Mirna. Dia juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.
Setelah dua hari berada di rumah sakit, Mirna sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Suami Mirna kini mempekerjakan seorang ART untuk mengurus urusan rumah karena dia tak ingin Mirna kelelahan.
Apalagi semenjak habis melahirkan, istrinya itu sering begadang karena bayi mereka yang sering terbangun menangis pada malam hari dan rewel hingga terpaksa harus di gendong dan di temani.
Asmi juga untuk sementara kini tinggal di rumah Mirna. Karena repot jika harus bolak - balik antara rumahnya, rumah Mirna dan toko. Jadi dia memutuskan untuk menerima tawaran Mirna yang memintanya untuk tinggal di rumahnya.
Malam ini, Asmi tidak dapat tidur. Sudah dua bulan berlalu, Asmi tidak bertemu dengan Pangeran Hasyeem. Rasa rindu di hatinya membuat dia sulit memejamkan mata.
Andai tempat Hasyeem masih di dunia manusia, mungkin dia akan membuang malunya dan pergi ke rumah lelaki itu hanya untuk bertemu.
Namun, Hasyeem bukanlah lelaki biasa. Kemana dia akan mencari lelaki itu. Bagaimana dia bisa mendatangi alam laki-laki itu, jika hanya Hasyeem yang bisa leluasa keluar masuk dalam alamnya, sedangkan dia tidak.
Sedang Asmi sibuk dengan rasa rindunya pada Hasyeem. Di tempat lain di dunia Jin, Pangeran Hasyeem juga sedang termenung membayangkan wanita kekasih hatinya. Hatinya sakit karena harus menanggung rasa rindu yang tak bisa terucapkan.
Berpisah lama dengan kekasihnya adalah hal yang tak pernah ada dalam pikirannya. Namun kini dia mengalaminya. Dua purnama berlalu dengan rasa dua dasa warsa.
Tubuh itu pun tampak lebih kurus dan pucat. Rambut dan cambangnya sudah semakin panjang tak terurus. Pangeran Hasyeem tidak pernah memperdulikan lagi dirinya. Dia tak pernah mau makan. Hanya minum beberapa teguk air saja. Makanan yang di hidangkan tak pernah di sentuh sama sekali olehnya, hingga membuat seisi istana, terlebih lagi ibunda Ratu Kalina menjadi bingung dan khawatir.
Sedang asyiknya melamun, seseorang terdengar memanggil pangeran Hasyeem.
" Kanda pangeran Hasyeem! "
Pangeran Hasyeem menoleh dan mendapati putri Azylla sedang berdiri di hadapannya.
" Ada apa kamu datang kemari. Jika kedatanganmu untuk memintaku agar meneruskan pernikahan kita. Maka aku akan katakan bahwa aku akan menikah denganmu. Tapi aku katakan, bahwa aku menikah denganmu karena perintah ayahku. bukan karena Aku mencintaimu. Seperti yang kamu ketahui, aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya menganggap kamu seperti adikku saja! " kata Pangeran Hasyeem pada putri Azylla yang terdiam tak bergeming mendengar pangeran Hasyeem berbicara.
" Aku tahu.. tapi aku datang kemari untuk membantumu? "
__ADS_1
__ADS_2