Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 47 Kebersamaan Doni dan Nazwa


__ADS_3

' " Jadi Mas merencanakan mau balikan lagi sama janda mandul itu, Iya Mas?! " bentak Ayu. Napasnya tersengal naik turun karena terbawa emosi.


" Ayu, kamu jangan asal nuduh yang bukan- bukan. Mana buktinya kalau aku mau balikan lagi sama Asmi? tanya Ilham.


Dia merutuki mulutnya yang kebablasan ngomong mau kembali lagi sama Asmi. Tentu saja Ayu yang mendengar hal itu menjadi mencak - mencak seperti kebakaran jenggot.


" Tadi aku dengar sendiri saat Mas Ilham ngomong sama Yusuf!! sergahnya. Matanya sudah mulai berkaca - kaca.


Ilham jadi salah tingkah mirip pacar yang kepergok selingkuh. Di tatapnya perempuan yang berdiri di hadapannya dengan serius.


" Mas, sebenarnya bermaksud baik. Mas Liat dek Ayu kondisinya sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk mengurus Yusuf seorang diri. Maka dari itu, Mas berinisiatif untuk mengajak Asmi balikan biar ada yang bantu ngurus Yusuf. " kata Ilham.


Astaga..... otak laki-laki ini. Masih sempat juga ngeles pake alasan sakitnya Ayu dan Yusuf buat mulusin rencananya. Benar - benar bajingan si Ilham.


Ayu menatap Ilham dengan tatapan tidak percaya. Dia yakin laki-laki yang berstatus suaminya itu pasti sedang merencanakan sesuatu.


Matanya turun menyelidik ke arah Yusuf yang berada dalam gendongan Ilham.


" Hm, apa yang sedang kamu rencanakan, Mas? " tanyanya kemudian.


Ilham hanya diam saja. Pura-pura tidak peduli dengan pertanyaan sang istri.


" Dengar, ya Mas. Aku tak setuju jika Asmi jadi maduku. Dan aku tak akan tinggal diam jika kamu mau macam - macam denganku. Ingat Mas, Aku bukan Asmi yang hanya bisa menangis dan diam jika kamu sakiti. Aku akan buat perhitungan denganmu, Mas. Awas saja... kalau kamu akan berani! " ancam Ayu pada Ilham.


Lelaki itu menelan salivanya. Tatapannya lurus ke arah wanita yang kulit tubuhnya tampak seperti sisik-sisik ular yang sedang berganti kulit.


Ayu meraih Yusuf dari gendongan Ilham dan membawa bayi mungil itu ke dalam gendongannya dan membawanya pergi dari hadapan Ilham. Dia kecewa sekali dengan sikap Ilham yang labil dan plin plan dalam menentukan pilihan.


Sementara itu, Nazwa sedang sibuk mengerjakan laporan kegiatan KKN di desa Kemang Dalu. Doni yang menemaninya di kos - kosan Nazwa tampak juga sedang asyik mengutak atik handphone miliknya untuk bermain game. Hingga suatu ketika...


" Huaaahhhhhh, lelahnya!! " Doni menguap sambil merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


" Nazwa, kamu nggak lapar.? " tanya lelaki itu kemudian. Dia melirik jam dinding yang terpajang di dinding kamar Nazwa.


" Eh, kamu lapar, ya?sebentar, aku akan buatkan makanan untuk kita, ya Don. " kata Nazwa seraya menghentikan kegiatannya dan menutup laptopnya.


Doni mengangguk dan berjalan menghampiri Nazwa. " sudah selesai mengetik laporannya? " tanya lelaki itu pada Nazwa.


" Belum, sih. Tapi kita break aja dulu. Aku juga kebetulan lagi lapar." jawab Nazwa seraya kini beranjak ingin ke dapur untuk membuatkan makanan bagi dia dan Doni.


Namun tangan Doni bergerak mencekal lengan Nazwa membuat gadis itu urung untuk lanjut bergerak.


" Kenapa? " Nazwa mendongak menatap Doni.


" Nggak usah masak. Kita pesan makanan jadi saja. "


" Huss, ngaco.Bang, wake up..! Ini kampung.Mana ada delivery food!" ucap Nazwa seraya terkekeh geli.


" Ya ampun, iya. Aku baru sadar kita lagi ada di desa." Doni menepuk jidatnya sambil tertawa.


" Boleh! kalo gitu, tunggu sebentar aku ganti baju dulu! " kata Nazwa.


