
__ADS_3
Naja Pratanu sempat juga me micing kan mata nya hingga matahari meng gatal kan kulit, sementara Lurah prajurit Balasewu itu telah pun mem bersih kan tubuh kemudian ikut sarapan pagi ber sama keluarga Ki Gede.
Setelah Naja Pratanu bangun dari tidur nya ia pun segera ke pakiwan mem bersih kan tubuh nya dan kemudian ikutan duduk di pendopo rumah Ki Gede itu.
Ia pun segera menyiap kan suatu rencana untuk meng hadapi para prajurit yg akan mencuri itu.
" Sebaik nya Lurah Trilaya kembali ke tempat para prajurit Majapahit itu berada, sedang kan Lurah Dipangkara tetap berada di sini untuk menerima berita dari Lurah Trilaya, nanti Aku sendiri yg akan ke Daha, jadi jika tiba-,tiba mengalih kan sasaran kemari segera lah Lurah Dipangkara menghubungi ku yg berada di Daha,!" kata Naja Pratanu dan kemudian melanjut kan lagi,
" Jika memang mereka tetap melakukan rencana nya untuk menyasar kota Daha, Ku harap Lurah berdua mem buntuti mereka dari belakang, supaya nanti kita bisa menghadapi nya ber sama-sama di Daha, apa kah kalian mengerti Ki Lurah ," jelas Naja Pratanu
" Kami mengerti Senopati Pratanu,!" jawab kedua Lurah itu ber sama an.
Segera lah kedua orang itu ber gerak menuju tempat masing-masing, yg tinggal hanya Lurah Dipangkara.
Ia tetap tinggal di kediaman dari Ki Gede Thandasain itu. Karena rumah Ki Gede Thandasain sebagai tempat per temuan mereka.
Bahkan Naja Pratanu memberi kan pesan kepada istri nya untuk ber siap jika para prajurit itu akan mencuri lumbung padi di Tanah perdikan Thandasain itu.
Pesan yg sama juga di sampai kan kepada ki Gede Thandasain itu.
Setelah Matahari tepat di atas ubun -ubun, Naja Pratanu telah berada di Kota Daha. Ia segera meng hadap , Adipati Daha.
" Ampun Gusti Adipati, apakah Gusti Adipati telah melihat per gerakan pasukan itu,?" tanya Naja Pratanu kepada Adipati Daha.
" Memang benar ucapan mu itu Pratanu, namun tampak nya mereka belum ber gerak dan ada ke mungkinan nanti malam, oleh sebab itu Ku harap Senopati Pratanu tetap berada di sini untuk mem bantu kami,!" ucap Adipati Daha.
" Sendika dalem Gusti Adipati, saya akan tetap di sini kecuali ada berita yg lain dari telik sandi Pamotan, apakah pasukan kecil itu ber pindah menyasar tanah perdikan Thandasain, karena kami pun harus turut mem bantu tanah perdikan itu,!" ucap Naja Pratanu.
" Apakah ke mungkinan itu ada,?" tanya Adipati Daha kepada Naja Pratanu.
" Kemungkinan itu tetap ada Gusti Adipati, karena keperluan mereka dalam hal ini ada dua, yg pertama adalah untuk tetap dapat mencukupi bangsal perbekalan mereka dan yg kedua berusaha membuat kekacauan di wilayah Majapahit ini, sehingga kadipaten-kadipaten yg menentang Kotaraja akan menjadi lemah, selain karena kesulitan bahan pangan di tambah lagi kesulitan untuk mengatasi masalah keamanan, semua nya itu telah di perhitung kan oleh Kangmas Pamotan,!" jelas Naja Pratanu kepada Adipati Daha.
" Memang dimas Kertabhumi cukup cerdik menyikapi kejadian yg ber laku atas tanah Majapahit ini, ia sangat tanggap, bahkan kami di Daha baru tahu setelah Pamotan memberi tahu kan tentang ke datangan pasukan kecil itu di perbatasan Daha,!" ungkap Adipati Daha yg terus me muji adik ipar nya itu.
" Demikian lah kira nya Gusti Adipati, memang Kangmas Pamotan cepat memberi kan perhatian nya jika sesuatu telah terjadi,!" jawab Naja Pratanu.
