
__ADS_3
Yovan akhirnya pergi dengan tangan hampa. Dia tidak dapat menemukan keberadaan Delia. Jejak istrinya itu seolah- olah hilang begitu saja sampai di penginapan ini.
" Delia, kemana lagi aku harus mencarimu? " kata Yovan sambil membuka pintu mobilnya. Tak lama kemudian Yovan sudah meluncur pergi meninggalkan tempat itu di iringi seringai kemenangan di wajah pemilik penginapan.
Pemilik penginapan itu kembali ke ruang bawah tanah tempat dimana dia menyekap Delia.
" Hmm, Your husband was here. He looking for you." Delia mendelik ke arah lelaki itu.
" Please, let me go, sir! let me go! " pintanya kepada lelaki itu
"hahaha, What is the pitty. I couldn't do it now!" jawab lelaki itu. Dia lalu mendekati Delia dan menjambak rambutnya. Mendongakkan wajahnya lalu menciumnya dengan kasar.
" Don't ever think that you can escape from this place and meet your stupid's husband. He was so stupid. He believe what I said to him about you! " kata lelaki itu menyombongkan diri.
" Who said that I am stupid ? " sebuah suara mengejutkan lelaki pemilik penginapan itu dan juga Delia.
Keduanya serentak menoleh. Yovan sudah berdiri di ambang pintu. Tangannya memegang sebuah tongkat baseball.
Delia menarik nafas lega melihat kehadiran Yovan. Meski teramat membenci Yovan, namun dia bersyukur lelaki itu datang untuk membebaskannya.
" Release my wife, bastard! " bentaknya pada pemilik penginapan.
" Hahaha, she is mine. I wouldn't let you take her from me. And I wouldn't let both of you to get out from these place!!"
" Bastard, I said releasing my wife. Or I will kill you! "
selesai berkata demikian, Yovan menerjang pemilik penginapan menggunakan tongkat pemukul baseball yang di bawanya.
Perkelahian pun terjadi. Keduanya saling pukul, saling memagut dan saling menendang. Keadaan tempat itu benar-benar sungguh kacau dan berantakan. Pada suatu kesempatan, Yovan berhasil memukul pemilik penginapan itu hingga jatuh tersungkur.
Kesempatan itu tidak dia sia- siakan. Yovan segera membebaskan istrinya yang masih dalam keadaan terborgol di kedua tangan dan kaki yang terikat.
Yovan berhasil membuka ikatan pada kaki Delia. Namun dia kesulitan untuk membuka borgol di tangan Delia. Akhirnya dia menurunkan Delia dari ranjang itu dan memapahnya keluar dari ruang bawah tanah penginapan.
Dor! sebuah tembakan bergema di ruangan itu.
Delia menjerit histeris saat tubuh Yovan melorot jatuh. Sebuah tembakan bersarang tepat di punggung Yovan hingga menembus jantung.
" Yovan! Astaga bertahanlah! " Dengan susah payah Delia menyeret paksa tubuh Yovan keluar dari tempat itu. Air mata sudah membanjiri kedua belah pipinya. Putus asa akan nasibnya.
" De...Delia, la..lari...! kata Yovan dengan suara yang lemah dan terputus-putus.
" Tapi,. kamu? "
" aku bilang, lari Delia! lari selamatkan dirimu. Maafkan aku yang tak bisa menyelamatkanmu! maafkan semua dosa - dosaku... " ucapnya lirih semakin lemah. Dan akhirnya tubuh lelaki yang masih berstatus suaminya itu diam dan tak lagi bergerak sama sekali.
" Yovannnn! bangun! jangan tinggalkan aku sendiri di sini! Yovan! bangunlah! Yovan! hik.. hik.. hik! " isaknya sambil terus mengguncang - guncang tubuh Yovan berharap agar lelaki itu bangun.
Namun Yovan telah tewas karena luka di punggungnya yang menembus jantung hingga nyawanya tak tertolong akibat kehilangan banyak darah.
" Yovan...! hik... hik... hik..! bangun... " ratap Delia.
Sebuah tarikan kasar menyeret paksa tubuh Delia hingga wanita cantik berdarah asli Indonesia itu kembali jatuh tersungkur.
