Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 93 Penyelidikan Revan


__ADS_3

Hari sudah beranjak malam. Delia sudah semenjak tadi tertidur lelap. Demikian pula halnya dengan Asmi yang akhirnya juga tertidur setelah mendapat usapan dan belain di punggungnya oleh sang suami.


Saat ini, tak ada yang bisa melihat Pangeran Hasyeem kecuali hanya Asmi seperti yang Pangeran Hasyeem inginkan.


Sementara itu Revan membayar seorang detektif untuk menyelidiki perihal tentang kematian Yovan yang di temukan tewas dengan luka tembak di bagian punggung. Karena banyak sekali dia menemukan keanehan seputar kematian adiknya yang tidak wajar.


Revan curiga bahwa Delia ada sangkut pautnya dengan kematian Yovan adiknya. Dia merasa wanita yang merupakan mantan adik iparnya itu mengetahui sesuatu namun menyembunyikannya dari keluarga mereka.


Pagi dini hari, Delia terbangun karena merasa ada sentuhan lembut di dahinya. Dia mengerjabkan matanya menyesuaikan diri karena silau oleh cahaya lampu.


" Ammar! kamu ada di sini? Bagaimana bisa? " tanya Delia yang merasa heran dengan keberadaan Ammar di kamarnya.


Senyum nakal terlontar dari lelaki jin di hadapannya.


" kamu lupa siapa aku? aku bisa kemana saja dengan bebas kapanpun dan di manapun aku mau." katanya mengingatkan Delia tentang siapa dirinya.


" Akh, iya. aku lupa bahwa kamu adalah seorang jin. Terus apa maumu? " dengus Delia kesal. Dia sebenarnya masih malas untuk bangun karena tubuhnya terasa letih dan tak bertenaga.


" Aku merindukanmu!" Delia mendelik ke arah Ammar mendengar jawaban singkat dari lelaki bertampang macho itu.


" Nggak lucu, Ammar! " bentaknya marah.


" Iya nggak lucu, tapi itu benar. Sorry, tapi ada sesuatu yang ingin ku katakan. Can we tall, baby? "


Delia mengeryitkan sebelah alisnya. Dengan malas dia beranjak bangun dari tempat tidur. Namun karena kondisi Delia yang memang masih lemah dan tidak fit, wanita itu malah jatuh kembali ke tempat tidur.


Ammar menarik tubuh Delia hingga wanita itu bisa bangun dan duduk di atas tempat tidur. Kepalanya bersandar pada pinggang berotot milik lelaki itu.


Delia dapat mencium bau harum tubuh Ammar yang sejenak membuat fantasinya melanglang liar.


" hmm, Ammar. Aku suka bau harum parfummu. " katanya sambil menundukkan kepala. Malu rasa hatinya karena baru saja di tinggal mati suaminya, kini sudah menggoda lelaki lain.


Ammar menunduk memandang Delia. Dia tahu apa yang ada di pikiran wanita cantik itu.


Di angkatnya tubuh Delia hingga berdiri sejajar dengan dirinya. Namun, karena tubuhnya lebih tinggi, maka Ammar harus menunduk agar bisa memandang Delia.


" Apakah aku sudah mulai ada di sini? " Ammar bertanya seraya menunjuk ke dada Delia.

__ADS_1


Delia melongos membuang pandangan. Tak ingin bersitatap dengan pemilik mata abu - abu terang itu.


" Aku tak tahu. Tapi aku ingin berterima kasih atas pertolonganmu saat itu. Sorry, baru mengucapkannya sekarang. Kau tahukan aku..... " ucapan Delia terpotong karena ciuman Ammar di bibirnya.


Sejenak Delia terpaku.. Tak tahu harus berbuat apa. Dia tidak membalas ciuman Ammar namun tidak juga memberontak atau menolak.


Sesaat kemudian Ammar melepaskan ciumannya.


" Ayo ikut aku! kita bicara di luar! " Setelah itu, Ammar membawa tubuh Delia menghilang bersama dirinya, pergi dari tempat itu meninggalkan Asmi yang masih lelap tertidur.


Sepeninggal Delia dan Ammar, Pangeran Hasyeem muncul di kamar itu. Sebenarnya, sudah dari tadi dia berada di sana, namun dia enggan muncul karena takut mengganggu pembicaraan Delia dan Ammar.


" Sayangku, Ratuku, bangunlah. hari sudah pagi." bisiknya lembut di telinga Asmi seraya mencium lembut kening dan pipi wanita yang begitu dicintainya itu.


Asmi menggeliat bangun. Mengerjap - ngerjapkan matanya. Yang pertama di lihatnya adalah wajah tampan suaminya dengan rambut di ikat ke belakang. Tampan sekali... entah mengapa selama dia hamil, dia suka sekali memandangi lama - lama wajah suaminya.


" Suamiku yang tampan, ada apa membangunkan aku? " Pangeran Hasyeem tersenyum mendengar Asmi menyebut kata ' suamiku' untuk pertama kali.


