BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 20 Perang Tanding bagian ke dua


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Senopati Lembu Petala, Adipati Pamotan sang bhre Kertabhumi itu pun masuk ke dalam bilik nya.


Di dalam bilik nya ia pun ber temu dengan permaisuri Dwarawati,


" Dinda, Kanda ingin minta petunjuk kepada Sang Hyang Widhi wasa selama dua hari, jangan per boleh kan orang lain untuk menggangu, apa pun keperluan nya,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan itu kepada istri nya.


" Baik Kanda, segala titah Kanda Adipati akan dinda laksana kan,!" jawab Peramaisuri Dwarawati.


" Baik lah , Kanda akan ke bilik sebelah untuk melakukan Tirakat, sekali lagi jangan ada yg mengganggu Kanda,?" ucap Wikala sang Adipati Pamotan.


Setelah mengganti pakaian nya dengan pakaian layak nya seorang resi, Wikala melangkah kan kaki nya ke bilik sebelah dari bagian bilik Sang Adipati Pamotan itu.


Di dalam bilik yg ter lihat gelap tanpa penerangan , ia duduk ber sila memusat kan nalar budi nya menuju satu tujuan yaitu Sang Maha pencipta.


Sang Adipati Pamotan itu meminta petunjuk tentang langkah yg telah di ambil nya untuk ber perang dengan Kotaraja Majapahit.


Ia melakukan itu atas perintah dari Mpu Thanda, sang Ayah.


Di dalam kesendirian nya, Wikala meninggal kan semua ***** bengek kehidupan dan jabatan yg di sandang nya.


Sang Adipati Pamotan itu menjalani laku selama dua hari.


********


Sementara itu, di Kotaraja Majapahit terjadi Geger, di karena kan Kadipaten Pamotan tengah memoersiap kan seluruh prajurit nya yg akan menyerang Kotaraja Majapahit itu.


Yg paling gelisah adalah Mahisa Dara, selaku orang kepercayaan dari Prabhu Suraprabhawa, ia ber tanggung jawab penuh atas keamanan dari lingkungan keraton Majapahit itu.


Prabhu Suraprabhawa pun segera melakukan sidang paseban kilat untuk menghadapi kadipaten Pamotan itu.


" Bagaimana Anakmas Dara, apa yg mesti kita lakukan saat ini, setelah musuh nampak nya akan segera datang menyerang Kotaraja ini,?" tanya Prabhu Suraprabhawa itu kepada menantu nya.


" Ampun kan Ananda Gusti Prabhu, sebaik nya kita ber hubungan dengan Kangmas Wengker dan Kangmas Pandan Alas, mungkin mereka dapat mengirim kan bantuan tambahan prajurit atau jalan keluar yg lain,!" ungkap Mahisa Dara sambil menjura hormat kepada mertua nya.


" Bagaimana pendapat mu, Patih Lohdaya,?" tanya Prabhu Suraprabhawa kepada Patih baru nya itu.


" Memang sebaik nya Kotaraja menyiap kan pasukan nya untuk menahan serangan dari Pamotan itu, dan dari berita yg di bawa oleh prajurit Sandi Majapahit, Kadipaten Pamotan akan menyerang Kotaraja Majapahit ini dari tiga jurusan, dari Kahuripan, Daha, dan Tumapel,!" jawab Patih Lohdaya


" Apakah jumlah prajurit Kotaraja Majapahit ini seimbang dengan Kadipaten Pamotan itu,?" tanya Prabhu Suraprabhawa kepada Patih Lohdaya lagi.


" Seperti nya kekuatan pasukan kotaraja Majapahit ini masih jauh di bawah dari kadipaten Pamotan, yg hamba dengar , kekuatan pasukan Pamotan berjumlah hampir dua puluh ribu, belum di tambah dari kadipaten-kadipaten pendukung nya mungkin mencapai tiga puluh lima ribu atau lebih ,!"jelas Patih Lohdaya.


