BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 16 Geger Majapahit bagian ke empat.


__ADS_3

Setelah kepergian beberapa utusan dari negara bawahan Majapahit , Sang Prabhu tetap melanjut kan sidang paseban agung itu, ia berkata,


" Memang Kami sangat-sangat memahami keputusan yg telah di ambil beberapa Kadipaten itu, namun Keputusan Ku tetap bahwa yg mengganti kanku menjadi Raja di Majapahit ini adalah Ramanda Adipati Pandan Alas, mulai saat ini, jadi yg masih setia kepada Majapahit ini diharap kan kehadiran nya kembali pada satu purnama ke depan dalam acara penobatan Ramanda Adipati Pandan Alas sebagai Raja,!" terdengar kata-kata Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa dengan nada berat dan ia kemudian melanjut kan lagi.


" Dan Aku serta para pembantu setia Ku akan kembali ke Wengker lagi untuk memimpin Wengker sebagai satu kesatuan dari Majapahit ini, dan Adipati Wengker saat ini akan segera memimpin Pandan Alas mengganti kan Ramanda Pandan Alas,!" ucap Sang Prabhu Bhatara purwawisesa.


Terlihat Patih Kebo Mundira dan Mahisa Dara wajah nya terlukis senyum kemenangan. Demikian pula halnya Ratu Ayu Dyah Sekar Wiyat yg merupa kan dalang di balik kesuksesan dari Adipati Pandan Alas menguasai keraton Majapahit itu.


Namun sebelum keluar dari Sidang paseban agung itu, Prabhu Bhatara purwawisesa sempat berbisik di telinga istri nya Itu.


" Diajeng lihat berapa kadipaten yg jelas-jelas menentang Ramanda Pandan Alas, sesungguh nya Ramanda Pandan Alas akan kesulitan memimpin negeri Majapahit ini, namun itu adalah permintaan Diajeng Ratu, semua nya sekarang terserah Ramanda Pandan Alas,!" ucap nya kepada Sang istri dan segera lah Sang Prabhu Bhatara purwawisesa meninggal kan sidang itu.


Setelah kepergian dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa, maka para utusan dari berbagai kadipaten yg masih setia kepada keputusan dari Raja nya itu segera membubar kan diri meninggal kan balairung istana Majapahit.


Sementara itu, utusan dari Kahuripan, Daha dan Pamotan secepat nya meninggal kan Kotaraja Majapahit, adalah Utusan dari Kahuripan yg berada satu arah dengan Pamotan segera menggabung kan diri untuk kembali ke I daerah masing-masing, dan di dalam perjalanan itu mereka saling bertukar pikiran.


Sambil menjalan kan kuda nya, Tumenggung Bantar Gede dari Kahuripan itu berkata,


" Kakang Rapada Saat ini Kahuripan sangat berharap kepada Pamotan,!" ucap Tumenggung Kahuripan itu.


" Maksud adi Bantar Gede bagaimana,?" tanya Tumenggung Rapada.


" Kami sangat-sangat berharap Gusti Adipati Pamotan mau memimpin negeri ini untuk menumbang kan sikap adigang adigung dan adiguna dari Pandan Alas itu, orang tua kami, Aku dan Gusti Adipati Kahuripan telah tewas di tangan para prajurit Pandan Alas itu, hutang nyawa itu harus di bayar oleh Adipati Pandan Alas yg ke blinger itu,!" jelas Tumenggung Bantar Gede.


" Aku memahami perasaan mu, adi Bantar, nanti se sampai nya di Pamotan pesan adi pasti Aku sampai kan, mudah mudahan Gusti Adipati mau mengambil sikap atas yg terjadi di Kotaraja Majapahit ini,!" ungkap Tumenggung Rapada.


Seluruh utusan itu mempercepat perjalanan nya kembali untuk memberitahu kan apa yg telah terjadi di Kotaraja Majapahit.


Bahkan saking ingin cepat sampai , mereka meninggal kan pedati nya di dusun yg berbatas langsung dengan Kotaraja Majapahit.


Jadi mereka menggunakan kuda-kuda nya saja untuk kembali.


" Apakah kakang Rapada tidak merasa kan keganjilan dengan sikap Gusti Prabhu itu,?" tanya Tumenggung Bantar Gede lagi.


