BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 18 Singgasana Yang Suram bagian ke tiga


__ADS_3

Di pamotan sendiri , Adipati Pamotan sang Bhre Kertabhumi telah pun di kunjungi oleh Bekas bajak Laut yg dahulu pernah di kalah kan oleh Sang Adipati dan kini telah insyaf, ialah Gongso.


Sekarang tokoh itu telah menetap di pulau madura, dan kali ini ia menyambangi Adipati Pamotan atas permintaan dari Sang Adipati sendiri.


" Apakabar kakang Gongso, !" ucap Adipati Pamotan itu.


" Baik Gusti Adipati, hamba sangat baik , " jawab Gongso.


" Ahhh, kakang Gongso jangan ter lalu ewuh pakewuh, panggil saja aku dengan nama atau panggilan adi juga bisa, biar ter lihat akrab, bukan begitu kakang Gongso,?" ujar Adipati Pamotan.


" Hamba Gusti Adipati, ehhh, saya adi Wikala,!" jawab Gonso.


" Ha, begitu lebih enak kedengaran nya, sudah lama tidak ada yg menyebut kan nama ku kakang Gongso, aku jadi rindu akan panggilan itu, mungkin nanti tidak banyak yg tahu akan nama ku, Hanya gelar dari jabatan ku saja yg di ingat orang kelak di kemudian hari,!" ungkap Wikala sang Adipati pamotan itu.


" Akan tetapi sudah selayak nyalah demikian adi, bahwa seseorang itu akan ter kenal karena jabatan yg di emban nya bahkan untuk sekelas saya yg seorang bekas Bajak laut, pasti mereka akan mengenang si Bajak laut dari utara, demikian pula adi Wikala yg seorang Adipati tentu akan di ingat di kemudian hari tentu jabatan itu,!" jelas Gongso yg saat ini penampilan nya telah ber beda dengan beberapa waktu yg lampau ketika Wikala ber temu di atas kapal menuju Tiongkok. Gongso ter lihat lebih sabar dan tidak berengasan bahkan ucapan nya pun sudah ter lihat santun.


Melihat hal ini Wikala kemudian bertanya lagi,


" Kakang Gongso ter lihat lebih sabar sekarang ini bahkan ucapan nya pun sperti priyayi keraton, gerangan apakah yg dapat merubah penampilan kakang Gongso itu,?" tanya Adipati Pamotan lagi.


" Ahhh, panjang cerita nya adi Wikala, ketika engkau ber hasil mengalah kan ku, sepulang dari tempat itu kami menuju timur mengarah ke pulau Madura, suatu saat setelah mendekat , kami melihat seseorang yg menggunakan jubah layak nya resi tetapi beda nya memakai ikat kepala di panjang dan di belit-belit diatas kepala nya, !" ucap Gongso yg kemudian ter diam sejenak.


Wikala membiar kan Gongso melanjut kan kata-kata nya lagi tanpa mengaju kan pertanyaan.

__ADS_1


" Namun ada sesuatu yg aneh menurut ku atas orang itu, beliau mampu mengambang di atas air tanpa tenggelam bahkan jubah nya pun tidak basah, akan tetapi naluri rampok ku begitu menggelegak ketika melihat sebuah tongkat yg di pangku nya itu gagang nya ter buat dari emas dan beberapa berlian yg menghiasi nya, maka Ku perintah kan lah anak buahku untuk merampas tongkat itu,!" ucap Gongso lagi.


" Dan ketika kapal yg kami tumpangi itu mendekat, para anak buah ku segera menghujani orang itu dengan panah, tombak dan senjata-senjata rahasia, akan tetapi sangat sulit untuk di percaya, seluruh senjata kami itu tidak dapat melukai tubuh nya, seluruh senjata yg kami lempar kan itu seolah -olah tidak menyentuh tubuh nya langsung masuk ke dalam air, saya dan seluruh anak buah ku ter cengang di buat nya, dan kami meng henti kan serangan-serangan kami itu, dan tiba-tiba tubuh orang yg ber jubah itu menghilang dan kemudian muncul di atas geladak kapal kami,!" cerita Gongso.


" Lalu apa yg di lakukan oleh orang ter sebut ter hadap kakang Gongso,?" tanya sang Adipati pamotan itu.


" Ia kemudian berkata sambil tetap memandangi lautan tanpa menoleh kepada kami, bukan kah engkau telah ber janji tidak akan menjadi rampok lagi setelah di kalah kan seorang calon Raja Majapahit, tetapi begitu melihat sebatang kayu yg ber lapis emas hati mu berubah, kata orang bet jubah itu kepada ku, Adi Wikala,!' kata Gongso melanjut kan cerita nya.


" Jadi apa yg kakang Gongso lakukan,?" tanya Wikala lagi.


" Saya ter diam mematung dan kemudian mendekati nya seraya berkata, maaf kanlah saya yg tidak dapat melihat tinggi nya gunung dan dalam nya lautan, sudi lah kiranya tuan me maaf kan saya,!'' kata Gongso melanjut kan cerita nya.