" He his dead. Your husband is dead. Now you are my mine.! " katanya sambil sebelah tangannya kemudian menarik kasar tubuh Delia lalu mendorongnya ke hingga jatuh ke sofa. Sebelah tangannya yang lain masih memegang pistol.
__ADS_1
Tangannya merobek kasar kemeja Delia yang dipenuhi darah Yovan. Hingga terpampang jelas kini di hadapannya tubuh mulus Delia dengan payudara yang montok.
Mata lelaki itu melotot melihat pemandangan indah yang ada di depannya. Jakunnya naik turun merasakan gejolak hasrat gairah yang kini sudah merasuk dalam dirinya.
Delia menangis sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan membalikkan badan membelakangi pemilik penginapan yang berdiri tegak sambil sebelah tangannya masih memegang pistol yang tadi dipakai untuk menembak Yovan.
Lelaki pemilik penginapan itu melempar pistol ke atas ranjang lalu tangannya bergerak membuka resleting celananya. Hingga asetnya yang besar dan berotot kini terpampang jelas .
Dengan kasar di tariknya kedua kaki Delia dan menarik paksa celana short yang dia kenakan. Hingga celana pendek yang kekurangan bahan itu melorot lepas dari pinggang Delia.
Sebuah benda berwarna merah di antara ************ Delia terlihat menyembul, semakin menggoda lelaki pemilik penginapan itu untuk melampiaskan hasratnya pada Delia.
Delia menangis menghiba memohon agar lelaki itu mau untuk melepaskannya.
" Please, sir. Don't do that to me. Please.
I beg you!" mohon Delia.
Namun lelaki pemilik penginapan itu tak menggubris. Dirinya sudah dikuasai oleh nafsu yang membuncah.
Dengan bernafsu di tariknya benda berwarna merah itu hingga robek dan melemparnya ke sembarangan arah.
Dia menarik tubuh Delia dengan kasar. Menindih paksa tubuh wanita itu dan memaksa untuk memasukinya. Delia menjerit dan meronta sekuat - kuatnya. Kedua kakinya berontak menendang paha lelaki itu hingga terdorong ke belakang.
" *****! ****! ... you make me angry, baby!"
Lelaki pemilik penginapan itu maju dan memberikan tamparan keras di kedua pipi Delia hingga wanita itu tersungkur tak berdaya dan pingsan.
Dia tersenyum puas dan kembali menindih tubuh Delia sambil mencoba memposisikan 'miliknya' agar bisa masuk dengan tepat ke bagian inti Delia.
" Arghhh! ****! makinya sambil berusaha untuk bangun. Matanya nanar menatap ke arah sesosok bayangan hitam yang muncul perlahan-lahan menembus keluar dari dalam tembok ruangan itu.
Setelah beberapa saat, tampak olehnya seorang anak muda dengan wajah tampan memakai jubah panjang berjalan pelan mendekatinya.
" Hei, boy. what do you want? You wanna die? " bentaknya. Dia merasa marah dan tergangu karena kedatangan sosok itu. Dia meraih pistol yang tergeletak di ranjang dan menodongkannya ke arah sosok anak muda itu.
Tak ada jawaban dari sosok anak muda itu. Dia terus berjalan melewati pemilik penginapan ke arah tubuh Delia yang sudah telanjang.
Di tariknya sprey yang menutupi tempat tidur di kamar itu dan menutup tubuh Delia dengan itu.
Lalu dia berbalik menatap pemilik penginapan itu dengan pandangan tajam.
Pemilik penginapan itu kini dapat melihat dengan jelas manik mata anak muda itu. Ada bintik kuning di antara kedua matanya yang berwarna abu-abu terang. Mata Anak muda itu seperti mata kucing.
" What the hell are you? You are not a human! you are the beast.! " serunya kemudian melepaskan tembakan ke arah tubuh anak muda itu tiga kali.
dor..! dor...! dor! tembakan itu menembus tubuh anak muda itu namun dia tak bergeming.
Tiba-tiba tangan anak muda itu sudah mencekik leher pemilik penginapan itu.
"Arggghh. .! Pekiknya tertahan. Nafasnya seakan terputus di tenggorokan.
Tangan anak muda itu mencengkeram kuat lehernya seakan hendak meremukkan tulang lehernya membuat wajah lelaki pemilik penginapan itu menjadi tegang dan biru.
