BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 16 Geger Majapahit bagian kelima.


__ADS_3

Segera Lembu Petala menyiap kan lima ratus orang prajurit dari kesatuan Balasewu.


Kemudian salah seorang prajurit di suruh ber gerak lebih dahulu untuk memberitahu kan kepada Adipati kahuripan bahwa mereka akan melintasi wilayah kadipaten itu.


Sementara yg lain segera menyiap kan kuda-kuda terbaik untuk berangkat ke kotaraja Majapahit. Setelah selesai lima ratus prajurit Balasewu segera bergerak dengan cepat menuju ke kotaraja.


Sesuai perintah dari Adipati Pamotan bahwa tugas mereka adalah menyelamat kan Tumenggung Singha Wara sekeluarga.


Dengan cepat pasukan itu bergerak dengan di pimpin oleh Senopati nya Lembu Petala dan Arya bor bor, dua orang kepercayaan dari Adipati Pamotan.


Setelah dua hari perjalanan sampai lah pasukan itu di perbatasan antara Kahuripan dan kotaraja.


Ketika pasukan Balasewu itu memasuki wilayah Kota Raja Majapahit, akhir nya mereka harus membagi pasukan itu.


Sebahagian pasukan yg berjumlah tiga ratus orang di tinggal di sebuah hutan , sedang kan sisa nya masuk ke dusun yg terdekat dengan Kota Raja Majapahit.


Sesampai nya di dusun itu, alangkah terkejut nya pasukan Balasewu itu ketika mendengar berita ontran-ontran bahwa Sang Prabhu Bhatara purwawisesa telah tewas. Mendengar hal yg menggeger kan itu. Lembu Petala mengirim kan seorang prajurit mengabar kan berita yg menggeger kan Majapahit itu ke kadipaten Pamotan.


Sedang kan Pasukan Balasewu terpaksa ter tahan untuk masuk ke kotaraja Majapahit.


Berkata lah Arya bor bor,


" Bagaimana Petala harus kah kita terus mendekati kotaraja Majapahit,?" tanya nya kepada Lembu Petala.


" Sebaik nya kita terus mendekat ke benteng Kota Raja Majapahit itu,!" ucap Lembu Petala.


" Apa tidak sebaik nya kita mengirim kan prajurit sandi untuk mengetahui kejadian yg sebernar nya di kota raja Majapahit ini,!" kata Arya bor bor lagi.


" Maksud mu bagaimana,?" tanya Lembu Petala.


" Kita kirim prajurit sandi yg menyamar untuk masuk ke dalam kotaraja dan kita tetap mendekati benteng ibukota itu, nanti setelah mendapat kan berita yg jelas kita kemudian berusaha masuk ke dalam,!" jawab Arya bor bor.


" Baik lah , panggil prajurit Nawu kemari,!" ter dengar perintah dari Lembu Petala kepada salah seorang prajurit Balasewu.


Setelah seorang prajurit yg bernama Nawu itu datang akhir nya Lembu Petala memerintah kan prajurit itu untuk masuk ke dalam kota raja menyamar sebagai pedagang keliling yg akan membawa barang dagangan yg akan di tawarkan ke dalam kaputren.


Prajurit Balasewu yg ber nama Nawu dan empat orang yg lainnya segera merubah penampilan nya menjadi seorang saudagar dengan di kawal oleh empat orang.

__ADS_1


Kelima prajurit Balasewu itu segera berkuda masuk menuju gerbang kota raja sebelah timur dari keraton Majapahit itu.


Setelah melewati pos jaga di pintu gerbang akhir nya mereka menuju ke kediaman dari Tumenggung Singha Wara.


Sesampai nya di kediaman sang tumenggung , prajurit Balasewu menyamar sebagai saudagar itu segera membuka identitas nya yg menyebut kan bahwa mereka utusan yg di kirim oleh adipati pamotan untuk menjemput Tumenggung singha wara se keluarga.


Tumenggung Singha Wara amat senang mendengar nya. Kemudian prajurit Balasewu yg ber nama Nawu itu bertanya,


" Benar kah ontran-ontran yg telah kami dengar itu Gusti Tumenggung,?" tanya nya kepada Tumenggung singha wara.


" Benar, Gusti Prabhu Bhatara purwawisesa telah tewas di racun dan untuk lebih jelas nya kalian bisa bertanya langsung kepada emban Istana bagaimana kejadian nya,!" ucap Tumenggung Singha Wara.


" Dan bagaimana dengan nasib Gusti Tumenggung sendiri, apakah istri dan anak Tumenggung telah bersiap untuk keluar dari sini?" tanya prajurit Balasewu itu.


" Sudah , dan kami tahu jalan rahasia untuk keluar dari Kotaraja ini dengan aman, cuma masalah nya, tentu anak dan istriku tidak dapat ber gerak cepat sehingga Aku membutuh kan kalian untuk menghalangi pengejaran para prajurit Majapahit,!" ucap Tumenggung Singha Wara.


Setelah membicara kan, bagaimana jalan keluar terbaik dari dalam kotaraja Majapahit itu, dan prajurit Balasewu itu pun telah mendapat kan tentang berita yg jelas dengan tewas sang Prabhu Bhàtàra purwawisesa dari emban yg merupa kan prajurit sandi dari Pamotan itu.


