
__ADS_3
Sementara para prajurit Majapahit yg sedang menunggu dengan beberapa buah pedati segera mencari tahu tentang ke beradaan dari para perwira nya itu.
Setelah mereka mengetahui keadaan dari ke lima perwira Majapahit itu, akhir nya para prajurit Majapahit segera kembali dan melapor kan tentang kejadian yg ter jadi di kota Daha.
" Demikian lah pangeran, seluruh Rangga yg me lakukan pengambilan paksa dari Kadipaten Daha, tewas semua nya ter masuk juga Gagak Mantruk,!" jelas salah seorang Lurah prajurit itu.
" Hahh, dasar kalian tidak ber guna, kenapa kalian biar kan mereka sendiri meng hadapi para prajurit Daha di kandang nya sendiri, seharus nya kalian membantu Gagak Mantruk dan Rangga Panili itu, bukan hanya sekedar menunggu,!" teriak Mahisa Dara dengan berang nya, hati nya cukup ter pukul akibat ke gagalan tugas yg di beban kan kepada Gagak Mantruk dan para Rangga itu.
Sementara para prajurit Majapahit yg men dengar kemarahan dari menantu Prabhu Suraprabhawa itu diam saja.
Hanya Lurah prajurit itu yg berani menjawab,
" Kami tidak ada di perintah kan untuk membantu hanya di suruh menunggu mereka saja setelah ber hasil mengeluar kan baru kami datang membawa pedati,!" ucap Lurah prajurit itu, yg kesal atas kemarahan Mahisa Dara.
Mahisa Dara sampai melotot memandangi Lurah prajurit itu, sementara sang Lurah tidak berani menatap hanya menunduk kan kepala nya.
" Tetapi kan kalian bisa mengambil keputusan sendiri jika mereka dalam keadaan ter desak dan memerlu kan bantuan, bukan kalian tinggal begitu, ahhh,!" teriak Mahisa Dara.
Kemudian sang menantu dari Raja Majapahit itu ber kata lagi,
" Cepat panggil Tumenggung Ratanu, Lirbaya , Tumenggung Rasawira dan t
Tumenggung wirayuda, suruh mereka cepat menghadap kemari, ada tugas buat mereka,!' seru nya kepada prajurit itu.
Sang prajurit segera ber gerak melaksana kan perintah dari Mahisa Dara itu.
Sedang kan Mahisa Dara mem bubar kan para prajurit Majapahit yg di tugas kan untuk membantu Gagak Mantruk dan para perwira Majapahit. Namun ke jengkelan Mahisa Dara ter hadap para prajurit itu yg tidak mau mem bantu para arasan nya saat di serang prajurit Daha.
Tidak ber selang lama , ke empat Tumenggung yg di panggil oleh Mahisa Dara itu telah hadir.
Tanpa basa basi, Mahisa Dara segera mem beberkan rencana nya kepada para Tumenggung itu, untuk membuat Kekacauan itu seluruh wilayah kadipaten Majapahit yg tidak mau tunduk ter hadap Kota Raja.
__ADS_1
" Kalian semua ku panggil kemari adalah untuk men jalan kan tugas, mem buat kekacauan di wilayah kadipaten yg mbalela itu,!" ter dengar perintah dari Mahisa Dara.
" Maksud Gusti pangeran , kami akan membuat ke onaran di wilayah Majapahit ini?" tanya Tumenggung Ratanu.
" Benar tugas kalian adalah mengambil bahan pangan dari kadipaten-kadipaten pembangkang itu, atau kalau kalian tidak mampu karena penjagaan nya cukup ketat, kalian bakar sekalian bangsal perbekalan mereka itu,!'' jelas Mahisa Dara dengan ber api-api.
" Jadi kadipaten mana saja yg meski kami datangi,?" tanya Tumenggung Rasawira.
" Mulai dari Daha, Kahuripan, Tumapel, Kabalan , Matahun, Paguhan, Pawanuan, Pajang dan bila memungkin kan juga Mataram,!" jawab Mahisa Dara.
" Bagaimana dengan Pamotan, Wengker dan Pandan Alas dan lasem,?" tanya Tumenggung Wirayuda.
" Kalau Wengker dan Pandan Alas, jangan kalian datangi karena mereka masih tunduk terhadap Kotaraja, mengenai Pamotan dan Lasem ter serah kalian,!" kata Mahisa Dara menjawab pertanyaan dari Tumenggung Wirayuda.
" Jadi kami bisa membawa para prajurit Majapahit untuk melaksana kan tugas ini,?" Tumenggung Lirbaya.
" Kalian bisa mengguna kan prajurit Majapahit sebanyak-banyak nya, yg penting tugas kalian harus ber hasil mem buat kekacauan di wilayah Majapahit ini,!" jelas Mahisa Dara lagi.
Kemudian para Tumenggung Majapahit itu keluar dan segera mem persiap kan segala sesuatu dalam mensukses kan tugas itu.
Namun sebelum itu mereka mengada kan pertemuan sendiri.
