BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 9 : ISTANA tanpa MAHKOTA bagian keenam.


__ADS_3

Sesampainya di bilik ibunda Ratu, maka keduanya langsung memberikan sembah sungkem, dan ibunda Ratu sangat senang atas kehadiran menantunya itu, yg telah lama pergi.


" Apakabarnya, ananda Radeksa, ?" tanya ibunda Ratu.


" Baik ibunda, sangat baik,!" jawab Wikala.


" Kapan tiba di Majapahit, apakah telah mampir di kotaraja ?" tanya ibunda


" Sudah lebih sepekan, tetapi tidak singgah di kotaraja , !" jawab Wikala.


" Sudah tahu tentang keadaan Ramanda Prabhu,?" tanya ibunda Ratu lagi.


" Sudah kanjeng ibu, oleh sebab itu, saya kemari, untuk memberi masukan buat ibunda Ratu,!" ungkap Wikala.


" Maksud Nanda?" tanya ibunda Ratu.


Sebelum Wikala menjelaskan, tiba-tiba datanglah Larasati,


" Silahkan, anakmas Larasati,!" seru ibunda Ratu.


" Terima kasih ibunda Ratu ,!" jawab Larasati sambil mengambil tempat duduk.


" Apa khabar , kakang Radeksa,?" tanya Larasati kepada Wikala.


" Baik, Laras, !" jawab Wikala


" Apakah kakang telah mampir di Thanda,?" tanya Larasati lagi.


" Sudah, dan keadaan biyung serta Romo, dalam keadaan baik, bahkan khabarnya Tantri telah kembali,!" jawab Wikala.


" Hehh, Tantri telah kembali, syukurlah,!" seru Larasati.


Kemudian pembicaraan keduanya terhenti oleh ucapan ibunda Ratu,


" Maksud Nanda Radeksa, bagaimana,?" tanya Ibunda Ratu.


" Begini ibunda Ratu dan diajeng, Karena kangmas Wengker, tidak mau jadi Raja, sebaiknya lah ibunda Ratu yg mengambil alih, seperti sewaktu eyang Ratu Gayatri mengambil alih kekuasaan dari Mangkatnya Prabhu Jayanegara,!" ucap Wikala.


" Maksud Nanda,?" tanya ibunda Ratu.


" Begini ibunda Ratu, supaya keluarga SiNAGARA tetap dalam satu , maka ibunda harus memegang tampuk kekuasaan sebelum kangmas Wengker mau jadi raja, dan ibunda kalau tidak mau mengelolanya sendiri izinkan diajeng Parangkawuni sebagai wali ibunda Ratu,!" kembali Wikala menjelaskan.


" Saya setuju ibunda, dengan usul kangmas Radeksa,!" jawab Ratu Pamotan.


" Hehmm, benar juga kata-katamu, nanda ,!" jawab ibunda Ratu.


" Dan juga, kanjeng ibu, kita dapat menyelidiki siapa sebenarnya pembunuh Ramanda Prabhu, juga mengurangi kesusahan eyang Patih yg sudah tampak sepuh,!" lanjut Wikala.


" Baiklah , jika kalian mau mendampingiku dalam memerintah, aku mau, !" jawab ibunda Ratu.

__ADS_1


" Kami siap ibunda, biarlah nanti ibunda tenang-tenang di istana kami berdua yg akan menjalankan roda pemerintahan, !" kata Ratu Pamotan tersebut.


" Segera lah kirim utusan ke Majapahit , bahwa kita akan kembali kesana, !" perintah Sang ibu Suri.


" Sendika dalem, Kanjeng ibu,!" jawab Ratu Pamotan itu.


Kemudian Bhre Pamotan , keluar dari bilik ibunda Ratu, dan masuk kedalam istana, setiba nya disana, tiba- tiba ia mendapatkan tamu dari Matahun, seorang prajurit Sandi.


" Ampun Kanjeng Ratu, hamba prajurit Matahun dapat pesan dari salah seorang prajurit Pamotan untuk menyerah kan surat ini,!" seraya beringsut mengajukan sebuah surat.


" Hehh, kangmas secepatnya kita harus ke Majapahit ,!" seru Bhre Pamotan kepada Wikala.


" Apa yg terjadi, ?" tanya Wikala.


" Sesuatu bakal terjadi menimpa eyang Patih,!" jawab Ratu Pamotan itu.


Kemudian Sang Ratu menyilahkan Prajurit Pamotan itu beristrahat. Dan Sang Ratu mempersiapkan keberangkatan ke keraton Majapahit.


"Sebaiknya kita mengirimkan prajurit penghubung, guna memberi tahu keadaannya kepada eyang patih diajeng,!" kata Wikala.


" Makasud kangmas,?'' tanya Ratu pamotan.