" Maksud nya!" tanya Tumenggung Rapada balik.


" Bukan kah Gusti Prabhu mengerti dengan keputusan nya itu akan menyebab kan kehancuran dari Kerajaan Majapahit ini, tetapi mengapa ia tetap bersikukuh untuk menyerah kan kekuasaan nya itu kepada Pandan alas, !" jelas Tumenggung Bantar Gede.


" Mungkin keputusan yg di ambil oleh Gusti Prabhu atas saran orang dalam istana sendiri,!" jawab Tumenggung Rapada.


" Siapa, apakah orang itu tidak memikir kan keutuhan Kerajaan Majapahit ini, dengan memberi kan kekuasaan itu kepada Pandan alas berarti membunyi kan genderang perang di Majapahit ini,!" ungkap Tumenggung Bantar Gede.


" Ahh, terkadang nafsu ingin berkuasa melupa kan segala nya, bahkan tidak sempat untuk berfikir yg jernih, asal keinginan tercapai semua bisa di lakukan, dan yg paling ber perang dalam hal ini mungkin adalah Sang Ratu sendiri mengingat ia adalah Putri dari Pandan Alas,!" jawab Tumenggung Rapada.


" Kakang Rapada, mungkin yg ter lebih dahulu di serang oleh Pandan Alas apabila telah berkuasa atas Majapahit ini ada lah kami di Kahuripan, selain kami lebih dekat jarak nya, juga lemah dalam keprajuritan, di samping itu Gusti Adipati kami masih terlalu muda, jadi atas nama Kahuripan , kami memohon kepada Pamotan untuk memberi kan bantuan Prajurit dan juga perbekalan persenjataan,!" ucap Tumenggung Bantar Gede lagi.


" Mudah-mudahan Gusti Adipati Pamotan mau memberi kan bantuan ke Kahuripan guna menjaga dari serangan pasukan Majapahit kelak," jelas Tumenggung Rapada.


Kedua Rombongan itu tetap memacu kuda-kuda nya dan bermalam sebentar kemudian melanjut kan perjalanan lagi.


Setelah sampai di pertigaan antara ke Kahuripan dan Pamotan maka kedua Rombongan itu berpisah.

__ADS_1


Namun sebelum berpisah , Tumenggung Rapada sempat berpesan kepada Tumenggung Bantar Gede,


" Adi Bantar Gede, secepat nya kirim utusan resmi ke pamotan untuk membicara kan permasalahan di Kahuripan tersebut supaya Gusti Adipati lebih tanggap menyikapi nya,!" ujar Tumenggung Rapada.


" Baik lah kakang Rapada, nanti sekembali nya , Aku akan membicara kan hal ini kepada Gusti Adipati Kahuripan, dan secepat nya mengirim kan utusan ke Pamotan, selamat jalan Kakang Rapada semoga tidak aral melintang," jawab Tumenggung Bantar Gede.


" Sama-sama, selamat jalan adi Bantar Gede,!" tukas Tumenggung Rapada.


Kedua rombongan itu berpisah karena rombongan Kahuripan berjalan lurus sedang kan rombongan Pamotan berbelok ke kanan. Rombongan dari Kahuripan melewati jalan yg di lalui oleh Adipati Kahuripan yg beberapa waktu lalu di cegat dan berhasil di bunuh oleh prajurit Pandan Alas ketika itu.


Hampir dua hari rombongan Pamotan baru tiba di keraton timur. Sesampai nya disana mereka langsung menghadap Gusti Adipati Pamotan di ruang istana.


Mereka di sambut oleh para petinggi kadipaten Pamotan.


Terlihat Patih Sengguruh, Senopati Lembu Petala, Arya bor bor, Rakryan Mantri Raka Swidak dan banyak Tumenggung dari Pamotan itu yg berada di sana.


Setelah Adipati Pamotan duduk di atas singgasana nya segera lah utusan yg ke Majapahit itu menghatur kan sembah.


Kemudian berkata lah Tumenggung Rapada selaku pemimpin rombongan itu,


" Ampun kan kami Gusti Adipati, titah Gusti Adipati telah kami laksana kan meski kami harus meninggal kan pedati karena keadaan istana Majapahit benar-benar dalam keadaan gawat,!" ucap Tumenggung Rapada.


