
__ADS_3
" Sudah lama rasa nya tidak bertemu Eyang Guru, rindu sekali, !!!" Ucap Wikala Sang Adipati Pamotan itu.
" Kang , sebenar nya Laras pun ingin ikut, akan tetapi waktu ber salin sudah dekat, jadi biar lah kakang Pratanu yg menemani kakang Radeksa ke Merbabu,!" kata Larasati.
" Itulah ngger, se sibuk dan se sulit apa pun keadaan nya, sempat kan lah menjenguk dan ber kunjung ter hadap orangtua kita, karena sebenar nya si orangtua itu tidak akan meminta yg aneh-aneh,, dengan di kunjungi saja mereka sudah sangat senang,!" nasehat Mpu Thanda dengan sareh kepada kedua anak nya itu.
Ia memang tidak menyalah kan dari perbuatan kedua anak nya itu yg memang sangat sulit untuk melakukan kunjung an jika tidak benar-benar di perlu kan karena tugas yg sangat mengikat mereka ter lebih bagi Radeksa Wikala yg merupa kan orang nomor satu di Pamotan, Kadipaten ter besar se Majapahit , bahkan di sebut sebagai Istana Timur.
Bahkan karena tugas-tugas nya di keraton timur itu , untuk bertemu keluarga ter dekat nya pun terasa sulit.
Oleh sebab itu Mpu Thanda atau Raden Wirapati tidak ber keinginan menjadi abdi keraton meski sempat menjabat di keraton Majapahit.
" Maaf kan lah kami ber dua Romo, !" kata Adipati Pamotan itu.
" Yeah, mau di kata apa lagi, semoga kalian bisa bertemu dengan Paman Barada, !" kata Mpu Thanda yg menghela nafas nya dalam-dalam seolah ada yg mengganjal di dalam hati nya.
Setelah bermalam sehari di tanah perdikan Thandasain, Adipati Pamotan itu kedatangan tiga orang pembantu nya dari Kota Daha yaitu, Naja Pratanu, Lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara yg memang masih berada di sana atas permintaan dari Adipati Daha.
" Kapan Kangmas Adipati tiba di Thandasain ini, ?" tanya Naja Pratanu begitu bertemu dengan Adipati Pamotan.
" Kemarin,!" jawab Adipati Pamotan.
Sang Adipati tengah ber main dengan putra nya dari Rara Tantri itu.
" Ada tugas yg penting kah sehingga Kangmas harus turun sendiri kemari,?" tanya Naja Pratanu lagi.
" Atas desakan dari beberapa kadipaten, Kangmas di tunjuk untuk memimpin penyerangan ke kotaraja Majapahit yg dalam hal ini telah terlalu ber tindak sewenang-wenang, di saat para rakyat kesulitan, mereka malah merongrong nya dengan melaku kan ber bagai ke kacauan bukan nya membantu malah menyengsara kan, oleh sebab itu Kangmas perlu kan menghadap Kangmas Adipati Daha yg dalam hal ini adalah penerus langsung Ramanda Prabhu, dan sekaligus mohon restu dari Eyang Guru Barada di puncak Merbabu,!" terang Adipati Pamotan kepada adik ipar nya itu.
Naja Pratanu dan semua orang yg berada di pendopo rumah Mpu Thanda itu men dengar kan cukup jelas penuturan dari Sang Bhre Kertabhumi itu.
Adalah Mpu Thanda , selaku orang tua dari Adipati Pamotan segera mem beri kan nasehat,
" Ngger Radeksa, kamukten itu bukan hanya di upaya kan saja tetapi memang ada tangan lain yg turut campur di dalam nya yaitu tangan dari Hyang Widhi wasa, se hebat apa pun dia, juga se sakti apa pun dia jika tidak ada restu dari Hyang Widhi wasa semua nya itu tidak akan ber hasil, jadi wahyu keprabon itu memang ada, usaha kan dalam langkah mu kali ini mendapat restu dari Hyang Widhi wasa, bukan nya Romo menakut-nakuti, segera lah minta Petunjuk-NYA, agar langkah mu tidak sia-sia,!" ungkap Mpu Thanda yg cukup faham akan sifat dari anak nya itu, ia khawatir Sang putra akan ke bablasan dalam menyikapi Kamukten yg seperti nya akan meng hampiri nya itu.
