BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 19 Kekacauan bagian ke sembilan.


__ADS_3

" Eyaaaaaannng,!!!!!!?" teriak Adipati Pamotan dengan kuat nya.


Wikala sang Adipati Pamotan segera meng hambur memeluk tubuh yg tengah duduk ber sila dengan kedua tangan di letak kan pada kedua lutut nya.


Dan tubuh itu telah tidak ber nyawa lagi, begitu di peluk oleh Wikala Sang Adipati,tubuh itu pun ambruk.


Tampak nya Mpu Barada melakukan MOKSA dengan tapa Yoga Raja, yaitu ber meditasi keoada yg mahakuasa untuk mencapai alam kelanggengan.


Kemudian Wikala Sang Adipati Pamotan segera meletak kan tubuh itu di atas sebuah batu besar yg pipih, ia kemudian memandangi tubuh itu dengan mata ber kaca-kaca,


" Maaf kan lah murid mu ini yg tidak ber bakti kepada mu , Guru , sehingga diri mu harus sendiri menghadapi kematian mu, Guru,!'' ter dengar rintihan dari Adipati Pamotan itu.


Meski pun Wikala telah melanglang buana dan ber tarung dengan ber bagai macam orang yg memiliki kesaktian dan melihat mereka dalam keadaan sekarat menjelang ajal tidak pernah merasa kan kesedihan yg luar biasa, ber beda ketika ia melihat Sang Guru yg telah diam mem bisu dan tidak dapat ber gerak , air mata nya meleleh keluar dari kedua mata nya.


Ketika ia menengadah kan wajah nya ke atas terlihat tulisan yg dengan di terangi cahaya obor Arya bor-bor, sebuah tulisan yg ter pahat di dinding batu , nampak nya di tulis dengan menggunakan jari, tulisan itu ber bunyi,


*Setiap hidup pasti ada akhir nya


Setiap kamukten pasti ada ujung nya*


Kepada Yang Maha Kuasa kita Menuju


Samsara dan Bahagia hanya di alam Dunia


Nirvana lah alam kelanggengan


Jangan sedih atau ber duka


Suatu saat kita pasti ber jumpa


Demikian lah tulisan yg ter tera di dinding goa tersebut.


Wikala Sang Adipati Pamotan nampak ter sentuh dengan tulisan itu.


Ia kemudian memeluk tubuh dari Guru Nya itu, ketika teraba sesuatu di balik baju dari tubuh Mpu Barada itu. Wikala kemudian mengambil nya dan ter nyata gulungan lontar.


Ketika di buka nya gulungan lontar itu ia membaca pesan yg memang di peruntuk kan kepada nya,


kubur kan lah tubuh ku, jangan engkau perabu kan, dan kebahagian ku akan menyertai mu sampai diri mu mencapai yg engkau ingin kan, jangan lupa kan bibi mu yg ada di tuban, bantu dan tetap lah menjaga nya, cucu ku yg akan menerima kekuasaan Kerajaan Majapahit ini adalah se orang murid yang baik, dari guru mu , Barada


Kemudian Wikala melipat kembali gulungan lontar itu dan me masuk kan kembali ke dalam balik baju nya,


" Adi Pratanu, tolong buat kan sebuah lubang untuk mengubur kan jasad Guru,!" ter dengar perintah dari Wikala sang Adipati Pamotan itu.


" Apa kah akan di kubur kan di dalam goa ini jasad eyang Barada, Kang mas,?" tanya Naja Pratanu.


" Iya, karena akan lebih aman, di sini, selain tempat nya cukup sulit untuk di jangkau dan beliau pun telah di sini selama beberapa waktu setelah meninggal,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan itu.


" Baik Kangmas,!" jawab Naja Pratanu.


" Biar aku, ikut membantu mu ,Pratanu, " seru Arya bor-bor dan segera menancap kan obor yg di pegang nya itu.


Kedua nya segera menggali sebuah lubang di dalam Goa itu, karena mereka ber dua , Pratanu dan Arya bor-bor, menggali lobang di dasar goa itu, sebentar kemudian ter lihat lah sebuah lobang di dalam goa itu yg cukup lebar.


Per lahan , kemudian Wikala Sang Adipati Pamotan itu meng gendong tubuh Guru nya dan meletak kan nya di dalam lobang yg telah di gali oleh Pratanu dan arya bor bor itu.


Setelah selesai meletak kan jasad dari pemilik ilmu Rajah Kalacakra itu, Wikala dengan ber linang air mata menimbuni tubuh yg telah kaku dan diam itu dengan batu.


