Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 55 Kejadian di Pantai Parangtritis


__ADS_3

Bus yang Asmi dan Nadia tumpangi baru saja tiba di lokasi Pantai Parangtritis. Beberapa bus yang ikut dalam rombongan tour itu sudah sampai lebih dahulu.


Terlihat beberapa sopir bus yang beristirahat sembari mengawasi anak- anak yang kini sudah mulai sibuk ingin bercengkrama dengan air laut dan pasir pantai.


Asmi membimbing Nadia turun dari bus sambil menyandang tas bekal yang mereka bawa.


"tante, aku mau main sama Diva, ya!" kata Nadia pada Asmi yang sedang menggelar tikar kecil untuk tempat duduk mereka.


"jangan jauh-jauh ya, sayang!" Asmi mengingatkan Nadia ketika gadis kecil itu sudah beranjak untuk pergi.


"oke, tante!" kata gadis itu sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


Sementara itu, dari kejauhan sepasang mata tak lepas mengamati sosok Asmi yang nampak asyik mengawasi Nadia yang sedang bermain pasir bersama Diva.


" hm, Pak Han. Aku melihat sesosok bayangan yang selalu berada di sisi wanita itu."kata Pak Panca kepada bawahannya itu.


"Apa mungkin bayangan itu yang di maksud oleh Nyi Darsih. Sosok makhluk jin yang menjadi pelindung wanita itu."kata Pak Han.


"Pantas saja dia selamat dalam tabrakan itu. aku yakin pasti makhluk itu yang sudah melindunginya."


"Itu menjelaskan semuanya.Jadi selama ini kita berhadapan dengan lawan yang tak kasat mata, Pak Han."kata Pak Panca lagi.


"Lantas apa tindakan kita selanjutnya, Tuan?"tanya Pak Han.


"Aku mau melihat dulu sejauh mana tindakan Nyi Darsih pada wanita itu. perintahkan orang-orangmu agar terus mengawasi wanita itu. "


" baik, tuan." Pak Han kemudian menelpon seseorang sementara pak Panca masih saja mengamati Asmi dari kejauhan.


Nadia dan Diva tengah asyik bermain pasir. Sangking asyiknya kedua bermain hingga tak sadar sudah waktunya untuk makan siang. Keduanya menghentikan kegiatan mereka karena rasa lapar yang memanggil.


" Nadia, aku lapar! kamu nggak lapar?"tanya Diva.


"lapar juga, sih.ayo kita makan dulu, ya!" ajak Nadia.


"aku makan sama bi Rumi."kata Diva. Gadis kecil itu kemudian beranjak untuk menemui pengasuhnya yang sejak tadi sudah menunggu dengan setia.


Nadia kemudian menyelesaikan cetakan terakhirnya setelah kemudian beranjak mendekati Asmi.


"tante, Nadia lapar." katanya


"kesini sayang, tante sudah siapkan bekal makan kita!" ajak Asmi.


"Bunda bawain apa sih, tante?" tanya Nadia.


"ini ada nasi sama lauk ayam, ada juga sosis dan nugget kesukaanmu." kata Asmi.


"hm, kayaknya enak. Nadia mau makan, tante."


"eh, cuci tangan dulu, sayang!"Asmi mengingatkan Nadia agar mencuci tangan dahulu sebelum menyentuh makanan.


" oh iya. lupa!" gadis itu kemudian mengambil air dari botol minumnya dan langsung mencuci tangannya hingga bersih.

__ADS_1


"sudah bersih. Sekarang Nadia mau makan dulu!" Gadis kecil itu kemudian memakan bekalnya dengan lahap karena memang dia sudah merasa lapar sekali.


"pelan-pelan makannya Nadia!"kata Asmi.


"sayang, kamu kenapa nggak makan?"Hasyeem bertanya pada Asmi karena melihat wanita itu tidak ikut makan tetapi hanya duduk saja sambil memainkan gadget nya.


"aku belum lapar."jawab Asmi.


"tante ngomong apa?" tanya Nadia. Dia mendengar tantenya mengucapkan sesuatu.


" nggak, tante lagi mengomentari postingan di Facebook."jawab Asmi. Matanya melotot ke arah Hasyeem yang tersenyum nakal ke arahnya.


"makanya jangan sibuk dengan handphone terus, sayang. pacarnya dicuekin. aku juga mau diperhatikan!"sungut Pangeran Hasyeem.


Asmi memutar bola matanya kesal. Yang benar saja kekasihnya ini minta di perhatikan. Yang ada nanti dia di sangka gila karena ngomong sendiri, senyum sendiri, dan merayu sendiri. Hiiii... amit-amit deh.


Hasyeem terkekeh geli saat mendengar isi hati Asmi. Dia baru sadar, benar juga apa yang ada di pikiran Asmi. Tak mungkin bagi wanitanya itu untuk bermesraan atau mencurahkan perhatian dan rasa cintanya saat ini.


"maaf, aku baru sadar ini siang hari dan di tempat umum. ya udah, makan dong, sayang. entar kamu sakit kalo lupa makan!" bujuk pangeran Hasyeem.


Asmi tersenyum manis sekali dan kemudian menyimpan handphone miliknya. Lantas mengambil makanan.


Nadia yang sudah selesai makan dari tadi lantas minta izin untuk kembali bermain pasir.


"Tante, Nadia boleh main lagi?"tanya gadis kecil itu.


"Boleh, tapi jangan jauh-jauh!"jawab Asmi.


"oke. sebentar saja, ya sayang!"kata Asmi.