" Aku mesti banyak belajar dari nya,!" gumam Adipati Daha itu.
Setelah hening sejenak kemudian Naja Pratanu ber tanya kembali kepada Adipati Daha.
" Apakah Gusti Adipati telah menyiap kan perangkap untuk menangkap para maling itu,?" tanya Naja Pratanu.
" Sudah, Aku telah menyiap kan dua Tumenggung untuk menghadapi para pencuri itu dengan di bantu beberapa prajurit pilihan dari kadipaten Daha ini,!" jelas Adipati Daha.
" Apakah Gusti Adipati telah meningkat kan penjagaan dari gudang per bekalan itu,?" tanya Pratanu lagi.
" Dari tadi malam kami telah menjaga ketat gudang perbekalan itu,!" jelas Adipati Daha.
" Kalau menurut saya, Gusti Adipati menarik penjagaan itu dan mengganti nya seperti biasa, untuk memancing mereka tetap datang, seolah olah Daha tidak akan di sambangi oleh mereka dan ketika mereka telah berada di dalam, kita lakukan penyergapan,!" ungkap Naja Pratanu.
Adipati Daha ter diam merenungi ucapan dari adik ipar Adipati Pamotan itu, ia seolah setuju dengan perangkap yg di siap kan oleh Naja Pratanu itu.
Kemudian Adipati Daha ber kata,
" Baik lah Pratanu , usul mu itu aku terima, biar para prajurit yg berada di sana di tarik menjauh dari tempat itu,!" ujar Adipati Daha.
Kemudian Sang Adipati memerintah kan seorang prajurit penghubung untuk menyampai kan pesan itu kepada para penjaga gudang perbekalan tersebut.
__ADS_1
Sementara itu pasukan kecil Majapahit yg berada dekat kandangan itu telah mem persiap kan segala sesuatu nya, ter masuk menunggu prajurit sandi yg di kirim oleh Rangga Panili.
" Apakah kalian melihat penjagaan di gudang perbekalan itu sangat ketat,?" tanya Rangga Panili kepada salah seorang prajurit sandi itu.
" Tidak terlalu ketat Ki Rangga, penjagaan nya seperti biasa saja,!" jawab prajurit Sandi Majapahit itu.
" Bagus, rencana kita semakin mudah untuk mengambil hasil dari dalam Lumbung-lumbung itu, nanti setelah kami ber gerak, usaha kan pedati-pedati itu pun men dekat, upaya kan secepat kita ber hasil menguras habis isi dalam lumbung itu segera meninggal kan tempat,!" perintah dari Rangga Panili.
Semua pembicaraan itu di dengar oleh prajurit sandi Pamotan yaitu Lurah Trilaya yg sedang menyamar sebagai penggembala kambing di tempat yg tidak jauh dari situ.
Setelah matang pembicaraan dari para prajurit Majapahit itu, mereka ter lihat ber istrahat sejenak menunggu malam tiba, sementara Lurah Trilaya segera meninggal kan tempat itu setelah merasa cukup akan berita yg telah di dengar nya itu.
Ketika malam tiba, maka datang lah ke tempat itu, bekas begal Gagak Mantruk yg langsung memimpin lima orang perwira Majapahit itu, mereka ber gerak dengan cepat menuju gudang per bekalan dari Kadipaten Daha, tujuan nya ingin menguras isi Lumbung padi dari kadipaten Daha itu.
Meski jarak nya agak jauh namun ke enam orang itu dengan cepat sampai ke tempat karena menggunakan ilmu peringan tubuh.
Demikian pula dengan Lurah Trilaya selepas mengembali kan kambing-kambing nya kepada pemilik nya Lurah dari kesatuan Balasewu itu dengan cepat melesat ke tanah perdikan Thandasain untuk menemui rekan nya Lurah Dipangkara.
Setelah memberi penjelasan kepada Ki Gede dan Larasati yg masih berada di tempat itu, kedua nya segera menuju kota Kadipaten Daha.