" Bagaimana ini adi Lirbaya, kita menjalan kan perintah yg cukup keji, seharus nya kita sebagai prajurit Majapahit, menjaga keamanan wilayah Majapahit bukan malah mem buat kekacauan seperti perintah dari pangeran Mahisa Dara itu,!" ungkap Tumenggung Ratanu.
" Ahh, entah lah kakang, seperti nya Majapahit ini akan terjadi goro-goro, dan sial nya kita yg akan melakukan nya,!" jawab Tumenggung Lirbaya.
" Namun sbagai prajurit yg baik kita harus men jalan kan seluruh perintah atasan , suka tidak suka, senang tidak senang, meski pun ber tentangan dengan hati nurani sendiri,!" jelas Tumenggung Rasawira.
" Kalau tahu begini , mending ikut kadipaten Pamotan dan mengabdi di sana,!" seru Tumenggung Wirayuda.
" Kenapa adi Wirayuda ber kata demikian,?" tanya Tumenggung Ratanu heran.
__ADS_1
" Memang demikian lah seharus nya kita, mencontoh sikap dari Adipati Pamotan itu, yg sebenar nya jika ia mau tentu sudah habis umur Prabhu Suraprabhawa ini, akan tetapi ia masih mementing kan nasib rakyat nya dengan berusaha untuk mencukupi bahan pangan di saat kesulitan seperti ini dan mengesamping kan urusan tahta Majapahit,!" jelas Tumenggung Wirayuda.
" Tetapi kita tidak bisa ber buat lain selain menuruti perintah junjungan kita, hehh,!" tutur Tumenggung Ratanu.
" Itu lah sulit nya sebagai prajurit, harus tunduk terhadap junjungan tidak bisa melawan,!" ungkap Tumenggung Rasawira.
Kemudian ke empat Tumenggung Majapahit itu menetap kan suatu rencana bahwa mereka akan mem bagi tugas, masing-masing membawa lima puluh prajurit ter pilih untuk melaksana kan perintah itu dan ke empat mengambil posisi nya masing-masing,
Tumenggung Ratanu akan mengambil Kadipaten Kahuripan sebagai sasaran nya, sedang kan Tumenggung Rasawira, kadipaten Kabalan lah yg akan jadi ajang tugas nya sementara Tumenggung Lirbaya dan Wirayuda kadipaten Tumapel dan Paguhan yg menjadi incaran nya.
Setelah beberapa hari meyiap kan per lengkapan nya, akhir nya ke empat Tumenggung Majapahit itu ber gerak menuju tempat tujuan tugas nya untuk mem buat kekacauan di wilayah kadipaten yg tidak tunduk terhadap Kotaraja Majapahit itu.
Tumenggung Ratanu yg mempunyai tugas di Kahuripan segera menetap kan saat nya untuk masuk ke dalam Kadipaten itu.
Sementara di Kota Kadipaten Kahuripan pun, penjagaan di perketat setelah mendengar penuturan dari prajurit sandi Pamotan bahwa Daha telah di masuki Maling yg ber niat mengambil bahan pangan dari bangsal perbekalan mereka.
Jadi para prajurit sandi memang bekerja keras untuk mengatasi masalah Majapahit itu,yakni bahaya kelaparan yg mengancam di tambah kerusuhan yg akan di timbul kan akibat dari ke kurangan bahan makanan itu.
Penjagaan di Bangsal per bekalan dari Kahuripan pun di lengkapi dengan para Lurah prajurit Balasewu yg sengaja di minta oleh Adipati Kahuripan kepada Paman nya di Pamotan, ter lihat Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra yg sering di pasang kan tengah berada di Kadipaten Kahuripan ber sama Tumenggung Singha Wara yg juga tetap berada di Kahuripan setelah berakhir nya perang dengan Kotaraja pada beberapa waktu yg lalu.
Kesiagaan yg tinggi di Kahuripan menyulit kan tugas dari Tumenggung Ratanu yg akan mengambil bahan pangan itu.
Ia kemudian me rencanakan untuk mem bakar saja gudang per bekalan kadipaten Kahuripan itu.
Di suatu malam yg gelap gulita, lima orang yg ber pakaian hitam hitam keluar dari sebuah hutan dan berusaha mendekati tempat bangsal perbekalan Kadipaten Kahuripan ter sebut.
Di belakang kelima orang ter sebut kemudian keluar lagi lima orang lagi secara ber turut-turut hingga genap lima puluh orang .
Kalau seandai nya Tumenggung Ratanu lebih rapi dalam men jalan kan tugas nya itu tentu ia tidak akan cepat ke tahuan oleh para prajurit kadipaten Kahuripan.
Karena Tumenggung Ratanu mengeluar kan semua prajurit nya, sehingga pada saat yg ter akhir keluar itu ter lihat oleh beberapa orang dan segera me lapor kan kejadian kepada Tumenggung singha Wara.
__ADS_1
" Demikian lah Tumenggung, kami men dapat kan berita ini dari seorang penduduk yg tengah melihat sawah nya, bahwa ada beberapa orang yg mengendap endap mengarah ke bangsal perbekalan itu,!" jelas seorang prajurit Kahuripan.
__ADS_2