" Jumlah prajurit kita,berapa, Patih,?" tanya Prabhu Suraprabhawa lagi.


" Kekuatan Kotaraja Majapahit sendiri hanya sekira lima belas ribu prajurit, Gusti Prabhu,!" jawab Patih Lohdaya.


Nampak kening Prabhu Suraprabhawa itu mengerut, ter bayang di usia nya yg telah menginjak masa tua nya itu ada beban yg berat yg harus di pikul nya.


Biasa nya wajah dari Prabhu Suraprabhawa itu ter lihat cerah dan penuh wibawa, sekarang ter lihat tua dan suram se olah tidak memancar kan cahaya.

__ADS_1


Lama Prabhu Suraprabhawa itu ter diam, ia teringat semua yg telah di lakukan nya untuk dapat duduk di kursi Singgasana Majapahit itu.


Termasuk menentang saudara tua nya yaitu Prabhu Rajasawardhana sehingga pecah perang antara Majapahit dengan Pandan Alas, kemudian ter bayang di mata nya wajah dari menantu nya Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa yg juga ada lah keponakan nya sendiri namun ber nasib tragis dengan tewas di istana nya sendiri.


Prabhu Suraprabhawa menekuk kepala nya menatap lantai istana, ia merasa memang telah banyak dosa dalam mencapai tujuan nya untuk menjadi orang nomor satu di Kerajaan Majapahit itu.


Prabhu Suraprabhawa berulang kali meng hela nafas nya, kemudian per lahan mengangkat kembali Wajah nya, dan berkata,


" Patih Lohdaya dan Mahisa Dara, segera lah per siap kan penyambutan pasukan Pamotan itu, Suraprabhawa tidak sudi tunduk di bawah kaki Bhre Kertabhumi itu,jika yg datang itu anakmas Ranawijaya, mungkin Aku akan senang hati mem berikan Tahta Majapahit kepada nya, tetapi yg datang ini bukan Trah Majapahit langsung, jadi tidak ada kata menyerah sebelum maut memisah kan,!" ter dengar suara Prabhu Suraprabhawa yg berapi -api.


Tampak nya, di antara ke putus asaan dari Prabhu Suraprabhawa itu ter selip sikap congkak nya, padahal se andai nya pun yg datang itu adalah Adipati Daha, tentu Prabhu Suraprabhawa tidak akan mem beri kan Tahta Majapahit itu kepada keponakan nya itu serta merta.


Setelah mendengar penuturan dari Prabhu Suraprabhawa, Mahisa Dara ter lihat sangat senang, karena ia mengkhawatir kan mertua nya itu akan mengambil jalan damai tetapi ter nyata tidak.


" Nanda Dara, panggil kemari kedua Kangmas itu, suruh mereka menghadap Ramanda secepat nya,!" perintah dari Prabhu Suraprabhawa kepada Mahisa Dara.


" Sendika dalem Ramanda Prabhu, perintah Ramanda akan nanda laksana kan,!" jawab Mahisa Dara.


" Dan kamu Patih Lohdaya, segera lah buat wara-wara ,, siapa saja yg mampu membunuh Adipati Pamotan itu, setengah wilayah Majapahit akan Ku beri kan,!" perintah dari Prabhu Suraprabhawa kepada Patih Lohdaya.


" Sendika dawuh Gusti Prabhu,!"jawab Patih Lohdaya.


Beberapa Tumenggung dan Rakryan Mantri yg berada di tempat itu, ter lihat kurang puas karena Prabhu Suraprabhawa tidak mengaju kan per tanyaan kepada mereka tentang mengenai masalah dengan Pamotan itu.


Akhir nya setelah sidang di bubar kan, para Tumenggung dan para Rakryan Mantri terjadi kasak kusuk di belakang.


" Gusti Prabhu ter lalu gegabah menghadapi Pamotan itu,!" ucap Tumenggung Watu langka kepada Tumenggung Reksadana.