" Apa maksud mu , Istana Majapahit dalam keadaan gawat, Tumenggung Rapada,?" tanya Adipati Pamotan itu.


" Ampun Gusti Adipati, saat ini Gusti Prabhu Bhatara purwawisesa telah meletak kan kekuasaan atas Kerajaan Majapahit ini dan di serahkan kepada Adipati Pandan Alas, jadi Upeti kali ini mungkin yg terakhir kali nya kami antar kan,!" jelas Tumenggung Rapada.


Seluruh hadirin yg berada di Istana Timur itu kaget bukan kepalang setelah mendengar penuturan dari Tumenggung Rapada itu.


" Namun demikian lah kira nya keputusan dari Sang Prabhu Bhatara Purwawisesa yg telah mengangkat mertua nya itu untuk menjadi Raja Majapahit ini, dan acara penobatan nya sekira satu purnama lagi,!" jelas Tumenggung Rapada.


Nampak Adipati Pamotan amat gusar, ia tidak habis pikir dengan keputusan yg telah di ambil oleh kakak ipar nya itu.


Kemudian Tumenggung Rapada menjelas kan lagi,


" Sebelum kami mencapai Kotaraja Majapahit, Kami telah di cegat sekelompok kawanan begal yg ternyata adalah prajurit dari Pandan Alas, lebih dari dua puluh prajurit yg telah mencegat kami, Gusti Adipati,!"


" Kalian di cegat Prajurit Pandan Alas,!" seru Adipati Pamotan kaget.


" Benar Gusti Adipati, namun kami berhasil menyelesai kannya bahkan seluruh prajurit dari Pandan Alas itu tewas termasuk Senopati nya, tidak ada yg tersisa,!" jawab Tumenggung Rapada.


" Sebenar nya apa mau nya Adipati Pandan Alas itu, kalau mereka telah membunyi kan genderang perang menghadapi Pamotan, kita siap melayani nya ,apalagi sekarang ia telah berhasil menguasai keraton Majapahit, namun jangan di pikir nya Pamotan bersedia tunduk di bawah kekuasaan nya , Pamotan siap menyambut tantangan nya itu" kata Adipati Pamotan berang.


" Dan satu hal lagi Gusti Adipati, bahwa Kahuripan lah yg pertama kali tidak setuju atas sikap dari Prabhu Bhatara Purwawisesa dan tidak terima di pimpin oleh Adipati Pandan Alas, mereka memohon bantuan dari Pamotan untuk berjaga-jaga dari serangan pasukan Pandan Alas itu,!" ucap Tumenggung Rapada lagi.


" Kasihan memang Nanda Kahuripan, selain masih muda, ia memang memerlu kan bantuan karena kadipaten nya terlalu dekat dengan Kotaraja, sasaran yg empuk apabila pertahanannya lemah, nanti kita kirim prajurit untuk membantu mereka,!" ungkap Adipati Pamotan.


" Ampun kan hamba Gusti Adipati, hamba mendapat pesan khusus yg harus di sampai kan ke hadapan Gusti Adipati dari Tumenggung Singha Wara,!' kata Lurah Ranawa sambil menjura hormat.


" Pesan apa itu Lurah Ranawa,?" tanya Adipati Pamotan.


" Hamba di titipi surat oleh Tumenggung singha Wara, Gusti Adipati,!" jelas Lurah Ranawa.

__ADS_1


" Mana surat nya, Ki Lurah,!" tanya Adipati Pamotan lagi.


Sambil beringsut maju Lurah Ranawa mrmberi kan gulungan lontar sebuah surat dari Tumenggung Singha Wara kepada Adipati Pamotan.


Setelah menerima surat yg di serah kan oleh Lurah Ranawa, Adipati Pamotan kemudian membuka nya dan mulai membaca nya, nampak Wajah dari Adipati Pamotan bekernyit dahi nya.


Kemudian Sang Adipati Pamotan melipat kembali gulungan lontar itu setelah selesai membaca nya.