" Baik Romo, nasehat Romo akan tetap Nanda pegang, dan untuk itulah Radeksa memerlu kan datang ke Puncak Merbabu guna me minta pendapat Eyang Guru,!" jawab Sang Adipati Pamotan.
" Syukur lah jika Angger me mahami nya, jangan cuma karena saran beberapa petinggi kadipaten , angger langsung mengiya kan, apa pun wangsit Wahyu keprabon masih berlaku disini,!' jelas Mpu Thanda lagi.
Yg berada di pendopo rumah Mpu Thanda itu ter diam beberapa lama sampai makanan di hidang kan dan Mpu Thanda pun mem persilah kan untuk menyantap nya.
Ketika Matahari telah tepat di atas kepala, Radeksa Wikala Sang Adipati Pamotan, menyempat kan diri guna melihat keadaan dari Tanah perdikan Thandasain yg sempat luluh lantak di hantam murka nya Ssng Kelud beberapa waktu silam, dan sekarang ter lihat tempat itu lebih subur dari sebelum nya, meski di tempat lain kekurangan air di Thandasain tidak, itu lah kuasa dari Hyang Widhi wasa.
Lewat tengah hari, Adipati Pamotan dan para pengawal nya singgah di rumah Ki Gede Thandasain yg juga merupakan mertua dari Sang Adipati.
" Apa Khabar angger Adipati,!" tanya Ki Gede Thanda.
" Baik Romo, bagaimana dengan Romo sendiri,!" kata Adipati Pamotan.
__ADS_1
" Baik , sangat baik, meski pun di tlatah Majapahit ini terasa panas namun di sini masih terasa adem dan sejuk,!" kelakar dari Ki Gede.
" Bagaimana dengan hasil panen tahun ini , Romo,?" tanya Adipati Pamotan lagi.
" Masih melimpah, mungkin akibat dari endapan Lumpur Kelud dan juga air yg masih lancar, panen tahun sungguh meng gembira kan, bahkan tanah perdikan ini mampu membantu kota kadipaten Daha dalam hal pangan,!" ujar Ki Gede Thanda lagi.
" Bagus kalau begitu, jika memang pecah perang dengan Kotaraja , Kami minta Romo mau membantu per bekalan dari Pamotan,!" kata Adipati Pamotan terus terang.
" Apakah Pamotan akan ber perang dengan Kotaraja,?" tanya Ki Gede Thanda dengan ter kejut.
" Demikian lah kira nya Romo, mungkin dalam waktu dekat ini, Romo tentu akan mendapat khabar tentang hal itu,!" jawab Adipati Pamotan lagi.
" Apakah Pamotan memang sudah siap, maksud Romo apakah Angger Adipati memang sudah siap untuk melakukan itu,?" tanya Ki Gede Thanda kepada menantu nya itu.
" Siap tidak siap, tetapi kepentingan rakyat kecil yg harus di kedepan kan, dengan banyak nya bencana di tambah lagi tidak becus pemerintahan yg sekarang ini, Kami di Pamotan harus tampil membawa bendera Perang guna memberantas kelaliman yg telah terjadi di Majapahit ini, kasihan rakyat yg terus menerus menderita, oleh sebab itu Kami me mohon kepada Romo mau mem bantu per bekalan kami kelak dan mungkin landasan nya nanti kami taruh di d ekat sini, entah di kandangan atau di hantang,!' jelas Adipati Pamotan kepada mertua nya itu.