" Sebelum semuanya terlambat maka kita harus segera mengirimkan utusan , supaya eyang Patih dapat bersiap dengan segala kemungkinan dan paman Petala serta Singha wara juga dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan eyang Patih,!" jelas nya .


Kemudian Ratu pamotan itu segera, mengirimkan utusan ke Majapahit , untuk memberitahukan bahwa keadaan di istana Majapahit dalam keadaan gawat akan tetapi di harapkan pemangku kekuasaan tetap tenang supaya siapa dalang sebenarnya dapat tertangkap. Demikian lah bunyi surat dari Bhre pamotan itu.


Sedangkan malam menjelang pagi, di dalam bilik istana timur itu setelah Wikala selesai menunaikan tugasnya sebagai suami, berkatalah ia kepada istrinya itu,


" Rahasia apa kangmas,?" tanya Bhre pamotan penasaran


" Pertama aku mohon maaf yg sebesar-besarnya kepada diajeng, kalau mau marah silahkan, namun yg jelas ini bukan kehendak kangmas, melainkan ,takdir" ungkap Wikala sambil melepaskan pelukannya.


" Ahh, kangmas jangan berbelit-belit, cepat jelaskan masalah nya,!" ujar Bhre pamotan itu.


Kemudian Wikala menceritakan dari awal kejadian perjalanan nya dari Majapahit sampai di Tiongkok juga tentang petualangan di negeri Champa, sampai harus menikahi salah seorang putri champa itu dan kini telah berada di Majapahit tepatnya di desa thanda, dengan panjang lebar Wikala menguraikan ceritanya. Adalah Sang Ratu mendengar suaminya telah menikah lagi bahkan kini madunya itu telah berada disini, nampak sangat marah, ia tidak terima harus berbagi suami . Dengan nada parau ia berkata,


" Kangmas tidak menghargai kepercayaan saya, !'' ucap Bhre Pamotan itu.


" Sungguh diajeng, bukan kehendakku, tetapi sumpah Pangeran Jaya simhavarman lah yg membuat ini terjadi, kalau diajeng tidak percaya, nanti di Majapahit tanyakan sendiri dengan Paman Petala,!" jawab Wikala.


" Biarlah ini semua kuceritakan saat ini , sebelum diajeng mendengar dari oranglain, kalau memang diajeng mempercayai ucapan ku,!"kata Wikala berterus terang.


" Mungkin saat kini negeri Champa telah di kuasai kerajaan annam, !" ujarnya lagi.


" Baiklah , persoalan ini kita tunda dulu pembahasannya, yg penting saat ini kangmas harus selalu mendampingiku menjaga Majapahit dan kanjeng ibu,!" jelas Bhre Pamotan yg nampak meredam rasa kecewanya terhadap suaminya itu.


Saat matahari telah menggatalkan kulit, baru keduanya keluar dari biliknya.


Setelah mempersiapkan segala sesuatu nya , saat matahari mulai condong ke arah barat ,iring -iringan dari Pamotan bergerak ke Majapahit dengan menggunakan satu kereta istana yg di tumpangi oleh ibunda Ratu dan Ratu Pamotan sendiri sedangkan Larasati menunggangi kuda beserta kakaknya Wikala. Sementara Arya bor bor, yg telah melihat gurunya kembali amat senang, ia pun selalu berada di sisi sang guru.

__ADS_1


******


Nun jauh disana, di alas Roban, Lurah waringka yg telah sampai dihutan pantai utara itu pun datang menemui ki Jabang wingit dengan pesan bahwa ki Wingit harus melaksanakan kembali tugas yg akan di berikan oleh Rakryan Mantri Kuda Langhi, yaitu menghabisi Patih Gajah Nata, seperti yg mereka lakukan beberapa waktu lalu terhadap Gusti Prabhu.


Ki wingit pun menyanggupinya, maka dengan itu ki Lurah waringka, segera kembali ke Majapahit, namun kegiatan Lurah prajurit jaga keraton ini tetap dalam pantauan dari Pratanu.


Yg sebelumnya Pratanu telah mengirimkan pesan melalui prajurit Kadipaten Matahun untuk menyampaikan pesan ke istana Barat dan Timur.


Naja Pratanu tidak mau gegabah untuk menanngkap Lurah waringka karena ia merasa, lebih baik membiarkan dulu segala kegiatan dari Rakryan Mantri Kuda Langhi sampai terdapat bukti yg jelas untuk menghukumnya. Sehingga dengan tenang Lurah waringka dapat kembali lagi ke Majapahit.


Sedangkan di Majapahit sendiri, setelah mendapati laporan dari Pratanu, Patih Gajah Nata menyiapkan perangkap untuk menangkap basah dari kegiatan mbalelanya Rakryan Mantri Kuda Langhi yg seakan-akan telah menguasai istana, karena istana tanpa seorang Raja.


