
__ADS_3
" Hehh,benar juga ucapanmu itu Paman Patih, kalau begitu biar Aku yg menghadapi pasukan yg berasal dari Kahuripan di sebelah Timur itu,!" ucap Mahisa Dara.
Ia jeri men dengar nama Adipati Pamotan, sehingga ia menempat kan diri nya untuk tidak ber hadapan dengan Sang Bhre Kertabhumi itu.
" Biar lah kangmas Wengker yg menghadapi Adipati Pamotan itu, kalau di sebelah timur, paling akan ber hadapan dengan Tumenggung Singha Wara atau paling banter menghadapi Adipati Kahuripan saja,!" kata Mahisa Dara dalam hati.
" Pangeran, apakah belum mendengar hasil dari perang tanding di Puncak Semeru itu,?" tanya Patih Lohdaya.
" Belum Paman, !" jawab Mahisa Dara.
" Apakah Gusti Prabhu akan turun dalam peperangan kali ini,?" tanya Patih Lohdaya.
" Tidak , Ramanda Prabhu tidak akan turun dalam peperangan kali ini, seperti peperangan sebelum nya, Ramanda Prabhu tidak mau turun, semua nya ter serah kepada kami selaku putra-putri nya, oleh sebab itu Paman Patih Lohdaya kami daulat sebagai Senopati Agung Majapah,it untuk kali ini,!" ucap Mahisa Dara.
" Pangeran siapakah gerangan yg akan menjadi lawan dengan Adipati Pamotan itu, kalau di kumpul kan seluruh Punggawa Pinunjul Majapahit ini rasa nya tidak akan ada sanggup untuk menandingi Adipati Pamotan itu , siapa kah yg pantas untuk menghadapi nya,!" ucap Patih Lohdaya.
Kedua orang Pembesar Majapahit itu ter diam ketika Patih Lohdaya menyebut kan nama tadi.
" Begini saja Paman Patih, jika memang harus menghadapi Adipati Pamotan itu, sebaik nya di buat suatu Kelompok dari beberapa orang yg linuwih untuk mengeroyok Adipati Pamotan itu,!" kata Mahisa Dara.
Patih Lohdaya menatap wajah Mahisa Dara cukup lama, ia seperti nya menyetujui usul ter sebut.
Ke esokan hari nya di Istana kepatihan Majapahit kembali ber kumpul beberapa orang pembesar Majapahit namun kali ini Mahisa Dara tidak ada di situ,ia tengah menyambut kedatangan pasukan dari Wengker yg langsung di pimpin oleh Adipati Wengker sendiri.
" Kepada seluruh Punggawa Majapahit, saat ini kita tengah di hadap kan kedatangan pasukan yg sangat-sangat besar dari Kadipaten Pamotan yg juga di dukung oleh sebahagian besar Kadipaten yg ada di tlatah Majapahit ini, jadi selaku pemangku kebijakan keamanan dari Kotaraja Majapahit ini, saya Patih Lohdaya meminta usulan dari kalian semua untuk mengatasi pasukan Pamotan itu,!" kata Patih Lohdaya membuka pembicaraan.
Para Punggawa Majapahit dari jabatan Rakryan Mantri sampai Lurah prajurit yg berada di situ ter lihat tegang, mereka merasa kan bahwa perang yg akan mereka hadapi kali ini adalah perang yg ter sulit buat mereka di karena kan selain jumlah prajurit yg tidak seimbang di tanbah lagi para Senopati dari Majapahit masih di bawah dari Senopati Kadipaten Pamotan itu. Karena umum nya Senopati yg berada di Kadipaten Pamotan adalah bekas Senopati Majapahit saat masih di pimpin oleh Prabhu Rajasawardhana, sehingga sudah ter bukti kemampuan nya.
Sedang kan yg berada di Kotaraja Majapahit ini, para Senopati nya adalah senopati dari Kadipaten Pandan Alas.
Karena hal ter sebut, Patih Lohdaya sangat sulit menentu kan para pembantu nya untuk mengisi pos -pos pada benteng per tahanan Majapahit saat ini.
