
__ADS_3
Siang ini Asmi terlihat melamun sendiri. Beberapa kali Ali harus memanggilnya karena ada pelanggan toko yang datang namun Asmi malah bergeming diam, betah sekali dia melamun.
" mbak Asmi lagi ada masalah?' tanya Ali. Pemuda tanggung itu sebenarnya jauh lebih dewasa dari usianya.
Asmi menghembuskan nafas kasar.
" Aku lagi males dan bosan tau, li!" kata Asmi.
" Loh, kok bisa?" tanya pemuda itu bingung.
" Kau nggak pernah bisa faham, li. Kamu tak pernah ngerasain rasanya hidup dalam kesendirian." kata Asmi.
" cerita saja, mbak. Siapa tahu aku bisa bantu. Minimal kasih saran." ucap Ali.
" Aku sedih, li. Hidup aku rasanya hampa." kata Asmi.
" Kenapa sedih, Mbak. Mbak itu nggak sendiri. Ada Bu Mirna, ada juga saudara mbak yang lain. Semuanya sayang pada mbak Asmi. Jadi untuk apa mbak merasa sendiri?" kata pemuda tanggung itu.
" Kamu memang benar. Mereka selalu ada untuk aku. Tapi aku juga sebenarnya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Kadang aku merasa iri dengan Mirna atau wanita lain yang bisa melahirkan dan menjadi seorang ibu." jawab wanita itu dengan mata menerawang.
Ali menatap wanita cantik yang duduk di hadapannya. Sebersit rasa iba di hatinya saat mendengar keinginan sederhana dari wanita itu. Anak ! keinginan wanita itu sama dengan keinginan jutaan wanita yang ada di seluruh dunia. Bisa hidup bahagia bersama pasangan dan memiliki anak.
Akan tetapi, kisah hidupnya tidak berakhir bahagia. Suaminya mencampakkan dirinya karena tidak bisa memberikan anak yang menjadi penyambung garis keturunan.
" Mbak Asmi tidak boleh putus asa. Ingat mbak, Nabi Zakaria as, istrinya di vonis mandul dan beliau sendiri sudah uzur. Namun Allah bisa memberikan mukjizatNya kepada siapa yang dihendaki-Nya, terbukti istri nabi Zakaria hamil di usianya yang sudah lanjut dan mematahkan opini dunia kedokteran bahwa wanita monopous dan lanjut usia tak bisa melahirkan." kata pemuda itu.
Asmi mengangguk tanda faham. Anak ini.. pikirnya wajah saja lugu pikiran suhu! katanya dalam hati.
" makasih li. Kamu sudah membuat mbak sadar bahwa kita tidak boleh merasa putus asa terhadap takdir yang telah di tetapkan oleh-Nya. Sepertinya mbak kurang bersyukur terhadap hidup ini." kata Asmi.
Ali tersenyum pada Asmi. Alhamdulillah, rupanya pikiran mbak Asmi sudah terbuka, ucapnya dalam hati.
Beberapa hari kemudian, Wira mendatangi Asmi di toko. Lelaki itu datang sore hari, tepat setelah Asmi menutup toko. Asmi tersenyum manis pada Wira.
" Eh, mas Wira. Dari mana, mas?" tanya Asmi.
" Dari tadi aku ada di hatimu." jawab lelaki itu sambil tersenyum manis.
Asmi tersipu malu saat mendengar ucapan lelaki itu.
" Mas Wira bisa aja. Serius, mau kemana?" tanya Asmi kemudian seraya berjalan ke parkiran motor.
" Aku mau ngajak kamu jalan. Kamu nggak keberatan?"tanya Wira.
Asmi menatap pemilik wajah ganteng itu.
" Memang mas mau ngajak Asmi kemana?"
" Jalan - jalan aja." jawabnya.
" hm, oke. Tapi jangan lama, ya!" Wira mengangguk lalu menyalakan motornya.
Asmi mendudukkan bokongnya di jok motor Wira.
__ADS_1
" Pegangan, dek Asmi. Entar jatuh!" bisiknya.