Adalah Bekel Lembu Petala dan Tumenggung Singha wara saja, yg tidak mampu menahan perasaan geramnya atas sikap dari Mantri Kuda Langhi tersebut, saat dalam istana kepatihan Majapahit, berkatalah ia,


" Kegiatan mereka selayaknya lah di hentikan,!" ucap Bekel Lembu Petala.


" Benar, jangan menunggu mereka semakin besar," ucap Tumenggung Singha wara menimpali.


" Ahh, sebaiknya kita menunggu , hingga mendapatkan bukti yg jelas, dan lagi Ibu Suri akan segera kembali beserta anak dan mantunya, sekaligus mereka nanti yg mengambil keputusan atas Mantri wreda itu,!" ungkap Patih Gajah Nata.


" Anakmas Radeksa akan kemari?" tanya Tumenggung Singha wara.


" Benar, dan mereka akan mengambil alih kepemimpinan disini sampai Adipati Wengker bersedia jadi Raja,!" jawab Patih Gajah Nata.


" Suatu keputusan yg sangat baik, mungkin kangmbok Ratu mendapatkan saran dari anakmas Radeksa,!" tukas Tumenggung singha wara lagi.


" Bisa jadi, setelah pulang dari Tiongkok , anakmas Radeksa semakin cakap dalam masalah bernegara, mungkin karena persahabatan nya dengan Jenderal Yu Qian yg amat pintar dalam mengatasi permasalahan bangsa Tiongkok,!" ujar Bekel Lembu Petala.


" Coba adi ceritakan pengalaman kalian sewaktu di Tiongkok , supaya kami disini dapat mendengar langsung dari yg mengalaminya sendiri,!" pinta Tumenggung singha wara.


Patih Gajah Nata pun seakan setuju dengan permintaan dari Tumenggung singha wara itu sambil berkata,


" Supaya kita tidak terlalu memikirkan Mantri Kuda Langhi yg tidak tahu terima kasih itu, lebih baik mendengar ceritamu Lembu Petala,!" jelas Patih Gajah Nata.


" Baiklah aku akan bercerita pengalaman kami dan kuharap paman Patih dan kakang Tumenggung dapat menyimpan rahasia jika ceritaku nanti mengandung rahasia kami berdua dengan anakmas Radeksa,!" pinta Bekel Lembu Petala.


" Kami berjanji akan menyimpan rahasia kalian, !" ucap Tumenggung Singha wara yg diikuti anggukan kepala oleh Patih Gajah Nata.


Maka bercerita lah Bekel Lembu Petala, mulai dari berlayar hingga sampai asem arang dan di cegat bajak laut saat mau ke pelabuhan Kelapa, sampai di terjang Badai di lepas Tumasik, bahkan pertarungan di Champa melawan pasukan kerajaan annam, sampai menikah disana, di sini Bekel Lembu Petala menyebut kan itu merupakan rahasia yg tidak usah di ceritakan, mengingat Radeksa adalah suami Ratu Pamotan, kemudian Bekel Lembu Petala melanjutkan ceritanya ketika sampai di Tiongkok dan harus ikut bertempur melawan pasukan mongol, yg akhirnya di menangkan pihak Tiongkok dengan kematian dari Jenderal terbaik dari mongol di tangan Wikala, sampai akhirnya mereka mendatangi tempat yg indah di daocheng guna bertemu Biksu Majin. Semuanya tidak tertinggal di ceritakan oleh Lembu Petala dengan bersemangat. Setelah cerita Bekel Lembu Petala berakhir, ucapan yg keluar dari kedua pemimpin Majapahit itu adalah,


" Luarbiasa,....,!" ungkap kedua orang itu bersamaan.


" Sungguh pengalaman yg menakjubkan, bersyukur dirimu Petala menjadi saksi hidup yg melihat kehebatan Anakmas Radeksa,!" ucap Patih Gajah Nata.


Seraya di timpali oleh ucapan Tumenggung singha wara,


" Sayang mengapa saat itu tidak aku saja yg dikirim Gusti Prabhu mendampingi anakmas Radeksa, kan bisa dapat istri dari Champa dan Tiongkok,!" kata Tumenggung singha wara sambil tertawa.


" Memang benar ucapan paman dan kakang Tumenggung bahwa aku patut bersyukur dengan nasib ku yg jadi pedamping anakmas Radeksa, hampir di setiap tempat kami di elu-elukan, karena kemampuan anakmas itu memang mengagumkan,!" tutur Bekel Lembu Petala mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


Setelah mendengar cerita pengalaman dari Bekel Lembu Petala , perasaan marah atas sikap Mantri Kuda Langhi agak mereda, mereka tinggal menunggu keputusan dari Ibu Suri setelah nanti sampai di istana.


------------


__ADS_2