Berkata lah Adipati Pamotan kepada Senopati Lembu Petala,


" Paman Petala siap kan penjemputan Paman Singha Wara, bawa lima ratus prajurit Balasewu, usaha kan dalam waktu kurang sepekan Paman Singha Wara beserta keluarga nya sudah harus di Pamotan ini,!" ucap Sang Adipati.


" Sendika dawuh Gusti Adipati, perintah siap di laksanakan,!" ucap Senopati Lembu Petala, seorang Bekel Bhayangkara di masa Prabhu Rajasawardhana.


" Dan aku perintah kan Arya bor bor untuk menyertai Paman Petala, dan nanti setelah sampai di Kahuripan usaha kan untuk memberi tahu kan kepada Nanda Kahuripan, keperluan yg kalian emban, agar tidak terjadi salah sangka dari nya,!" kata Sang Adipati Pamotan lagi.


Setelah suasana hening beberapa saat , Kemudian bertanya lah Patih Sengguruh kepada Junjungan nya itu.


" Ampun kan hamba Gusti Adipati, bagaimana mana kah sikap Pamotan bila memang Pandan Alas yg akan memimpin negeri Majapahit ini,?"


" Sikap Pamotan sudah sangat jelas , bahwa kita tidak bisa menerima Pandan Alas sebagai pemimpin Majapahit ini, dan Pamotan siap mengangkat senjata untuk ber perang melawan Kotaraja Majapahit,!" Ungkap Sang Adipati Pamotan.


" Apakah itu arti nya kita memberontak dengan Kotaraja Majapahit,?" tanya Patih Sengguruh lagi.


" Apa pun nama nya , kita tidak bisa melihat tindakan ke sewenang-wenangan dari Pandan Alas itu, mau di cap sebagai pemberontak, yg penting Pamotan tidak bersedia tunduk dan patuh terhadap Pandan Alas,!" jelas Adipati itu.


" Dan atas sikap dari Pamotan ini, maka sudah seharus nya kita menghubungi beberapa kadipaten yg. terdekat seperti Tumapel, Kabalan, Paguhan dan Daha, selain Kahuripan tentu nya,!" kembali Adipati Pamotan menjelas kan.


" Ampun kan hamba Gusti Adipati, ada yg terlupa dari permohonan Tumenggung Bantar Gede dari Kahuripan, bahwa mereka sangat kesulitan jika Majapahit kelak menyerang mereka, jadi Kahuripan melalui Tumenggung Bantar Gede memohon bantuan Prajurit dan perbekalan dari Pamotan ini,!" ucap Tumenggung Rapada kepada Adipati Pamotan itu.


" Tentu kita akan membantu Kahuripan secepat nya setelah Adipati Pandan Alas itu di nobat kan sebagai Raja Majapahit, seperti Yg telah Ku katakan tadi saat ini memang Kahuripan terlihat lemah namun nanti nya Kahuripan pasti akan menjadi kuat bila di urus dengan benar oleh Nanda Adipati di tambah lagi dengan saran dari kita," ujar Adipati Pamotan itu.


" Adakah yg ingin memberi masukan tentang keadaan Majapahit saat, tentang sikap kita memandang Majapahit sebagai musuh karena di pegang oleh Adipati Pandan Alas,?" tanya Sang Adipati lagi.


Seluruh hadirin yg berada di istana Timur itu diam tidak ada yg memberi kan jawaban atas pertanyaan dari Wikala itu, mereka masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri karena perang sudah di depan mata. Antara Kotaraja Majapahit yg telah di pimpin oleh Adipati Pandan Alas dengan Pamotan.


Nampak nya kejadian berpuluh tahun yg lalu akan kembali terjadi lagi.


Mempertemu kan antara Istana Barat dan Istana Timur dalam satu kancah perang.


Sungguh sulit untuk menentu kan siapa yg akan keluar sebagai pemenang nya.


Namun kali Istana Timur nampak nya percaya diri dengan sikap Adipati nya, bahkan pemimpin tertinggi kadipaten Pamotan itu tengah menyiap kan pasukan yg cukup besar untuk menghadapi serangan dari istana barat itu.


((((((((((((((??????????)))))))))))))))))))


note:


Paguhan. \= Blitar


__ADS_1


Kabalan. \=. Kota Malang


__ADS_2