Lalu.... Brugh! tubuh pemilik penginapan itu di hempaskan ke belakang hingga jatuh terkulai dengan nafas yang nyaris putus.
__ADS_1
" ****!" bentak lelaki pemilik penginapan itu murka.
Dia menjadi kalap lalu mengambil sebuah balok yang berada di ruangan itu dan menyerang anak muda tersebut memakai balok.
Kembali anak muda itu mendapat hujan pukulan dari lelaki pemilik penginapan itu. Namun tubuhnya seolah tidak berasa sakit. Tangannya menangkap balok yang mendarat di tubuhnya kemudian menarik nya keras hingga pemilik penginapan itu terseret maju ke arah anak muda itu.
Tangannya kembali mencengkram leher pemilik penginapan dan mengangkatnya ke atas sehingga kini tubuh lelaki itu menggantung di udara. Wajahnya membiru karena tak ada pasokan oksigen untuk bernafas.
" you should die, because your sin is to much. you try to rape my woman and kill so many people. Now you have be punished! " katanya dingin.
Setelah berkata demikian dia menghempaskan tubuh lelaki itu kedinding sekeras kerasnya seperti melemparkan kotoran. Terdengar bunyi tulang belulang yang patah karena benturan yang keras.
Lelaki pemilik penginapan itu pun meregang nyawa dengan tulang belulang yang remuk. Kepalanya pecah dan wajahnya juga hancur karena berbenturan dengan tembok ruangan.
Tamat sudah riwayat pemilik penginapan yang cabul dan jahat itu. Rupanya selama ini dia senang sekali menyekap dan menyiksa tamu penginapan terutama wanita yang datang sendiri untuk kemudian diperkosa dan di bunuh setelah dia puas.
Anak muda itu berjalan mendekati tubuh Delia yang masih pingsan tak sadarkan diri. Dia menotok jalan darahnya hingga wanita itu akhirnya tersadar.
Delia menjerit histeris saat melihat tubuh pemilik penginapan yang tewas mengenaskan. Anak muda itu mendekap erat tubuh Delia yang tertutup selimut hanya sebatas perut karena melorot.
" Ammar!" Delia menangis di pelukan Ammar.
" Sudahlah.. jangan menangis lagi. Lelaki itu sudah tewas.! "
Tangis Delia semakin keras tak kala melihat tubuh Yovan yang kini sudah tergeletak kaku tak bernyawa di ambang pintu masuk ruangan bawah tanah.
" Kamu menyesali kematiannya?" tanya Ammar.
Delia menganggukkan kepalanya pelan.
" Dia tadi berusaha untuk menyelamatkan aku!" kata Delia sambil terisak sedih.
" hmm, dia memang sangat mencintaimu, hanya saja dia terlalu bodoh karena membiarkan nafsunya menguasainya! " kata Ammar.
" Cepatlah pakai kembali pakaianmu. Kita akan meninggalkan tempat ini segera sebelum polisi datang!"
Delia segera mengenakan kembali pakaiannya yang tadi sempat di buka paksa oleh pemilik penginapan. Setelah selesai dia menghampiri Ammar yang berdiri membelakangi dirinya.
" Ammar! " panggilnya pelan.
Ammar berbalik dan menatap Delia.
" Kamu sudah selesai?" Delia mengangguk sambil menyeka wajahnya yang sembab.
Ammar mendekati Delia dan membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Lalu bersama - sama keduanya menghilang dari tempat itu secara ghaib.
Sepeninggalan Ammar dan Delia, tempat itu tiba-tiba terbakar dengan sendirinya. Api melalap habis seluruh isi penginapan sampai tak bersisa.
Polisi yang mendatangi tempat itu hanya menemukan tubuh Yovan yang tergeletak tak bernyawa dengan luka tembakan di punggung di ruangan bawah tanah.
Tetapi pemilik penginapan tidak berada di sana. Mereka berusaha mencari si pemilik penginapan namun mereka tak berhasil menemukannya.
Polisi menduga bahwa pemilik penginapan telah terlibat kejahatan lalu menghilang setelah sebelumnya menghilangkan jejak kejahatannya dengan membakar habis penginapan miliknya.
Tak ada yang tahu jika anak buah Ammar telah membawa tubuh lelaki itu dan melemparnya ke danau untuk menjadi santapan buaya - buaya yang lapar di danau itu.
__ADS_1
__ADS_2