Wanita itu berniat untuk berganti pakaian sebelum pergi bersama Doni, sang suami. Namun lagi - lagi Doni menahannya. Kali ini Doni menahan tubuh Nazwa agar tak bergerak lagi dan membawa tubuh wanita itu ke pelukannya.


Sungguh... dari tadi Doni setengah mati menahan hasrat di hati nya untuk tidak menyentuh Nazwa.


Selama ini, dia merasa takut jika gadis itu nantinya akan marah jika Doni terlalu memaksa atau menuntut gadis itu untuk melaksanakan ' kewajiban' sebagai istri.


Tapi Doni benar-benar sudah tak bisa menahan diri lagi. Dia lelaki normal, tinggal berdua dengan Nazwa sungguh membuat dirinya sangat tersiksa.


Bayang-bayang kebersamaan mereka saat di desa Raden Air Terjun Alas Tirta tak pernah bisa dia lupakan. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya nikmat dunia saat miliknya ' memasuki' milik Nazwa yang sempit karena masih bersegel perawan.


Walaupun dilakukan dalam keadaan darurat dan keterpaksaan, namun jujur saja dia sangat menikmatinya. Bahkan hingga kini dia tak bisa melupakan rasa itu.

__ADS_1


Tubuh Nazwa yang menempel erat pada tubuh Doni, menyebarkan aroma manis dari perpaduan aroma buah dan permen. Sungguh aroma yang sangat di sukai Doni. Memabukkan dan membangkitkan gairahnya.


Keduanya saling menatap, entah siapa yang memulai terlebih dahulu, tetapi bibir keduanya saling bertaut dan kemudian berakhir dengan ciuman yang panas dan menuntut.


" Bolehkah aku...? " tanya Doni dengan nafas yang memburu. Nazwa hanya mengangguk sambil tersipu malu.


Tanpa bertanya lagi, Doni segera membawa tubuh Nazwa ke tempat tidur dan menyelesaikan 'kewajibannya' sebagai suami dengan sempurna.


Tubuh keduanya kemudian ambruk bersamaan dengan nafas yang memburu sesaat setelah cairan panas benih Doni menyembur keluar dan menyirami rahim Nazwa.


Siang itu menjadi siang yang membara bagi pasangan yang disatukan dengan cara yang unik dan dalam keadaan yang aneh juga.


Senyum bahagia terpampang di wajah Doni. Nazwa yang malu memalingkan wajah ke arah lain.


" Hei, kenapa? kamu malu, ya? "goda Doni saat melihat rona merah di wajah Nazwa yang masih basah oleh keringat.


" Ngapain malu, kita sudah suami istri. Maafkan aku karena tak bisa menahan diri lebih lama lagi. " kata Doni pada Nazwa.


Gadis itu hanya menatap Doni, diam mendengarkan kata - kata lelaki itu. Lalu kemudian menelusupkan wajahnya ke dada bidang lelaki yang kali kedua kembali 'menyentuhnya'.


" Secepatnya aku akan mendaftarkan pernikahan kita secara resmi. Kita akan menikah kembali saat kita pulang nanti. Aku akan memintamu secara resmi kepada kedua orang tuamu, sayang." lanjut Doni. Di ciumnya pucuk kepala Nazwa dengan lembut. Nazwa hanya mengangguk dan pasrah pada Doni yang masih memeluknya dengan erat.


Nazwa terbangun karena merasakan lapar di perutnya. Dia ingat tadi belum sempat makan siang sudah keburu 'dimakan' sama Doni.


Ngomongin Doni.. kepala Nazwa celingukan mencari sosok suaminya yang tampaknya sudah tak ada menampakan batang hidungnya di hadapan Nazwa.


Nazwa segera membersihkan diri dan berpakaian. Dia mendengar suara mesin motor berhenti di depan rumah.


Doni masuk dengan menenteng tas keresek hitam dan beberapa barang belanjaan lainnya.


" Kamu sudah bangun. Tadinya aku mau ngajak kamu, sayang. Tapi aku nggak tega liat kamu tidurnya pulas banget. Aku membeli makanan buat kita dan juga beberapa kebutuhan yang lain. Kayaknya persediaan makanan di lemari sudah habis. " kata Doni.

__ADS_1


Nazwa mengambil makanan yang di beli Doni dan memindahkannya ke piring. Setelah itu membawanya ke ruang tamu. Maklum di kosan Nazwa tak ada ruang makan. Mereka berdua makan bersama di ruang tamu sambil di selingi dengan candaan Doni yang kini semakin suka menggoda istrinya.


__ADS_2