" Mudah,-mudahan niat luhur Angger Adipati di restui Hyang Widhi wasa, dan kami di Thanda tidak ada persoalan tentang kesulitan bahan pangan tentu siap untuk mem bantu Pamotan,!" jawab Ki Gede Thanda.
Rara Tantri keluar dan mem bawa kan hidangan kepada suaminya itu beserta para pengawal nya, memang meski seorang istri Adipati , Rara Tantri tidak menjadi seorang yg mesti di layani bahkan di tanah perdikan itu ia seorang Putri dari Ki Gede namun tidak pernah minta di hormati.
Sehingga ketika suami dan para pengawal yg di kenal nya itu datang, ia pun tidak sungkan untuk melayani mereka.
Kalau ia ber sedia dan mau jadi penghuni keraton tentu ia akan di jadi tuan putri di sana namun memang syarat ia menerima Adipati Pamotan jadi suami nya adalah ia tetap di izin kan tinggal di Thanda tidak di keraton.
Sebenar nya hati Wikala sang Adipati pamotan senang di satu sisi karena bisa menikmati hidup sewajar nya di satu sisi, tetapi merasa ber sedih jika melihat sang istri harus capek menyedia kan sesuatu , padahal bisa tinggal perintah saja.
" Ahh Kangmas, pembantu di rumah ini cukup banyak, akan tetapi kapan kira nya diajeng bisa melayani suami jika semua di urus oleh pembantu,!" jawab Rara Tantri kepada suami nya itu.
Lama Wikala sang Adipati pamotan itu memandangi wajah sang istri, yg merupa kan cinta pertama nya itu, banyak kelebihan yg di miliki oleh istri nya itu yg tidak di miliki oleh wanita lain.
Sehingga secara pribadi, Adipati Pamotan tidak dapat membanding kan istri nya dengan wanita mana pun, ter masuk dengan Ratu Pamotan yg ter dahulu.
" Jadi Kangmas akan ke Merbabu,?" tanya Rara Tantri.
" Iya , ber sama dengan Arya bor-bor dan Naja Pratanu, mungkin esok kami akan berangkat,!" jelas Adipati Pamotan kepada istri nya.
" Sebenar nya kami ingin ikut, tetapi mungkin Kangmas mungkin ter buru-buru , biar lah lain kali kami ikut,!" ujar Rara Tantri.
" Iya , Kangmas memang ter buru-buru, setelah dari sana mungkin kami akan singgah di Pawanuan dan kemudian ke Daha baru setelah itu kami kembali kemari ,!" ucap Wikala Sang Adipati Pamotan.
Setelah berada di rumah Ki Gede sampai menjelang malam, baru lah Adipati Pamotan kembali ke rumah nya.
Malam itu seperti biasa rumah Mpu Thanda ramai, selain memang Kedatangan tamu Agung, rumah itu juga di perguna kan untuk melatih para pemuda tanah perdikan Thandasain untuk belajar ilmu silat, yg di beri kan oleh Larasati, Pratanu dan para Lurah prajurit Balasewu yg berada di sana, setidak nya mereka berusaha menempa pemuda Thanda untuk mampu menjaga keamanan desa nya sendiri.
Demikian pula di rumah Ki Gede Thanda, Rara Tantri pun menyempat kan diri memberi kan pelatihan kepada para pemuda dan pemudi ber latih ilmu silat, apalagi di saat-saat sepeti ini, telah banyak kejadian yg membuat mereka harus mampu menjaga desa nya sendiri tanpa menggantung kan kepada yg lain, termasuk Kota Daha.
" Bagus Lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara, latih mereka terus supaya mampu menjadi pengawal yg tangguh bagi tanah perdikan Thandasain ini,!" ungkap Adipati Pamotan sambil ber tepuk tangan setelah melihat kedua Lurah prajurit Balasewu itu mem berikan arahan kepada para pemuda desa nya itu.
__ADS_1
Sampai larut malam latihan itu baru di henti kan, latihan yg biasa di lakukan tiga kali dalam sepekan.