Maka prajurit Balasewu yg bernama Nawu, mengirim kan teman nya menyampai kan berita itu kepada Senopati Lembu Petala yg berada di luar gerbang Kota Raja.


Setelah mendapat kan laporan yg jelas, akhir nya bekas Bekel Bhayangkara di masa Prabhu Rajasawardhana itu segera menyiap kan pengawal an, atas pelarian dari Tumenggung Singha Wara yg telah me njadi tahanan rumah oleh kerajaan Majapahit.


Ketika malam menjelang, bergerak lah Tumenggung Singha Wara ke utara, merupakan daerah yg sedikit penjagaan nya. Beberapa kali mereka harus ber sembunyi menghindari para prajurit Majapahit yg sedang meronda.


Sesampai nya di gerbang utara itu kembali mereka harus terhenti untuk memikir kan cara menembus penjagaan itu.


Akhir nya prajurit Nawu berkata ,


" Sebaik nya kita pancing para prajurit itu untuk mengejarku, kemudian Gusti Tumenggung dan keluarga bisa keluar secepat nya,!" kata prajurit Balasewu itu.


" Akan tetapi jika mereka tidak akan mengejar mu seluruh nya tentu kami akan di kejar oleh yg lain nya,!" ucap Tumenggung Singha Wara.


" Jadi bagaimana cara nya kita keluar dari gerbang itu,?" tanya Nawu lagi.


" Ijin kan aku untuk melumpuh kan mereka, Gusti Tumenggung,!" ucap salah seorang prajurit Balasewu itu.


" Oh ya , silahkan,!" ucap Tumenggung Singha Wara.

__ADS_1


Kemudian prajurit Balasewu yg merupakan teman dari Nawu itu terlihat mulut nya komat-kamit membaca mantera dan ia pun mengeluar kan sesuatu dari balik baju nya kemudian melempar kan ke arah pintu gerbang yg tengah di jaga beberapa orang prajurit Majapahit.


Setelah menunggu beberapa saat , terlihat lah hasil dari perbuatan dari prajurit Balasewu itu, secara mendadak seluruh prajurit penjaga gerbang itu tiba-tiba ambruk, mereka terkena sirep yg telah di keluar kan oleh prajurit Pamotan dari kesatuan Balasewu itu.


Tanpa menunggu lama rombongan itu segera keluar dari gerbang sebelah utara kota raja Majapahit itu.


Namun rupa nya saat itu hari tengah malam, di mana saat per tukaran prajurit jaga. Begitu para prajurit baru yg akan mengganti kan teman-teman nya itu melihat seluruh prajurit penjaga gerbang sebelah utara itu tertidur pulas semua nya membuat prajurit pengganti itu sontak membunyi kan kentongan titir.


Ketika terdengar bunyi kentongan titir itu, Tumenggung singha Wara belum terlalu jauh keluar dari gerbang kota.


" Cepat diajeng kita harus segera mencapai tempat yg telah di tentu kan itu, jangan sampai para prajurit itu dapat mengejar kita,!" kata Tumenggung singha wara kepada istri nya Itu.


Kemudian sang Istri berkata,


" Ini kakang Tumenggung yg menggendong si ragil,!" ucap nya sambil menyerah kan anak nya itu kepada Tumenggung singha wara.


Tumenggung Singha Wara segera menerima anak nya itu dan gantian menggendong nya.


Namun di kejauhan terdengar derap langkah kaki kuda yg mengarah kepada mereka , jelas itu adalah suara kaki-kaki kuda dari prajurit Majapahit.


Degup jantung rombongan itu semakin kencang ketika derap kaki-kaki kuda semakin dekat.


Akhir nya rombongan Tumenggung singha Wara itu berhasil di kejar oleh prajurit Majapahit.


" Hehh, kalian berhenti, jangan ada coba-coba melari kan diri,!" ucap seorang pemimpin prajurit Majapahit itu.


Serentak rombongan Tumenggung singha wara itu berhenti.


" Hehh, rupanya kakang Tumenggung singha Wara, mau kemana malam-, malam begini dan,.... bukan kah kakang Tumenggung masih dalam tahanan rumah,!" seru pemimpin prajurit Majapahit itu yg ternyata seorang Tumenggung muda yg bernama Tumenggung Lirbaya.


" Heh , adi Lirbaya, ini aku Tumenggung singha wara ,!" ucap Tumenggung Singha Wara.


" Apakah kakang Singha Wara akan melari kan diri, dan siapa mereka yg bersama dengan kakang itu,?" tanya Tumenggung Lirbaya lagi.


" Ini adalah sanak kadang ku, mereka mengabar kan bahwa orang tua istri ku telah meninggal dunia, jadi kami harus segera kesana,!" jawab Tumenggung singha Wara berbohong.


" Ahh, kakang pikir aku ini seorang anak kecil yg dapat kakang bohongi , prajurit tangkap mereka jangan sampai ada yg lolos,!" ter dengar perintah dari Tumenggung Lirbaya kepada para prajurit nya itu.

__ADS_1


((((((((((((((((""""""""------------))))))))))))))))))


__ADS_2