
__ADS_3
Bahkan untuk mempercepat perjalanan, sebahagian barang bawaan yg berada di pedati di pindah kan ke kuda tunggangan prajurit Balasewu.
Sehingga mengurangi berat dari beban yg di bawa oleh pedati tersebut.
Ketika melintasi dusun yg terdekat dari Kotaraja Majapahit itu, Rombongan dari Pamotan itu tidak berhenti, mereka terus memacu kuda nya mendekati gerbang kota bahagian sebelah timur dari Majapahit.
Ketika matahari telah condong ke barat sampai lah Rombongan yg di pimpin Tumenggung Rapada, Rapala dan Tumenggung Srengganu di gerbang kota Majapahit.
Setelah melapor kepada prajurit jaga gerbang akhir nya Rombongan Pamotan masuk ke dalam kotaraja Majapahit.
Di dalam kota para prajurit Pamotan segera menuju ke bangsal perbekalan dari Kotaraja guna menyerah kan barang-barang bawaan tersebut.
Sesampai nya di bangsal perbekalan mereka di sambut oleh seorang Tumenggung yg bertugas disana , ia adalah Tumenggung Reksadana.
Tumenggung Reksadana merupakan orang kepercayaan dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa di dalam hal mengatur perbekalan dan perbelanjaan Kerajaan Majapahit. Dan Tumenggung Reksadana amat kenal dengan Tumenggung kembar dari Pamotan itu.
Ketika keempat Tumenggung itu bertemu , bercerita lah Tumenggung Reksadana,
" Nampak nya adi Rapada dan Rapala ini kali terakhir mengantar Upeti ke kotaraja Majapahit ini,!" ucap Sang Tumenggung itu.
Karena tidak mengerti dan tidak tahu maksud dari ucapan Tumenggung Reksadana , bertanya lah Tumenggung Rapada,
" Apa maksud kakang Reksadana mengatakan ini kali terakhir kami mengantar kan Upeti, apakah Majapahit akan,. ..?" terdengar pertanyaan dari Tumenggung Rapada kepada Tumenggung Reksadana.
" Ahh, adi Rapada tidak mengerti,!" kata Tumenggung Reksadana sambil memberi isyarat untuk mendekat, setelah mendekat Tumenggung Reksadana kemudian membisiki sesuatu yg membuat Tumenggung Rapada kaget setengah mati.
Dengan penasaran ia kemudian bertanya,
" Mengapa bisa seperti itu kakang, tidak adakah yg mampu mencegah keputusan dari Sang Prabhu itu,?'
Tumenggung Reksadana hanya menggeleng dan terlihat pandangan nya kosong menatap barang-barang bawaan dari Pamotan itu yg tengah di bawa masuk ke dalam bangsal perbekalan tersebut oleh beberapa prajurit Majapahit, setelah sebelum nya di hitung salah seorang Nayaka praja Majapahit.
" Mungkin benar kata Kakang Reksadana ,ini terakhir kali nya kami mengantar Upeti ke kotaraja Majapahit ini, mungkin,,!" gumam Tumenggung Rapada, memecahkan keheningan itu.
Yg menjadi penasaran ada lah Tumenggung Rapala dan Tumenggung Srengganu yg tidak mengetahui duduk permasalahan nya, mengapa Pamotan tidak akan mengantar Upeti ke kotaraja Majapahit lagi.Namun mereka tidak berani bertanya karena tadi Tumenggung Reksadana hanya memberitahu Tumenggung Rapada seorang saja, berarti itu merupakan rahasia.
Kemudian Tumenggung Rapada berkata lagi kepada Tumenggung Reksadana,
" Pantas lah mereka telah mencegat kami , Kakang Reksadana,!"
" Hehh, dimana kalian telah di cegat ,?" balik Tumenggung Reksadana bertanya.
" Di tepi hutan dekat dusun yg berbatas langsung dengan Kotaraja Majapahit ini,!" jawab Tumenggung Rapada.
__ADS_1
" Kalian tidak apa-apa , adi Rapada,?" tanya Tumenggung Reksadana.
" Berkat Hyang Widhi wasa, kami semua masih di lindungi nya, sehingga selamat dari usaha pembunuhan itu,!" jelas Tumenggung Rapada lagi.
" Dari mana adi Rapada mengetahui nya,,?' tanya Tumenggung Reksadana lagi.