Salah seorang Tumenggung dari kesatuan armada laut Majapahit yaitu Tumenggung Watulangka segera angkat bicara,
" Ampun Gusti Patih, kalau menurut kami sebaik nya Majapahit menyerah saja kepada Pamotan, untuk menghindari banyak jatuh korban, di saat ini Majapahit sudah sangat kesulitan untuk mencari makan, di tambah lagi dengan perang, tentu akan semakin banyak jatuh korban,!" ucap Tumenggung Watulangka.
" Ampun Gusti Patih, kami tidak setuju dengan usulan dari Tumenggung Watulangka itu, karena kita berada di pihak yg benar dari pemerintahan yg sah, tidak selayak nya kita menyerah, harus menyerah itu adalah Adipati Pamotan itu, yg telah berani mbalela terhadap Gusti Prabhu Suraprabhawa, Raja Majapahit ini,!" kata Penasehat Arya Kangga dengan ber api -api.
" Akan tetapi kita juga harus melihat kenyataan yg di hadapi, bahwa Kotaraja Majapahit ini kalah dalam segala hal, dari Prajurit nya sampai para Senopati nya, mungkin kalau Kota raja sanggup ber tahan tiga hari itu suatu pencapaian yg sangat -sangat baik,!" tutur Tumenggung Gangsar men dukung ususlan Tumenggung Watu langka.
" Ahh, tidak mungkin Kotaraja hanya mampu ber tahan tiga hari, apakah prajurit Majapahit ini memang tidak me miliki kepandaian dan keberanian, atau hanya besar di mulut saja, kita belum menjalani nya tetapi sudah mau menyerah begitu saja, malu selaku prajurit dari sebuah Kerajaan yg besar, para Punggawa nya jadi ketakutan dan akan menyerah,!" kata Tumenggung Surengrana dengan wajah merah padam
Setelah men dengar per debatan di kalangan para petinggi Majapahit itu, Akhir nya Patih Lohdaya berkata untuk menengahi nya,
" Kalian berada di sini untuk di mintai pendapat nya bukan untuk ber tengkar, di saat musuh di depan mata, kita para petinggi Majapahit malah sibuk dengan pendapat masing -masing bukan nya ber satu malah ter pecah, bagaimana kita akan memenang kan perang ini,?"
Semua yg men dengar kata-kata dari Patih Lohdaya itu ter diam.
__ADS_1
Sebahagian sependapat dengan Patih Lohdaya namun sebahagian lagi tidak.
Sedang kan pengaruh dari Patih Lohdaya kurang di anggap dari para Petinggi Majapahit itu, karena umum nya mereka tahu kebijakan nya di ambil dari keputusan Mahisa Dara. Bukan atas per timbangan nya sendiri.
Dan di antara para Petinggi Majapahit itu telah banyak yg ber fihak ke Pamotan, sehingga hanya tinggal setengah nya saja yg masih setia kepada Prabhu Suraprabhawa.
Umum nya yg masih setia berasal dari Kadipaten Pandan Alas dan sebahagian kecil dari Kadipaten Wengker.
" Kami harap , kita bisa menyatu kan pandangan guna menahan serangan dari Pamotan itu, siapa kah yg pantas untuk ber hadapan dengan Adipati Pamotan itu,?" tanya Patih Lohdaya.
Seluruh petinggi Majapahit itu diam dan saling ber pandangan satu sama dengan yg lain nya.
Mereka se olah tidak dapat menemu kan jawaban nya. Cukup lama suasana hening ter jadi di istana kepatihan itu.
Arya Kangga selaku penasehat dari Prabhu Suraprabhawa, yg biasa cukup cerdas untuk mengatasi persoalan yg pelik untuk di pecah kan, namun kali ini ia pun menemui jalan buntu untuk mengaju kan satu nama.
" Bagaimana ini, untuk menghadapi satu orang saja dari Pamotan kita sudah kesulitan, sedang kan Kadipaten Pamotan memiliki banyak Senopati tangguh, seperti Senopati Lembu Petala, Arya bor-bor, Naja Pratanu, Tumenggung Kembar, belum lagi para Adipati nya,!" ungkap Patih Lohdaya.