" Benar ucapan mu itu adi Watulangka, saat ini Kotaraja dalam keadaan sulit dari bidang per bekalan nya, masih juga mau ber perang, seharus nya tadi Gusti Prabhu bertanya kepada ku, apakah ketersediaan bahan pangan akan mencukupi jika Kotaraja Majapahit akan ber tahan selama se pekan,!" jelas Tumenggung Reksadana.


" Hehh, apakah memang Kotaraja Majapahit ini dalam kesulitan bidang per bekalan nya,?'' tanya Tumenggung Watulangka


" Demikian lah adi, Setelah beberapa lama tidak ada lagi yg mengantar kan ulu bekti dari banyak kadipaten di tambah lagi musim kemarau yg panjang per sediaan bahan pangan Kotaraja telah menipis, se andai nya saja Adipati Pamotan pintar dan licik, mungkin kita semua di dalam Kota Raja Majapahit ini akan mati kelaparan, jika tidak ada pemasok bahan pangan dari luar, jadi Adipati Pamotan itu tidak perlu ber susah untuk menyerang hanya menjaga jangan sampai keluar orang -orang dari Kotaraja ini, itu saja, dia pun akan memenang kan peperangan ini,!" jelas Tumenggung Reksadana.


" Separah itu kah Kotaraja Majapahit ini, kakang Reksadana,?" tanya Tumenggung Watulangka.


Tumenggung Reksadana hanya mengangguk, ter lihat senyum kecut keluar dari bibir Tumenggung bagian perbekalan itu.


Sementara beberapa Rakryan Mantri dan Tumenggung yg lain pun tengah mem bicara kan tentang keputusan dari Prabhu Suraprabhawa itu, yg di nilai mereka hanya sekedar melampias kan amarah saja tanpa per hitungan yg jelas.


Ter jadi lah dua kubu di dalam Kotaraja Majapahit itu, yg sebahagian besar tidak suka atas ke pemimpinan dari Prabhu Suraprabhawa yg ter lalu mempercaya kan semua nya kepada menantu nya yaitu Mahisa Dara.


Diam -diam para petinggi Majapahit yg tidak suka atas ke pemimpinan dari Prabhu Suraprabhawa itu menjalin kerjasama dengan para petinggi Pamotan yg sebenar nya adalah musuh.


Memang para petinggi Majapahit masih ada yg setia dengan Prabhu Rajasawardhana, dan kali ini yg akan datang menyerang adalah menantu kesayangan dari Prabhu Rajasawardhana itu.


Seperti me makan buah simalakama,, nasib sebahagian besar petinggi Majapahit itu, tidak di makan mati ayah di makan mati emak,


Akhir nya sebahagian besar tidak memakan buah siamalakam itu Alias menentang Prabhu Suraprabhawa meski secara diam -diam.

__ADS_1


*****


Sementara di pamotan sendiri, Tumenggung Rapada dan Rapala tengah mempersiap kan segala sesuatu nya, mereka mulai mengirim kan pasukan secara ber angsur-angsur.


Di mulai dari Lima ribu lebih prajurit yg di berangkat kan ke Kahuripan lengkap dengan per bekalan, dari per senjataan sampai makanan.


Pasukan yg cukup besar itu di terima oleh Adipati Kahuripan dengan senang hati, untuk sementara pasukan itu di tempat kan di barak-barak keprajuritan dari pasukan Kahuripan sebelum di bangun nya barak yg ada di desa Pakal yg akan di jadi kan landasan sebagai tempat penyerangan ke kotaraja Majapahit itu, Pasukan yg dari arah Kahuripan akan menyerang gerbang timur Kotaraja Majapahit.