Sementara di Daha sendiri , dua Tumenggung kepercayaan dari Adipati Daha yaitu Tumenggung Barana dan Jayayuda tengah mem persiap kan perangkap bagi para maling.
Mereka mem buat jaring-jaring di sepanjang jalan menuju gudang perbekalan itu, ter masuk di lumbung-lumbung padi.
Meski penjagaan di sekitar lumbung-lumbung padi itu ter kesan biasa saja namun se sungguh nya telah banyak prajurit Daha yg ber siaga di balik-balik pe pohonan dan rimbun semak belukar juga di belakang rumah para penduduk dari kota Daha itu.
Mendekati tengah malam ter lihat enam orang dengan ber pakaian hitam-hitam mendekati lumbung padi kota Daha itu, sekejap ter lihat sang pemimpin nya menebar kan sesuatu ke arah para penjaga lumbung tersebut, sebentar saja para prajurit jaga itu langsung ter sungkur jatuh ter tidur.
Nampak Gagak Mantruk yg memimpin pencurian kali ini mengetrap kan ilmu sirep untuk melumpuh kan para prajurit jaga itu.
Setelah di rasa aman ke enam orang itu segera masuk ke dalam dan tidak melihat lagi ada penjaga yg masih ter jaga.
Namut alangkah ter kejut nya ke enam orang itu karena setelah mereka mengeluar kan pertama kali karung-karung yg berisi padi tersebut ter dengar teriakan yg cukup mengaget kan mereka,
" Menyerah lah kalian sudah ter kepung, kalian tidak bisa lari lagi,!" teriakan yg me mecah keheningan malam itu.
Sontak saja ke enam orang itu men cabut senjata nya ter masuk juga Gagak Mantruk, mereka tampak nya akan berusaha mengahabisi pengepung nya itu dengan cepat.
" Tidak ada guna nya kalian melawan hanya akan menimbul kan korban, sebaik nya kalian menyerah ,!" teriak Tumenggung Barana lagi.
Namun ke enam orang itu tidak menjawab, malah ter dengar perintah keluar dari mulut Gagak Mantruk itu,
" Ayo secepat nya kita habisi mereka supaya pekerjaan cepat rampung,!" teriak nya.
Perintah itu segera di laksanakan oleh para perwira Majapahit itu, mereka segera menyerang para prajurit Daha yg mengepung mereka itu.
Denting senjata segera beradu di tengah malam itu di terangi cahaya obor yg ada di tempat itu.
Ter lihat puluhan prajurit dari Kadipaten Daha it mengeroyok enam orang yg akan mencuri isi lumbung itu.
Ter nyata ke enam orang yg di keroyok itu bukan pencuri biasa ter bukti dengan berhasil nya mereka mem balik kan keadaan, bukan ke enam orang itu yg ter desak melain kan para prajurit Daha lah yg telah banyak jatuh korban di buat ke enam orang itu terutama orang yg ber senjata kan sebuah golok.
Memang tandang dari begal alas selentuk itu cukup mem buat prajurit Daha ketar-ketir, setiap kali golok nya ber kelebat ada saja korban yg di timbul kan nya.
Hal ini membuat Tumenggung Jayayuda terpaksa maju menghadapi Gagak Mantruk itu.
Setelah melihat ada lawan yg menghampiri nya Gagak Mantruk tanpa tedeng aling-aling segera menyerang Tumenggung Jayayuda dengan cepat, sebentar saja kedua nya ter libat perang tanding.
__ADS_1
" Heh, kunyuk busuk sebut kan nama mu, sebelum golok ku ini mencabut nyawa mu,!" teriak Gagak Mantruk yg terus menerus menebas kan golok nya itu.
Tumenggung Jayayuda ter lihat kesulitan, ia merasa dunia ter amat sempit, karena seolah-olah dimana ia berada di situ golok Gagak Mantruk itu juga berada.
Melihat teman nya dalam kesulitan Akhir nya mau tidak mau Tumenggung Barana turun membantu untuk mencegah serangan dari Gagak Mantruk itu.
" Ada lagi rupa nya kunyuk busuk yg ingin ber main-main dengan Ku,!" teriak Gagak Mantruk.
" Adi Jayayuda , kita serang ber sama-sama orang ini,!" ucap Tumenggung Barana.