Memang sangat sulit untuk memberi kan satu nama untuk menghadapi Adipati Pamotan itu.
Arya Kangga akhir nya berkata,
" Sebaik nya lah Kakang Patih Lohdaya sendiri lah yg menghadapi Adipati Pamotan itu,!'
" Baik lah , apakah kita sepakat akan hal ini,?" tanya Patih Lohdaya.
" Kami setuju Gusti Patih,...!!!!?'" jawab para Petinggi Majapahit itu serempak.
Adalah Tumenggung Watulangka yg kemudian menjawab kata -,kata dari Patih Lohdaya itu.
" Bukan kah kami akan ber tahan di tempuran sebagai armada laut Majapahit ini, dan tempat itu mesti kami jaga supaya tidak jatuh ke tangan musuh,!" kata Tumenggung Watulangka.
" Seluruh armada laut Majapahit akan di tarik ke dalam kotaraja Majapahit ini, biarlah landasan armada laut di Tempuran itu di kosong kan, karena kita melakukan per tahanan total di dalam benteng Kotaraja Majapahit ini,!" jelas Patih Lohdaya.
Tumenggung Watulangka ter sentak mendengar per nyataan dari Patih Lohdaya itu, ia tidak menyangka seluruh prajurit yg di bawah kendali nya akan di tarik seluruh nya ke Kotaraja Majapahit.
Tentu saja kemampuan prajurit dari armada laut kurang berguna jika harus ber perang di darat. Tetapi keputusan telah di ambil oleh Patih Lohdaya bahwa seluruh prajurit Majapahit akan ber tahan di dalam benteng Kotaraja Majapahit.
*********
Sementara di Kadipaten Tumapel tepat nya di desa Antang, di barak prajurit dari Kadipaten Pamotan yg telah selesai di bangun itu, ter lihat Wikala sang Adipati Pamotan di dampingi dua orang kepercayaan nya tengah melakukan pembicaraan dengan para petinggi kadipaten Pamotan yg lain dan di situ turut pula hadir Adipati Tumapel.
" Syukur lah, anakmas Adipati Pamotan telah hadir di sini dalam keadaan selamat, karena yg kami dengar tengah mengada kan perang Tanding dengan seorang Bikshu dari Tibet,!" ucap Adipati Tumapel kepada Adipati Pamotan.
" Berkat lindungan Hyang Widhi wasa, Kami masih selamat Paman Adipati, dan berkat doa kalian semua sehingga kita masih bisa ber temu lagi di tempat ini,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Apakah Bikshu dari Tibet itu ber hasil anakmas kalah kan,?" tanya Adipati Tumapel lagi.
__ADS_1
" Sebenar nya tidak Paman Adipati, akan tetapi ia menyerah dan tidak mau melanjut kan perang Tanding itu,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan lagi.
" Alasan nya apa anakmas sehingga beliau menyerah,?" tanya Adipati Tumapel.
Kemudian Wikala sang Adipati Pamotan menceritera kan serba sedikit tentang alasan dari Bikshu Ganggadhara yg berasal dari Tibet itu menyerah, yg membuat semua orang yg berada di tempat itu ter kagum -kagum dengan sikap yg telah di ambil dari Junjungan nya itu.
" Ahh, kalau mungkin Paman yg berada dalam posisi dari anakmas, tentu Bikshu dari Tibet itu sudah pulang tinggal nama nya saja,!" ucap Adipati Tumapel sambil ter senyum.
Wikala sang Adipati Pamotan itu hanya ter senyum tipis men dengar kelakar dari Adipati Tumapel itu.
" Gusti Adipati, apakah akan terus ke Kandangan atau akan di sini sampai penyerangan di mulai,?" tanya Tumenggung Rapada yg menjadi pemegang kekuasaan atas kelengkapan dari Pasukan kadipaten Pamotan itu ter masuk yg berada di Kahuripan.
