BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 16 Geger Majapahit. bagian pertama.


__ADS_3

Adipati Pandan Alas sangat berang mendengar berbagai keberhasilan dari Kadipaten Pamotan terutama masalah yg terjadi di Bali dan pembangunan kembali desa thanda, banyak Adipati yg kagum akan kesuksesan dari Pamotan itu.


Bahkan usaha Adipati Pandan Alas yg ingin membentur kan Kotaraja Majapahit dengan Pamotan pun tidak berhasil.


Akhir nya Sang Adipati Pandan Alas mengumpul kan para pembantu nya membahas masalah itu.


" Bagaimana kakang Patih, apa yg mesti kita usahakan untuk mencegah Pamotan semakin maju , atau supaya Nanda Prabhu Bhatara Purwawisesa mau mengirim kan pasukan ke Pamotan guna memberi peringatan kepada Adipati nya itu,?" tanya Adipati Pandan Alas dengan nada geram.


" Mungkin sebaik nya Gusti Adipati segera menjadi Raja Majapahit ini,!" jawab Patih Kebo Mundira.


" Nampak nya Nanda Prabhu masih enggan untuk menyerah kan kekuasaan atas Majapahit ini kepada ku, mungkin Nanda Prabhu masih merasa kuat karena di belakang nya ada Adipati Pamotan itu, jadi ia masih bertahan dengan sikap nya,!" jelas Sang Adipati Pandan Alas.


" Atau kita pakai siasat seperti waktu itu , menghadang rombongan dari Pamotan, supaya terlihat Pamotan tidak patuh terhadap Kotaraja,!" ucap Patih Kebo Mundira.


" Maksud mu bagaimana kakang Patih,?" tanya Adipati Pandan Alas tidak mengerti.


" Begini Gusti Adipati, sebentar lagi adalah acara ulu bekti, jadi sudah barang tentu Pamotan akan mengirim utusan untuk mengantar kan upeti ke kotaraja Majapahit, jadi para utusan Pamotan serta barang bawaan nya kita rampas dan pengawal nya kita bunuh sekalian, jadi terlihat bahwa Pamotan tidak mau tunduk dan patuh kepada Majapahit,!' jelas Patih Kebo Mundira.


" Hemmph, boleh juga usul mu itu kakang Patih, tetapi siapa yg bisa kita andal kan untuk mencegat rombongan dari Pamotan itu, apakah kakang Patih sendiri,?" tanya Adipati Pandan Alas kepada Patih Kebo Mundira.


" Kurasa tidak perlu aku yg turun tangan karena masih banyak Punggawa Kadipaten Pandan Alas yg sanggup melakukan nya, karena tentu utusan itu bukan Adipati Pamotan sendiri, jadi masih bisa di atasi oleh orang kita,!" ungkap Patih Kebo Mundira.


" Kau benar kakang Patih tentu utusan Pamotan itu hanya setingkat Tumenggung, jadi para Tumenggung dari Pandan Alas tentu sanggup mengatasi nya,!" ujar Adipati Pandan alas.


" Benar Gusti Adipati, Tumenggung Pandan Alas tentu sanggup menyelesai kan utusan dari Pamotan itu,!" jawab Patih Kebo Mundira.


" Siapa kira-kira yg bisa kita percaya untuk menjalankan pekerjaan itu,?" tanya Adipati Pandan Alas.


" Kukira Tumenggung Jarak Jalu dan Wiratanu sanggup mengemban tugas itu di tambah dua puluh orang prajurit terpilih,!" kata Patih Kebo Mundira.


" Baik lah, bagaimana Tumenggung Jarak Jalu dan Wiratanu apakah kalian bersedia menjalan kan tugas ini,?" tanya Adipati Pandan Alas kepada Tumenggung Jarak Jalu dan Wiratanu.


" Sendika dawuh gusti Adipati, kami bersedia menjalan kan titah Gusti Adipati, !" jawab kedua nya bersama an.


" Bagus, Kuharap kalian berdua tidak gagal lagi seperti waktu menghadang rombongan Adipati DAhA waktu itu,!" ucap Adipati Pandan Alas.


" Karena kali ini tentu rombongan itu akan di kawal dengan beberapa Tumenggung saja,,' kata Adipati pandan Alas lagi.


" Dan untuk Tumenggung Surengrana perkuat pasukan jangan sampai kita kecolongan seperti saat yg lalu, juga untuk Kakang Patih dan Anakmas Mahisa Dara, Aku perintah kan sebagai utusan mengantar kan upeti ke kotaraja,!" terdengar perintah dari Adipati Pandan Alas itu.


" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" jawab para pembantu setia Adipati Pandan Alas.


Kemudian segera lah Tumenggung Jarak Jalu mempersiap kan prajurit yg akan di bawa menghadang utusan dari Pamotan pembawa ulubekti ke keraton Majapahit itu.