Asmi menurut lantas tangannya memegang baju Wira. Wira menjadi gemas sendiri dengan tingkah canggung wanita itu. Ditariknya tangan wanita itu hingga menempel di pinggangnya.
" Begini lebih baik!" katanya. Dia lantas menyalakan motornya dan segera melaju ke tempat tujuan.
" Aih, tempat ini bagus sekali!" seru Asmi saat melihat pemandangan sunset di depan matanya.
Wira membawa Asmi ke dermaga. Tempat itu terlihat agak ramai saat sore hari karena banyak orang yang datang ke tempat itu untuk melihat penampakan keindahan matahari terbenam di tempat itu.
" Dek Asmi, boleh mas pegang tangan dek Asmi?" tanya Wira
Asmi terdiam dan tak menjawab pertanyaan Wira. Namun Asmi tak juga menolak saat laki-laki itu kemudian menggenggam tangannya.
Ada rasa nyaman saat tangan Wira yang besar dan sedikit agak kasar itu menggenggam jari - jemarinya. Hingga Asmi akhirnya membiarkan saja tangan laki-laki itu menggenggamnya lebih lama.
"Mas mau pamitan pada dek Asmi, karena mas mau berlayar agak lama." kata Wira.
" Memangnya mas Wira mau berlayar kemana? " Asmi bertanya karena biasanya lelaki berkulit sawo matang itu tak pernah pamit jika hendak pergi berlayar.
" Mas mau berlayar ke Singapura." jawab lelaki itu.
" Hm, cukup jauh juga, mas!" ujarnya.
" Maka dari itu, mas mau ngasih tau dek Asmi, mas mungkin perginya agak lama. Jaga dirimu dek. Mas harap semoga kita cepat bertemu kembali." kata lelaki itu
sambil mengecup punggung tangan Asmi.
Wajah Asmi bersemu merah. Perlakuan Wira padanya seperti layaknya seorang yang akan pergi meninggalkan sang kekasih.
Kebersamaan mereka senja itu membekas indah di hati Wira. Semakin menumbuhkan harapan besar di hatinya, suatu hari nanti kemungkinan untuk dapat bersanding dengan janda cantik tetangganya ini dapat terwujud.
Sementara itu, dari kejauhan, beberapa pasang mata sedang mengawasi gerak - gerik kedua insan yang sedang duduk menatap indahnya saat matahari berpamitan pada siang dan hendak kembali ke peraduannya.
" Tuan bilang kalian boleh bergerak sekarang!" kata seseorang setelah menutup telepon dari seseorang.
" baik, bos! ayo kita lakukan!"
" Tunggu dulu, jangan di sini. Ikuti saja sampai di tempat sepi dan aman, baru dieksekusi." perintahnya.
Setelah melepas senja, keduanya kemudian memutuskan untuk pulang. Motor Wira melaju membelah jalanan yang kini mulai dipenuhi oleh lampu - lampu yang berkelap-kelip sebagai penghias jalan.
Wira berulang kali melirik kaca spion motornya. Perasaannya tidak enak. Dia merasa seperti sedang di buntuti oleh seseorang.
" hm, mobil avanza hitam di belakangku nampak mencurigakan sekali. Siapa mereka dan mau apa mereka membuntuti aku?" pikir Wira.
" Asmi, pegangan yang kencang karena mas mau ngebut!" kata Wira. Setelah berkata demikian, 0dia menambah kecepatan motornya.
Benar saja, avanza hitam di belakang mereka juga kini sudah menambah kecepatan.
"Kena kau, kita lihat siapa yang telah membuntuti kita, dek" seringainya. Tangannya sibuk memainkan gas motornya.
Sesekali Wira menoleh kebelakang untuk memastikan keberadaan mobil penguntit di belakangnya.
__ADS_1
" Ada apa mas?" tanya Asmi dengan cemas.
" Ada seseorang yang sedang membuntuti kita, dek!" jawabnya.