" Apa yg terjadi kemudian,?" tanya Wikala penasaran.


" Ohh, jadi begitu cerita nya kakang Gongso yg sekarang tampak lain dari sebelum nya , aku tidak menyangka perubahan itu karena kakang Gongso telah ber guru kepada seorang yg sangat tinggi ilmu nya, mungkin kalau saat ini harus ber tarung dengan kakang Gongso, aku tentunya akan kalah,!" seloroh dari Adipati Pamotan itu.


" Ahh, adi Wikala bisa saja, mana mungkin aku mampu mengalah kan adi, sesuai dengan pesan guru ku tadi bahwa kelak, adi lah yg akan memerintah negeri Majapahit ini, dan,....!" Gongso tidak melanjut kan kata-kata nya dan hal itu mem buat Wikala penasaran.


" Dan apa, kakang Gongso,?' tanya nya kepada bekas bajak laut itu dengan ber sungguh-sungguh.


Kemudian Gongso memberi isyarat kepada Wikala untuj mendekat kan telinga , setelah dekat ia mem bisiki sesuatu yg membuat Wikala senang kemudian ter kejut, seraya ber tanya,


" Benar kah demikian, yg di katakan oleh guru mu kakang,?" tanya nya dengan perasaan ter kejut.

__ADS_1


" Demikian lah kira nya penuturan dari guru ku itu, nanti adi bisa mem bukti kannya sendiri, benar tidak nya yg telah di ucap kan oleh guru Ku itu,!" jelas Gongso.


" Baik lah , apa pun itu tentu memang sudah takdir ku, namun saat ini biar lah aku men jamu kakang Gongso sebelum kembali ke madura,!'' ucap Wikala kepada Gongso.


Kedua nya tampak akrab meski mereka sempat ber tarung beberapa waktu lalu, dan sebelum kembali pulang, Wikala selaku Adipati Pamotan mem berikan sebuah keris ber luk tiga belas dengan gagang ber lapis emas di sertai beberapa berlian.


Gongso menerima nya dengan senang hati meski pun ia mengata kan mem bantu Pamotan tulus tanpa pamrih.


Setelah ke pulangan dari Gongso, kemudian datang lah pasukan dari Bali tepat nya dari Kerajaan gel gel, yg di pimpin oleh Senopati I Gede pikatan dan pasukan nya.


Mereka ber sandar di pelabuhan ketapang, guna ber temu Adipati Pamotan, pasukan dari Bali itu lebih dahulu sampai di pamotan dari pada pasukan Pamotan sendiri karena mereka melalui jalur laut.


Setiba nya di istana Timur itu, segera lah melapor kan hasil dari pasukan itu kepada Adipati Pamotan.


" Ampun kan hamba Gusti Adipati, demikian lah kira nya, rasa nya pasukan dari Bali ini masih harus lebih banyak lagi belajar dari Pamotan ini, kalau seandai nya, sahabat Gusti Adipati yg ber nama Gongso itu mungkin pasukan kami, akan hancur, karena tandang dari Bajak laut yg ber nama Dangsa Aras sangat sulit untuk di henti kan,!" ucap Senopati I Gede pikatan kepada Adipati Pamotan.


" Ahhh, jangan ter lalu di risau kan kakang Pikatan, bukan nya gel gel tidak kuat armada laut nya, mungkin masih harus terus di tempa supaya lebih tangguh lagi seperti masa-masa dahulu, dan Aku atas nama kadipaten Pamotan mengucap kan banyak terima kasih kepada Senopati dan kepada Ramanda Prabhu gel-gel yg telah sudi mengirim kan pasukan nya untuk mem bantu Pamotan ini, mungkin di lain waktu kami masih akan selalu meminta pertolongan dari gel gel, dan sampai kan sembah sungkem kepada Ramanda Prabhu di gel gel,!" ujar Wikala selaku Adipati Pamotan kepada Senopati I Gede pikatan itu.


Setelah menerima pasukan Gel-gel, Adipati Pamotan kemudian menerima pasukan Pamotan yg di pimpin oleh Senopati Lembu Petala dan Arya bor-bor beserta beberapa Tumenggung kepercayaan dari Adipati Pamotan itu.


Serasa kebahagiaan menyelimuti dari kadipaten Pamotan itu karena telah ber hasil menjawab tantangan dari Kotaraja Majapahit.


Saat ini , Pamotan telah menatap Keraton Majapahit yg berada di trowulan itu, karena banyak prajurit sandi Pamotan yg menyebut kan bahwa keadaan Kotaraja Majapahit saat ini benar-benar dalam keadaan sulit baik dari segi keprajuritan nya terlebih masalah per bekalan nya, karena secara langsung saat ini Majapahit hanya di topang oleh dua Kadipaten saja yaitu Wengker dan Pandan Alas, sementara kadipaten-kadipaten yg lain telah melakukan pendekatan ke pamotan sebagai dari lanjutan Majapahit di masa Prabhu Rajasawardhana.

__ADS_1


__ADS_2