" Baik kakang Barana,!" jawab Tumenggung Jayayuda.
" Maju lah kalian ber dua biar urusan Ku cepat selesai atau sekalian panggil Adipati Daha itu guna menghadapi ku, si Gagak Mantruk dari alas Selentuk,!" teriak Gagak Mantruk dengan menepuk dada nya.
Kedua Tumenggung dari Daha itu cukup terkejut mendengar pernyataan dari Gagak Mantruk itu.
" Hahh, ternyata dia Hantu penunggu alas selentuk,!" ujar Tumenggung Barana.
Karena nama begal alas selentuk itu cukup ter kenal antara kadipaten pandan alas, Wengker , Daha dan Kotaraja Majapahit.
" Baik adi Jayayuda , kita ber tarung ber pasangan, karena dari yg Ku dengar begal Alas selentuk itu kebal senjata tajam,!" ter dengar kata-kata dari Tumenggung Barana.
" Baik kakang Barana mari kita serang ber sama-sama, !" jawab Tumenggung Jayayuda.
" Hiyyaaaat,,!" teriakan dari kedua Tumenggung Daha itu .
Kedua nya segera menyerang Gagak Mantruk dari sisi kiri dan kanan begal alas selentuk itu.
Pertarungan pun terjadi dengan cepat, kedua Tumenggung dari daha itu mengguna kan senjata tombak pendek, melibat per tarungan ber jarak karena daya jangkau tombak mereka lebih panjang dari golok Gagak Mantruk.
Meski pun di keroyok dua punggawa Daha, Gagak Mantruk tidak ter lihat kerepotan , ia malah ter tawa- tawa melawan kedua nya, hingga suatu saat,
" Heyyaahh,!" teriakan dari mulut Gagak Mantruk mengarah kan golok nya ke kaki dari Tumenggung Jayayuda.
Sang Tumenggung segera melompat menghindari serangan itu , tetapi belum pun sempat ia men jejak kan kaki nya di tanah , sebuah tendangan mendarat di punggung nya.
" Heeeikkh,!" ter dengar suara keluar dari mulut Tumenggung Jayayuda itu dan segera memuntah kan darah segar.
" Hoooeekhh,,!"
Melihat lawan nya jatuh ter duduk, Gagak Mantruk segera memburu nya dengan tebasan mengarah ke leher Tumenggung Jayayuda.
Di saat yg kritis atas nasib Tumenggung Jayayuda itu, maka Tumenggung Barana segera memapasi tebasan dari Gagak Mantruk itu.
" Trankkkk,!" benturan kedua senjata ter jadi dan sampai melempar tombak yg ada di genggaman Tumenggung Barana itu.
" Hahh,!" Tumenggung Barana sangat ter kejut melihat kenyataan itu ketika ia berusaha mengambil kembali tombak nya sebuah tebasan mengarah tangan nya itu segera di hindari nya dengan menarik kembali tangan nya itu.
Akhir nya Tumenggung Barana mengguna kan tangan kosong mengahadapi Gagak Mantruk bekas begal alas selentuk itu.
Dengan cepat Gagak Mantruk men desak Tumenggung Barana.
Sebuah bacokan mengarah pundak nya masih bisa di hindari nya dengan me miring kan tubuh nya sambil mem beri kan pukulan balasan ke arah dada Gagak Mantruk, namun sayang belum pun sempat tangan nya menyentuh dada Gagak Mantruk, golok dari begal alas selentuk itu telah mencapai tangan nya lebih dahulu.
Tangan kiri dari Tumenggung Barana itu nyaris putus jika tebasan Gagak Mantruk itu tidak di ganggu oleh lontaran tombak dari Tumenggung Jayayuda.
Di saat-saat yg ber bahaya bagi kedua Tumenggung dari daha itu , karena sudah tidak memiliki senjata lagi.
__ADS_1
Akhir nya datang lah bantuan dari pasukan Daha yg kali ini di pimpin oleh Naja Pratanu dan dua orang Lurah prajurit Balasewu, yaitu Lurah Trilaya dan Lurah Dipangkara.
__ADS_2