" Dari seragam yg mereka kena kan, karena mereka semua gugur di dalam pertempuran itu, sebenar nya, Aku tidak mencurigai nya, namun dua orang Lurah prajurit Ku penasaran sehing menyingkap pakaian, siapa mereka sebenar nya, dari sana lah kami mengetahui nya Kakang,!" ucap Tumenggung Rapada.
" Berhati-hati lah Adi Rapada, secepat nya kembali ke Pamotan, karena Kota Raja Majapahit ini tidak aman buat kalian, " terdengar nasehat dari Tumenggung Reksadana.
" Nasehat kakang akan kami perhati kan, setelah semua nya selesai kami akan secepat nya kembali ke Pamotan," balas Tumenggung Rapada.
Setelah dari bangsal perbekalan para prajurit Pamotan kemudian menghadap Gusti Patih Lohdaya di Istana kepatihan, dari sana salah seorang prajurit Pamotan yaitu Lurah Ranawa berusaha menemui
Tumenggung Singha Wara sebagai salah seorang jaring-jaring telik sandi Pamotan yg berada di Kotaraja Majapahit.
Setelah sampai di tempat kediaman dari Tumenggung Singha Wara, bertanya lah Lurah Ranawa itu,
" Maaf kan sebelum nya Gusti Tumenggung Singha Wara, apakah benar yg di katakan oleh Tumenggung Reksadana itu?" tanya Lurah Ranawa kepada Tumenggung Singha Wara.
" Maksud Ki Lurah Ranawa apa?" balik Tumenggung Singha Wara bertanya.
" Kata Tumenggung Reksadana bahwa Sang Prabhu Bhatara Purawawisesa akan menyerah kan kekuasaan kerajaan Majapahit ini kepada mertua nya, Adipati Pandan Alas,?" jelas Lurah Ranawa.
" Seperti nya demikian ki Lurah, kami yg berada di keraton ini sudah sangat lama mendengar hal itu, namun tampak nya kali ini di sidang Paseban Agung, Gusti Prabhu Bhatara Purawawisesa memang akan meletak kan kekuasaan nya dan di serah kan kepada Adipati Pandan Alas,. hehh,. entah bagaimana lah nasib kami ini yg masih setia kepada Gusti Prabhu Bhatara Purawawisesa,!" jawab Tumenggung Singha Wara.
" Dan kalau Aku boleh ber pesan secepat nyalah kalian meninggal kan tempat ini, dan katakan kepada anakmas Adipati Pamotan untuk bersiap menghadapi Pandan Alas yg dalam waktu dekat akan menguasai keraton ini,!" ter dengar nasehat dari Tumenggung Singha Wara.
" Pantas kami sebelum mencapai Kotaraja ini di hadang oleh Prajurit Pandan Alas,!" ucap Lurah Ranawa.
" Kalian di hadang oleh Prajurit Pandan Alas,?" tanya Tumenggung Singha Wara.
" Demikian lah Gusti Tumenggung, kami di hadang lebih dua puluh orang Prajurit Pandan Alas yg menyamar sebagai begal,!" jawab Lurah Ranawa.
" Nampak nya api peperangan akan segera menyala, yg jelas tiga kadipaten pasti menolak atas pengangkatan Adipati Pandan Alas sebagai Raja di Majapahit ini,!" jelas Tumenggung Singha Wara.
" Baik lah Gusti Tumenggung, Aku akan segera kembali ke Istana kepatihan untuk menyampai kan berita ini,!" ucap Lurah Ranawa.
" Oh Ki Lurah , tolong sampai kan surat ku ini kepada anakmas Adipati Pamotan,!" kata Tumenggung singha Wara sambil menyerah kan sebuah gulungan lontar.
Kemudian Lurah Ranawa meninggal kan kediaman Tumenggung singha Wara dan kembali di Istana kepatihan tempat berkumpul nya prajurit Pamotan.
Setelah dua malam di Istana kepatihan akhir nya sidang paseban agung di adakan di dalam istana Majapahit.
__ADS_1
Seluruh utusan dari seluruh kadipaten yg berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit menghadiri sidang itu.
Dan utusan Pamotan di wakili oleh Tumenggung Rapada dan Tumenggung Rapala.
Sedang kan dari Kadipaten Pandan Alas di wakili oleh Patih Kebo Mundira dan Mahisa Dara.