Tumenggung Jarak Jalu dan Tumenggung Wiratanu membawa serta dua puluh prajurit terpilih yg akan menyertai mereka.


Kedua Tumenggung itu berniat mencegat utusan dari Pamotan di luar Kota raja Majapahit.


*********

__ADS_1


Di Pamotan sendiri , Adipati Pamotan sedang mempersiap kan satu rombongan pengantar ulu bekti ke kotaraja Majapahit yg akan di pimpin oleh dua orang Tumenggung kembar yaitu Tumenggung Rapala dan Rapada.


" Setengah purnama lagi adalah sidang paseban di Kota raja Majapahit dengan penerimaan upeti dari para Adipati, oleh sebab itu Aku perintah kan kepada Tumenggung Rapala dan Rapada untuk mengawal upeti Pamotan itu,!" tutur Adipati Pamotan.


" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" ucap kedua Tumenggung kembar itu.


" Namun kali ini mereka berdua akan di kawal oleh sepuluh orang lurah Prajurit Balasewu, karena keadaan saat kini sedang tidak menentu, Kemungkinan penghadangan utusan dari Pamotan bisa terjadi, sehingga di perlu kan pengawalan yg ketat tidak seperti biasanya,!" ujar Adipati Pamotan lagi.


" Ampun kan hamba Gusti Adipati, apakah tidak terlalu sedikit prajurit yg menyertai Tumenggung Rapada dan Rapala itu, sepuluh prajurit terlalu sedikit kalau menurut hamba,!" ungkap Patih Sengguruh.


" Tidak Paman Patih karena terbukti kemampuan dari prajurit Balasewu dengan di perbantu kan saat perang di Bali, dan kali ini pun yg di kirim mengawal upeti itu adalah lurah Prajurit dari pasukan Balasewu,!" terdengar penjelasan dari Adipati Pamotan itu.


Adalah Senopati Lembu Petala yg berkata,


" Sebaik nya pemimpin nya di tambah satu orang lagi Gusti Adipati, dan saran hamba Tumenggung Srengganu turut ke kotaraja Majapahit itu mengawal upeti dari Pamotan ini,!"


" Baik lah, Tumenggung Srengganu Aku perintah kan menyertai Tumenggung Rapada dan Rapala mengawal upeti dari Pamotan ini,!" ucap Adipati Pamotan.


" Sendika dawuh Gusti Adipati, hamba siap menjalan kan titah Gusti Adipati,!" ucap Tumenggung Srengganu sambil menjura hormat.


" Besok kalian sudah bisa mempersiap kan segala sesuatu nya,!" perintah dari Adipati Pamotan.


Kemudian sidang yg di gelar Adipati Pamotan itu bubar setelah Adipati Pamotan meninggal kan balairung istana Kadipaten Pamotan.


Sementara itu yg telah di tunjuk melaksanakan tugas telah bersiap.


Termasuk Lurah Prajurit Balasewu yg berjumlah sepuluh orang itu.


Ke sepuluh Lurah prajurit Balasewu itu yg pernah turut berperang di Bali pada saat pecah perang antara Kerajaan gel gel dengan Semprangan.


Mereka merupakan prajurit terpilih dari kesatuan prajurit Balasewu yg merupakan lurah Prajurit yg membawahi seratus orang prajurit Balasewu itu


Adalah Sasra Bahu dan Wiera. Tantra berbincang tentang penunjukkan mereka mengawal kiriman upeti tersebut.


" Adi Tantra, apakah Gusti Adipati mempunyai firasat bahwa pengiriman upeti kali ini bakal menghadapi halangan sehingga pengawalan di perbanyak dan dari kesatuan Balasewu,?" tanya Sasra Bahu kepada adik seperguruan nya itu.


" Mungkin kakang, mengingat banyak nya kadipaten yg terlalu memuji Pamotan, sehingga bisa jadi Kadipaten Pandan Alas akan mengambil langkah- langkah yg tidak sesuai paugeran,!" jawab Wiera Tantra.


" Mungkin juga, dengan menghadang rombongan upeti dan merampas nya tentu akan membuat malu Pamotan di mata Prabhu Bhatara purwawisesa, dan ada alasan untuk menyrang pamotan,!" ujar Sasra Bahu lagi.


" Kang berarti ke berangkatan kita kali ini akan menemui hambatan dan bisa jadi akan menyulit kan kita,!" seru Wiera Tantra.


" Oleh karena itu sebaik nya kita menghadap Arya bor-bor untuk memintai saran nyà,!'' kata Sasra Bahu kepada adik nya itu.


" Bagus juga usulan mu itu Kang , mari kita datangi Paman Arya bor-bor itu,!" ucap Wiera Tantra.


Kedua nya kemudian mendatangi Arya bor-bor di kediaman nya.