" Mungkin besok atau lusa kami, maksud ku dengan Arya bor-bor dan Lembu Petala akan ke Kandangan dan selanjut nya ke Pakal, setelah semua nya siap baru kita akan menyerang Kotaraja Majapahit itu,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
" Apakah kita akan menyerang tempuran lebih dahulu ,Gusti Adipati,?" Tanya Rangga Rawelu.
Karena Rangga Rawelu dan Rangga Jumena pernah ber hadapan dengan Tumenggung Watulangka, seorang Senopati dari armada laut Majapahit dan ber landasan di Tempuran.
" Menurut dari para prajurit sandi Pamotan, prajurit yg berada di Tempuran di tarik ke dalam kotaraja Majapahit, mereka akan ber tahan sepenuh nya di dalam benteng Kota, jadi kita tidak perlu ber hadapan dengan armada laut Majapahit yg berada di Tempuran itu,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
" Hehh, mereka menarik seluruh pasukan nya yg berada di Tempuran itu, Anakmas Adipati,?' tanya Adipati Tumapel heran.
" Benar paman, dan di dalam tubuh pasukan Majapahit itu saat ini pun telah ter pecah menjadi dua, yg satu masih tetap setia kepada Prabhu Suraprabhawa dan yg satu nya lagi telah ber pihak kepada Pamotan, !" ucap Wikala Sang Adipati Pamotan.
" Berarti tugas kita akan sangat -sangat mudah untuk memenang kan peperangan kali ini,!" kata Adipati Tumapel.
" Kita belum bisa me masti kan Paman Adipati, yg jelas kita harus berusaha untuk memenang kan peperangan kali ini, apa pun kita tidak boleh ter lalu jumawa dan memandang rendah lawan yg kita hadapi, meskipun Kotaraja Majapahit saat ini ter lihat lemah, tetapi dengan adanya Mahisa Dara yg licik itu di sana, apa pun bisa terjadi,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
Memang para petinggi kadipaten Pamotan itu sangat paham akan sepak terjang dari Mahisa Dara itu yg sering melakun sikap mencari untung sendiri, dan bakat nya itu tampak nya turun dari orang tua nya, Rakryan Mantri Kuda Langhi, yg sempat membuat susah keluarga keraton atas sikap nya yg mbalela beberapa waktu yg lampau.
" Apakah Adipati Kabalan akan turun ke mari , Paman Adipati ?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan kepada Adipati Tumapel .
" Mungkin ia akan turun kemari, nanti setelah saat penyerangan ke kotaraja Majapahit itu tiba, karena kadipaten nya saat ini belum aman dari para pengacau, anakmas Adipati,?" jawab Adipati Tumapel.
" Kakang Tumenggung, per bekalan kita apakah mencukupi sampai saat penyerangan nanti" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu kepada Tumenggung Rapada.
" Masih mencukupi Gusti Adipati, karena per bekalan yg kami bawa dari Pamotan tahan untuk dua purnama, dan di tambah lagi dari beberapa kadipaten yg mendukung Pamotan meski mereka tidak mampu mengirim kan pasukan nya untuk datang kemari tetapi mereka mengirim kan per bekalan dan Senjata,!" jelas Tumenggung Rapada.
Malam itu sampai men jelang pagi, para petinggi kadipaten Pamotan sibuk ber bincang masalah penyerangan ke kotaraja Majapahit itu.
Ke esokan hari nya setelah lewat tengah hari, Wikala sang Adipati Pamotan ber gerak ke Tanah perdikan Thandasain yg tidak ter lalu jauh dari desa Antang itu.
Ia masih di temani oleh Senopati Lembu dan Arya bor-bor.
Dan dari pekarangan rumah orangtua nya itu ter lihat putra nya tengah berusaha ber lari menyambut Ramanda nya itu.
" Roo. mmoo,!" kata bocah kecil itu.
__ADS_1
Ia menyongsong kedatangan dari Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Wah Joko thole, telah besar sekarang, sudah mampu mengejar, Romo,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan itu sambil mencubit pipi bocah kecil, putra nya itu.
__ADS_2