" oke, tante. makasih!?"Nadia kemudian berlalu menuju tepi pantai tempat dia bermain pasir.


Asmi kembali melanjutkan makannya.


Tak lama kemudian dia menyusul Nadia bermain pasir.


"tante, ayo berenang!" ajak Nadia.


"eh, tante nggak bawa baju ganti."kata Asmi.


" Ayo dong, tante. itu teman-teman Nadia pada berenang.!"rengeknya pada Asmi.


Asmi menghela nafas."baiklah, tapi janji hanya sebentar saja, ya!"kata Asmi.


" Hore, berenang. Ayo tante!"ajak Nadia seraya menarik tangan Asmi menuju ke air.


Gadis kecil itu segera menceburkan tubuh kecilnya ke dalam air laut yang tampak berwarna kecoklatan itu karena bercampur dengan pasir yang tersapu ombak.


Tawa riangnya bercampur dengan hiruk pikuk suara pengunjung pantai yang juga berenang di tempat itu.


"Nadia, ayo ke sini!"ajak salah seorang teman sekelas Nadia.

__ADS_1


Gadis kecil yang rada centil itu segera berenang menghampiri temannya yang tadi memanggilnya.


"Nadia, jangan jauh-jauh berenangnya!" seru Asmi pada Nadia.


Tiba-tiba Asmi mendengar teriakan minta tolong seseorang. Asmi menoleh ke arah teriakan itu.Di lihatnya seorang anak kecil yang menggapai - gapai seperti sedang berusaha untuk menyelamatkan diri dari ombak pantai yang terus saja menyeret tubuhnya. Tubuh anak itu timbul tenggelam diantara ombak laut yang terus saja menyeret tubuhnya semakin ke tengah.


"Astaga, itukan Diva!! "


Tanpa pikir panjang Asmi segera berenang menyusul gadis itu, berusaha untuk menyelamatkannya dari seretan dan hantaman ombak laut yang kian mengganas.


Nadia dan juga para pengunjung pantai yang lain menjerit-jerit melihat pemandangan itu. Mereka berteriak meminta pertolongan kepada petugas pantai yang langsung sigap bertindak.


Sementara itu, Asmi yang sudah berenang dengan susah payah, akhirnya berhasil mendapatkan tubuh Diva yang sempat tenggelam karena lelah kehabisan tenaga dan terlalu banyak meminum air laut.


"aku mendapatkanmu, Diva. Pegang leher tante. Kita akan berenang bersama!"kata Asmi pada gadis kecil itu.


Namun gadis itu sudah keburu pingsan sebelum sempat merengkuh leher Asmi. Asmi jadi kerepotan karena harus berenang di antara ombak besar sementara harus memegang tubuh Diva. Tubuh mereka timbul tenggelam di antara ombak besar yang kian mengganas yang sepertinya berusaha untuk menyeret keduanya kembali ke tengah.


Namun, tiba-tiba sebuah tangan yang besar dan kekar menyeret tubuh Asmi dan membawa tubuh wanita itu bersama Diva yang berada dalam dekapannya ke tepi.


Tim SAR yang sudah datang ke tempat itu segera memberi pertolongan pada Asmi dan Diva.


Mereka mengangkat tubuh Asmi dan Diva yang sudah tergolek pingsan karena lemas dan kehabisan tenaga. Tubuh Diva lemas akibat terlalu banyak menelan air laut. Tim SAR segera memberikan pertolongan kepada Diva.


Sementara Asmi yang masih sadarkan diri segera di bantu oleh tim SAR untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.


Setelah agak tenang. Asmi lalu menghampiri Nadia yang masih terlihat syok karena baru saja melihat sahabatnya hampir mati tenggelam karena terseret ombak.


" Tante, Nadia takut. Diva nggak papa, kan tente?"tanya Nadia dengan cemas.


"Nadia, Diva akan baik-baik saja, sayang!"kata Asmi sambil memeluk gadis itu, berusaha untuk menenangkannya.


" Nona, kami berterima kasih atas pertolongan anda pada nona kami. Tuan kami ingin bicara pada anda, jika nona tidak keberatan!" kata seorang laki-laki yang berpakaian rapi kepada Asmi.


Asmi menghela nafas." baiklah! " Asmi berjalan mengikuti laki-laki itu. Keduanya kini telah berdiri di hadapan seorang lelaki paruh baya yang berwajah angkuh dan dingin.


"Siapa nama anda, nona?"tanya lelaki itu.


" Nama saya Asmi, tuan."kata Asmi menyebutkan namanya.


"hm, Asmi. Aku berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan cucuku. Namun sayangnya, aku orang yang tidak suka berhutang budi pada orang lain. Katakan saja berapa imbalan yang kamu minta karena sudah menyelamatkan cucuku!" kata lelaki paruh baya yang tak lain adalah Pak Panca Nugraha.


.


Asmi menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka jika masih ada orang di dunia ini yang mengukur segala sesuatu dengan materi.


" maaf, tuan. Tapi saya melakukannya ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Terima kasih atas kebaikan anda. Tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya. Simpan saja uang anda karena saya tidak membutuhkannya. Saya pamit dulu. Semoga cucu anda cepat pulih keadaannya. Selamat sore!"kata Asmi sambil mohon diri dan berlaku dari hadapan Pak Panca.


Lelaki itu mengepalkan tangannya. Wajahnya dingin tanpa ekspresi menatap kepergian Asmi.


'Sombong sekali! wanita ini berani menolak pemberianku!', pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2