Setelah bertemu kedua nya kemudian berkata,

__ADS_1


" Paman bor-bor, kami ingin minta pendapat dan dari paman,!" kata Sasra Bahu.


" Hehh, bantuan apa yg kalian perlu kan,?" tanya Arya bor-bor heran.


" Paman, sewaktu di Bali kan Paman memberi kami minuman yg bisa membuat kami kebal, jadi keberangkatan kali inipun kami ingin mendapat air minum itu,!" kata Wiera Tantra menjelas kan.


" Ohh, kalau masalah itu ada di tangan Kanjeng Guru, nanti akan Aku minta kan kepada nya,!" ucap Arya bor-bor.


" Mudah-mudahan besok kalian mendapat kannya,!" ujar Arya bor-bor lagi.


" Baiklah Paman , besok kami akan kembali kemari,!" kata Sasra Bahu lagi.


Kedua nya kemudian meninggal kan rumah dari Hantu Kali mayit itu.


Sedang kan Hantu Kali mayit setelah mendapati permintaan dari bawahan nya itu segera menghadap junjungan nya , adipati Pamotan.


Setelah bertemu dengan Wikala , Arya bor-bor segera mencerita kan permintaan dari Lurah prajurit Balasewu itu dan Wikala pun memahami nya dan menyerah kan kembali cincin Kalademit kepada Arya bor-bor.


Keesokan nya seluruh lurah prajurit Balasewu datang ke rumah Arya bor-bor, dan setelah mendapat air minum dari Hantu Kali mayit itu , ke sepuluh lurah prajurit Balasewu kembali ke barak nya masing-masing.


Setelah persiapan ke berangkatan dari rombongan pengawal upeti yg akan di antar kan ke kotaraja Majaphit rampung.


Berangkat lah rombongan itu dengan membawa sebuah pedati yg berisi kan barang-barang yg akan di serah kan ke hadapan sang Prabhu Bhàtàra purwawisesa dengan di kawal tiga belas prajurit di tambah seorang kusir pedati.


Keberangkatan mereka di lepas langsung oleh Sang Adipati dan pembesar kadipaten Pamotan.


Jalan dari rombongan itu terlihat sangat lambat karena adanya sebuah pedati. Namun itu tidak menyurut kan semangat tiga belas prajurit Pamotan yg di pimpin oleh tiga orang Tumenggung.


" Mengapa Gusti Adipati terlalu risau tentang pengiriman ulu bekti ini,?" tanya Tumenggung Rapada kepada Tumenggung Rapala.


" Mungkin Adipati mencemas kan kejadian yg trrjadi waktu itu, tentang penghadangan rombongan kita sekembali dari kotaraja,!' jawab Tumenggung Rapala.


" Tetapi mengapa mesti melibat kan pasukan Balasewu,?" tanya Tumenggung Rapada lagi.


" Selain karena kemampuan , mungkin Gusti Adipati ingin menyelidiki keadaan dari Kotaraja Majapahit,!" jawab Tumenggung Rapala.


" Masuk di akal juga jawabanmu itu Rapala, karena memang para Lurah Prajurit Balasewu merupakan prajurit telik sandi yg handal,!" ungkap Tumenggung Rapada yg terus menjalan kan kuda nya secara perlahan , ketiga Tumenggung itu berada di barisan terdepan dari rombongan pengawal Upeti tersebut.


Ketiks mereka melewati ara-ara dimana mereka beberapa waktu lalu di hadang oleh Para Prajurit Pandan Alas, berkata lah Tumenggung Rapada kepada tumenggung srengganu,


" Adi Srengganu di sini lah kami dan Gusti Adipati di hadang oleh prajurit Pandan Alas yg di pimpin oleh Senopati Kebo Ndaru, seorang kepercayaan dari Adipati Pandan Alas karena merupakan adik seperguruan dari Patih Kebo Mundira,!" ucap Tumenggung Rapada menjelas kan kepada Tumenggung Srengganu yg pada waktu itu tidak ikut dalam rombongan.


" Berapa jumlah prajurit Pandan Alas itu,?" tanya Tumenggung Srengganu kepada Tumenggung Rapada.


" Mungkin empat puluh orang di tambah empat senopati nya,!' jawab Tumenggung Rapada.


" Dan Akhir nya mereka kalah,?" tanya Tumenggung Srengganu lagi.


" Hampir seluruh prajurit Pandan alas itu tewas, hanya tersisa beberapa orang saja,!" jawab Tumenggung Rapada.

__ADS_1


Kedua nya asyik bercerita di dalam perjalanan itu hingga malam menjelang rombongan itu berhenti di sebuah hutan kecil, untuk sekedar beristrahat dan memberi makan kuda-kudanya dan Lembu penarik pedati itu.


%%%%%%%%%(((((())))))%%%%%%%%%%


__ADS_2