Di belainya perut istrinya yang kini mulai sedikit membesar. Maklum saja usia kandungan Asmi kini sudah memasuki usia tiga bulan.


" Delia mana? " tanya Asmi saat menyadari ketiadaan Delia di kamar itu.


" Dia tadi sudah bangun dari tadi dan mungkin saat ini pergi keluar jalan - jalan." jawab pangeran Hasyeem.


" Ohh!! " Asmi hanya mengucap kata ohh lalu meneruskan langkahnya ke kamar mandi.


Saat baru menutup pintu, Asmi hampir saja menjerit jika tidak buru - buru tangan Pangeran Hasyeem membekapnya.


" Uhh, kebiasaan. Selalu muncul tiba-tiba. Aku sudah bilang, jangan pernah muncul tiba - tiba di hadapanmu, aku bisa mati karena serangan jantung! " sewotnya.


" hehehe, habisnya aku tak tahan jika melihatmu, hasratku selalu bergejolak jika memandang tubuhmu. Aku mau mendatangi anak kita!, boleh ya ratuku? kata Pangeran Hasyeem sambil tersenyum smrik.


Asmi paham dengan senyuman itu. Jadilah keduanya berolahraga bersama di kamar mandi lalu kemudian berdua melaksanakan ritual mandi wajib bersama sebelum sholat subuh.


Sementara itu, Ammar membawa Delia pergi ke suatu tempat. Setelah sampai Ammar menurunkan tubuh Delia di atas sebuah batu besar.


Mereka sedang berada di atas sebuah bukit berbatu yang tinggi. Delia memandang ke sekelilingnya. Panorama alam di tempat ini sungguh menakjubkan. Sejenak Delia tersenyum sambil merentangkan kedua tangan.

__ADS_1


" Ahhh, segarnya. Tempat ini indah sekali!" katanya. Kemudian Delia berbalik menatap ke arah Ammar yang juga sedang menatapnya.


" Bicaralah... apa yang ingin kamu katakan! "


" Aku ingin memperingatkan dirimu, Berhati-hatilah dengan Revan. Saat ini dia sedang menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidiki perihal kematian Yovan. Kamu harus hati - hati jika berada di dekat Yovan." kata Ammar.


Delia terdiam sesaat mendengar kata - kata Ammar. Mengapa mendadak rasanya seperti dia sedang selingkuh dari suaminya, hingga rasanya takut jika seorang Revan mengetahui apa yang telah terjadi.


Waktu berlalu dengan cepat. Sebulan sudah sejak pemakaman Yovan dan Delia kini masih tinggal bersama dengan mertuanya. Dia juga enggan kembali ke Australia karena betapa hal itu mengingatkan dia kembali akan kenangan buruk pernikahannya dengan Yovan yang berakhir dengan kematian lelaki yang berstatus suaminya itu.


...-----...


Kandungan Asmi semakin lama semakin besar. Saat ini kandungan Asmi memasuki bulan ke lima. Perut istri Pangeran Hasyeem itu terlihat sudah sedikit membesar. Untuk itulah Pangeran Hasyeem memutuskan untuk membawa Asmi ke istananya di bukit malaikat.


" hmm, kamu sudah bangun ratuku? " Pangeran Hasyeem membelai rambut hitam istrinya yang panjang dan ikal. Menyesap wangi tubuh istrinya yang seperti candu bagi dirinya.


" Hasyeem, aku ingin sekali melihat matahari terbenam di Pulau Bali! " kata Asmi dengan manja.


" Baiklah, ratuku. Apapun yang kamu inginkan." jawab Pangeran Hasyeem sambil menciumi seluruh wajah istrinya hingga membuat Asmi terkikik geli.


Asmi bermaksud ingin bangun dari tidurnya tetapi tubuh kekar suaminya mengukung rapat tubuh mungil Asmi membuat wanita yang sedang hamil itu kesulitan untuk bergerak.


" Hasyeem, menyingkirlah aku mau bangun." kata Asmi dari bawah tubuh Pangeran Hasyeem.


" Tidak, sebelum kamu memberikan bagianku dulu!" kata Pangeran Hasyeem.


Asmi berusaha mendorong tubuh suaminya, namun usahanya sia-sia. Akhirnya dia hanya bisa pasrah menerima setiap sentuhan suaminya yang pastinya berakhir panas.


Hari ini, Revan menerima kiriman berkas dari detektif swasta yang disewa Revan untuk menyelidiki kasus kematian adiknya. Detektif swasta itu mengirim kan berkas hasil penyelidikannya kepada


Revan dalam bentuk dokumen dan rekaman video.


Revan membuka dokumen laporan penyelidikan dan juga video yang dikirim padanya.


Sesaat kemudian, rahang lelaki tampan itu mengeras dan tangannya terkepal kencang.


" Delia, kamu harus menjelaskan padaku apa yang telah kamu sembunyikan dari kami! " desisnya dengan penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2