Ke esokan hari nya, ter lihat tiga ekor kuda yg gagah dan besar keluar dari halaman rumah Mpu, mereka ber gerak menuju arah barat.
Penunggang kuda ter sebut adalah Adipati Pamotan bersama Arya bor-bor dan Naja Pratanu
Tujuan ketiga nya adalah Puncak Merbabu yg berada di sebelah barat.
Setelah dua hari sampai lah ketiga nya ke Gunung Lawu tepat nya di desa Anon , sebuah desa dimana dulu Hantu Kali Mayit atau Arya bor-bor ber tempat tinggal.
Ketiga nya singgah di sana dan menginap sehari di desa itu. Kemudian mereka pun melanjut kan perjalanan nya terus menuju barat tanpa ada hambatan di jalan,baik dari orang-orang yg ber niat tidak baik maupun dari binatang buas.
Seharian melakukan perjalanan sampai lah ketiga nya di kaki gunung Merbabu, tempat dimana Sang Adipati Pamotan untuk pertama kali menimba ilmu kadigjayaan dari Mpu Barada yg adik dari Raden Narapati eyang Wikala sendiri.
Sesampai nya di desa Sepandan yg ter letak di kaki gunung Merbabu itu, ketiga nya menitip kan kuda-kuda nya.
Dan kemudian ketiga nya naik ke puncak Merbabu dengan jalan kaki. Karena ketiga nya ber ilmu tinggi, sebentar saja telah sampai ke puncak Merbabu tepat nya ke padepokan Mpu Barada.
Alangkah terkejut nya Wikala Sang Adipati Pamotan itu, tidak menemu kan lagi padepokan dari Guru nya itu.
Tempat itu telah rimbun dengan semak belukar yg telah tumbuh dan menjalar kemana-mana.
Hati Adipati Pamotan itu terasa sedih dan pilu mengetahui bahwa padepokan kecil milik Guru nya itu telah tiada.
" Bagaimana Gusti Guru, kemana kita mencari Eyang Guru Barada,?" tanya Arya bor-bor.
Adipati Pamotan yg di tanya seperti itu malah memandangi wajah Arya bor-bor saja, ia diam tidak menjawab pertanyaan itu.
" Kangmas Adipati, sebaik nya kita mencari petilasan dari Eyang Barada,,!" kata Naja Pratanu kepada Adipati Pamotan itu.
" Hehh, ahh, Kau benar adi Pratanu, di dekat sendang yg biasa tempat kita mandi ada sebuah goa mungkin eyang Guru berada di sana,!" jawab Wikala Sang Adipati Pamotan itu.
Ketiga ber gerak turun arah ke sendang yg biasa di pakai untuk mem bersih kan tubuh itu.
Sesampai nya di sana, tempat itu pun telah berubah menjadi hutan, tidak tampak tanda-tanda kehidupan.
Meskipun demikian, Wikala segera membuka tempat itu, dan berjalan menyusuri sendang dan berada tepat di depan sebuah pintu goa.
Dengan cekatan Adipati Pamotan mem bersih kan mulut Goa itu dan masuk ke dalam.
Ruang di dalam Goa itu cukup lega makin ke dalam makin luas hingga sampai di sebuah persimpangan dalam goa yg gelap itu.
Arya bor-bor pun menyala kan sebuah obor minyak jarak, dan menerangi tempat di dalam Goa itu.
" Kemari, di sebelah sini biasa nya Eyang melakukan tapa barata nya,!" ucap Wikala menunjuk ke arah kiri dari persimpangan dalam goa itu.
Ketiga nya masuk lebih dalam di goa ter sebut, udara terasa tipis se olah sulit untuk ber nafas.
__ADS_1
Setelah mendapati tempat yg lebih luas di bawah penerangan obor di tangan Arya bor-bor, alangkah terkejut nya Adipati Pamotan itu, setelah melihat sesuatu.
__ADS_2