" Hah, siapa mas? "
" Entahlah, tapi pirasatku jelek. Kau lihat mobil avanza di belakang kita? " tanya Wira. Asmi menganggukkan kepala.
" Mobil itu dari tadi mengikuti kita. Entah apa maunya mereka?" kata Wira. Dia kini sudah menambah kecepatan laju motornya.
Adegan kejar-kejaran pun terjadi.. Seperti di film laga. Peran jagoan dan wanitanya yang mengendarai motor dan sedang di kejar sekelompok orang jahat.
Sampai tiba di tempat sepi, mobil itu berhasil menghentikan laju motor Wira. Beberapa orang yang mengenakan topeng keluar dari mobil dan berjalan ke arah Wira dan Asmi.
" Mas, Asmi takut!" bisik Asmi pada lelaki itu.
" Kamu tenang aja, dek. Jangan takut. Tetaplah di belakang Mas!" Wira lalu mengajak Asmi turun dan menepikan motornya. Orang - orang yang bertopeng tadi kini sudah mengepung keduanya.
" Siapa kalian? Mengapa mengikuti kami?" bentak Wira.
Tak ada seorang pun diantara mereka yang menjawab. Malahan salah seorang dari mereka maju dan menyerang Wira.
Wira yang waspada dengan sigap menangkis serangan itu dan berbalik melancarkan serangan.
Perkelahian pun terjadi. Namun keadaan menjadi tak seimbang. Wira di keroyok oleh lima orang. Tubuh Wira menjadi Bulan-bulanan oleh kelima orang itu.
Asmi yang sedari tadi menyaksikan peristiwa itu tidak tinggal diam. Sambil berteriak minta tolong, Asmi juga turun tangan membantu Wira. Dia mengeluarkan segenap kemampuan bela dirinya untuk membantu Wira.
Para pengeroyok itu sejenak tertegun. Wanita ini ternyata pintar juga bela diri.
Namun para pengeroyok tak gentar. Mereka semakin ganas dan bernafsu untuk menghabisi Asmi dan Wira.
Salah seorang di antara mereka mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya ke arah Asmi.
" Berhenti, atau isi pistol ini akan menembus isi kepalamu!" bentak orang itu pada Asmi. Asmi terkesiap ketakutan menatap ujung pistol yang sudah menempel di keningnya. Tanpa sadar bibirnya menyebut sebuah nama.
" Hasyeem!" bisiknya lirih sambil memejamkan mata. Tubuhnya gemetar saking takutnya.
Wira yang melihat hal itu menghentikan perlawanan dan menatap cemas ke arah Asmi.
" Jangan sakiti dia. Jika kalian ada urusan dengan saya, maka saya mohon selesaikan saja dengan saya. Tapi tolong jangan libatkan dia!" kata Wira pada para pengeroyok itu.
" Hahaha siapa bilang kami ada urusan denganmu. Urusan kami adalah dengan wanita ini! "bentak salah seorang dari mereka. Setelah itu mereka memukul bagian belakang tengkuk Wira dengan sepotong kayu.
Asmi menjerit saat melihat tubuh lelaki itu jatuh tersungkur ke tanah dan kemudian diam tak berkutik lagi.
" hahaha, kini tinggal kau ****** sialan. Bersiaplah untuk bertemu malaikat mautmu!" suara bunyi pelatuk pistol terdengar. Asmi menangis sambil menutup matanya.
Suasana mendadak hening. Asmi meraba kepalanya. Heran...kenapa tidak berdarah ? Apakah dia masih hidup.
Asmi lalu membuka matanya. Di lihatnya para pengeroyoknya sudah terkapar bermandikan darah dengan tubuh yang terpotong menjadi dua bagian.
Asmi menjerit histeris.... pemandangan di hadapannya begitu mengerikan. Tak jauh dari sana berdiri sesosok lelaki tampan berbaju rompi tanpa lengan dengan pedang berwarna keemasan terhunus di tangannya.
__ADS_1
Tatapannya sedingin pedang yang masih meneteskan darah menatap tajam ke arah Asmi.
" Hasyeem!"
__ADS_2