Sidang paseban agung kali ini berbeda dari biasa nya, karena nampak sangat ramai.
Adalah Tumenggung Rapala dan Rapada ketika berpapasan dengan Patih Kebo Mundira dan Mahisa Dara saling bertatapan dengan aura kebencian. Bahkan sampai lama Tumenggung Rapada memandangi kedua orang Pembesar Pandan Alas itu.
Pandangan Tumenggung Rapada kemudian berpindah setelah Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa hadir ke dalam sidang dengan di iringi Sang Ratu Dyah Sekar Wiyat.
Setelah duduk di atas singgasana nya , kemudian Sang Prabhu membuka sidang paseban agung tersebut.
" Bagi para utusan dari perbagai Kadipaten yg berada di Kerajaan Majapahit ini kami ucap kan selamat datang, dan ucapan terima kasih yg sebesar-besar nya atas Ulu bekti telah di antar kan itu sebagai pertanda masih setia terhadap Kotaraja Majapahit ini,!" terdengar ucapan dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
Setelah diam beberapa saat akhir nya Sang Prabhu Bhatara Purawawisesa ber kata lagi.
" Mungkin ini kali terakhir nya Aku sebagai Raja di Majapahit ini menerima kalian , mengingat hampir satu dasa warsa Aku telah memimpin Majapahit ini dengan berbagai kekurangan dan kelebihan nya,!" tutur Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
Banyak utusan dari perbagai Kadipaten itu yg saling memandang satu dengan yg lain nya karena heran atas apa yg telah di ucap kan Sang Prabhu. Mereka seakan-akan tidak mengerti ke arah mana pembicaraan dari Raja nya itu.
Kemudian Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa melanjut kan lagi,
" Mungkin banyak di antara kalian yg tidak memahami ucapan ku ini, Sesungguh nya mulai hari ini Kekuasaan atas Kerajaan Majapahit akan Aku serah kan kepada orang tua ku yaitu Ramanda Surya Wikrama sang Adipati Pandan Alas, yg kelak akan mengganti kanku,!" terdengar Titah dari Prabhu Bhatara Purawawisesa.
Seluruh Balairung Istana Majapahit itu tiba-tiba ramai dengan suara dari para utusan itu yg seperti nya tidak percaya dengan apa yg mereka dengar. Memang sudah lama ter dengar berita bahwa Adipati Pandan Alas akan mengganti kan menantu nya itu untuk menjadi Raja Majapahit, namun selama ini tidak terjadi. Sampai pada sidang paseban agung kali ini mereka mendengar sendiri dari mulut Sang Prabhu.
Suasana riuh di sidang paseban agung itu Akhir nya kembali senyap setelah Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa berkata lagi,
" Mungkin bagi sebahagian kadipaten, keputusan Ku ini tidak dapat di terima, namun demi Keutuhan Kerajaan Majapahit ini, keputusan ini merupakan jalan yg paling baik yg dapat Ku lakukan, Jadi mulai hari ini Aku Sang Bhatara Purwawisesa menetap kan Ramanda Adipati Pandan Alas sebagai pengganti ku,!" kata Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
Yg menjadi bahagia mendengar keputusan dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa adalah utusan dari Pandan Alas , Patih Kebo Mundira dan Mahisa Dara, kedua nya memandang ke arah utusan dari Pamotan dengan senyum kebahagiaan.
Adalah Tumenggung dari Kahuripan yg kemudian berkata,
" Maaf kan kami Gusti Prabhu, Bahwa Kahuripan bersedia untuk tunduk dan patuh jika Raja Majapahit ini adalah Gusti Prabhu Bhatara Purwawisesa sendiri tidak yg lain, demikian pesan dari Junjungan kami Adipati Kahuripan, hutang nyawa bayar nyawa,!" ucap Tumenggung Bantar Gede dari Kahuripan .
Kemudian sang Tumenggung dari Kahuripan itu bangkit bersama seorang teman nya meninggal kan ruang sidang itu.
Selanjut nya di ikuti oleh beberapa utusan dari beberapa kadipaten, termasuk Pamotan, Daha , Tumapel, Lasem, Paguhan dan Kabalan.
Para utusan itu tidak bisa menerima sikap dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa yg terlalu lemah terhadap mertua nya itu, sehingga para utusan itu tidak memandang hormat lagi kepada Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa.
__ADS_1
@@@@@@))))))((((((@@@@@@@@@
__ADS_2