Kemudian selanjut nya di kirim lah pasukan yg mengarah ke Tumapel, begitu sampai di tumapel lebih lima ribu prajurit Pamotan itu di terima langsung oleh Adipati Tumapel, kemudian pasukan itu langsung menuju ke barak yg berada di desa Antang, karena barak itu memang telah di bangun beberapa waktu yg lalu atas perintah Adipati Tumapel sendiri.


Terakhir yg di kirim ke Daha ber samaan waktu nya dengan janji dari Adipati Pamotan untuk melakukan perang tanding yaitu saat tepat bulan purnama.


Ber tanya lah Senopati Lembu Petala,


" Apakah Paman akan menyertai Gusti Adipati, atau memimpin langsung prajurit Pamotan yg akan ke Daha itu,?" tanya Senopati Lembu Petala.


" Paman Petala tetap menyertaiku ke semeru bersama dengan Arya bor-bor, biar lah Kakang Tumenggung Rapada yg menjadi senopati pasukan yg akan ke Daha itu,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.


" Baik lah kalau begitu, Paman akan mem persiap kan segala sesuatu nya untuk ke semeru,!" ucap Senopati Lembu Petala.


" Paman Petala jangan lupa mem beri tahu kan Arya bor bor agar ber siap pula, karena waktu kita tidak akan lama lagi,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Sendika dalem Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.


Kemudian Senopati pinunjul dari Pamotan itu keluar ruangan untuk mem persiap kan segala sesuatu nya guna mengawal junjungan nya dalam pertarungan dengan Bikshu Ganggadhara di puncak Semeru, waktu nya tinggal beberapa hari saja.


Sementara pasukan Pamotan yg berangkat ke Daha telah lebih dahulu ber gerak karena selain jauh, pasukan itu pasti ber jalan lambat sebab di barengi dengan pedati-,pedati yg membawa per bekalan.


Wikala sang Adipati Pamotan tengah memberi pesan kepada putra nya pangeran Arya Wiradamar yg mulai menginjak remaja itu untuk menjaga keluarga yg di tinggal kan


Beliau , Sang Adipati Pamotan ber pesan pula kepada Patih Sengguruh untuk me lapor kan secepat nya jika ada sesuatu yg terjadi di Pamotan saat ia dan seluruh prajurit meninggal kan Pamotan itu.


Patih Sengguruh mengiya kan, sebenar nya Patih yg sudah sepuh itu kepengen ikut ber sama rombongan pasukan Pamotan, akan tetapi di cegah oleh Sang Adipati mengingat hampir seluruh kekuatan prajurit Kadipaten Pamotan tengah berada di luar Kadipaten ter masuk para perwira dan Punggawa pinunjul nya.


Jadi di khawatir kan akan ada seseorang yg akan mengambil kesempatan itu.


Hingga keamanan kota kadipaten Pamotan saat ini ter gantung di pundak dari Patih Sengguruh.


Ke esokan hari nya, sebelum terang tanah tiga ekor kuda yg gagah dan besar ber gerak dari kota kadipaten Pamotan, yg sekarang ter lihat sunyi setelah seluruh angkatan perang nya telah berangkat hanya Patih Sengguruh yg tinggal mengawal Istana Timur itu beserta beberapa Tumenggung atau pun Narpacundaka, yg tidak di bidang ke prajuritan, selain nya itu berangkat.


Ketiga nya melesat menuju bak anak panah yg di lepas kan , tujuan mereka adalah Puncak semeru guna menghadiri tantangan dari Bikshu Ganggadhara yg telah datang dari jauh, tepat nya dari Tibet.


Selama hampir tiga hari sampai lah ketiga nya di kaki gunung semeru tepat nya di desa Sumber wuluh, di kademangan Candi pura.


Ketiga nya kemudian menitip kan ketiga ekor kuda nya di desa itu tepat nya di sebuah penginapan.


Dan ketiga nya berjalan kaki untuk naik ke atas puncak semeru itu.


Nampak yg paling depan adalah Adipati Pamotan sang bhre Kertabhumi

__ADS_1


__ADS_2