Kemudian dengan di bantu oleh Pratanu dan Arya bor-bor mereka dengan cepat selesai mengubur kan jasad Mpu Barada itu.


Setelah semua nya beres, ketiga nya keluar dari dalam goa itu dan kembali turun ke kaki gunung Merbabu.

__ADS_1


Ketiga nya kemudian menuju desa Sepandan dan mengambil kuda-kuda mereka.


Meski pun hari telah menjelang sore , ketiga nya tetap melanjut kan perjalanan kembali ke Daha.


Akan tetapi sebelum mereka kembali ke Daha , Wikala Sang Adipati Pamotan dan kedua teman nya itu menyempat kan diri singgah ter lebih dahulu di Kadipaten Pawanuan, karena utusan dari kadipaten itu menyata kan bahwa Pamotan tidak mem berikan perhatian ter hadap kadipaten nya. Jadi untuk hal mengikat kerjasama dengan kadipaten yg ber batas dengan tiga kadipaten yg lain sperti Kadipaten Wengker di sebelah barat, kadipaten Paguhan di Timur dan Kadipaten Daha di utara nya.


Setelah melewati kadipaten Wengker , Wikala Sang Adipati Pamotan dan Naja Pratanu serta Arya bor-bor ber belok ke arah selatan menuju Kadipaten Pawanuan itu.


Ketiga nya sampai di sana setelah melakukan perjalanan selama tiga hari.


Setiba di kota Kadipaten Pawanuan itu mereka langsung menuju ke Istana kadipaten.


Ketiga nya segera mem beritahu kan kepada prajurit jaga Istana bahwa mereka dari Pamotan dan ingin ber temu dengan Adipati Pawanuan itu.


Adipati Pawanuan ter kejut men dengar ucapan dari prajurit jaga itu.


" Engkau tidak menanya kan siapa mereka,?" tanya Adipati Pawanuan.


" Ampun Gusti Adipati, mereka mengata kan adalah utusan dari Pamotan itu saja,!'' jawab prajurit jaga.


" Baik , suruh mereka masuk,!" ucap Adipati Pawanuan itu.


" Sendika dawuh Gusti Adipati,!" jawab prajurit itu langsung ber ingsut keluar ruangan.


Kemudian ia segera masuk lagi dengan membawa Wikala sang Adipati pamotan, Naja Pratanu dan Arya bor-bor.


Melihat yg datang adalah Adipati Pamotan sendiri , secara tidak sadar, Adipati Pawanuan bangkit dari singgasana nya dan langsung menyambut nya,


" Ahh, kira nya tamu agung yg datang dari Pamotan, mimpi apa Aku semalam, Anakmas Adipati Pamotan sendiri yg datang kemari,!" kata Adipati Pawanuan seraya memeluk tubuh dari Wikala Sang Adipati Pamotan itu .


Prajurit jaga yg mengantar kan itu sampai ter bengong-bengong melihat junjungan nya itu nampak begitu hormat, dan mem beri sambutan langsung dengan turun dari Singgasana nya.


" Mari silah kan anakmas , !" kata Adipati Pawanuan untuk duduk di sebuah kursi .


Kemudian Wikala Sang Adipati Pamotan duduk di kursi itu dan di temani oleh Adipati Pamotan.


" Terima kasih Paman Adipati, perkenal kan, ini adalah para Senopati ku, yg ini adalah adik ipar ku nama nya Naja Pratanu dan yg itu adalah murid ku nama nya Arya bor-bor, dan dulu cukup ter kenal dengan gelar Hantu Kali Mayit,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan itu.


" Ohh, yg berada di kaki dari Gunung lawu,?" tanya Adipati Pawanuan lagi kepada Adipati Pamotan itu.


" Benar paman, akan tetapi sekarang merupakan Senopati ter baik dari Pamotan,!" jawab Adipati Pamotan.


Sambil mengangguk-angguk kan kepala nya Adipati Pawanuan kemudian bertanya lagi,


" Gerangan apakah yg membuat anakmas Adipati datang ber kunjung kemari,?"


" Pertama kami memang ingin bertemu dengan Paman Adipati dan yg kedua sebagai per mohonan maaf kami kepada kadipaten Pawanuan ini, karena keter batasan kami di Pamotan sehingga permintaan Paman kepada kami atas bantuan keamanan tidak dapat kami penuhi, mengingat Pawanuan jarak nya lebih jauh dari Kota Raja, jadi kemungkinan untuk di ganggu itu lebih kecil daripada yg lain, akan tetapi perhitungan kami meleset, ternyata mereka menyasar juga sampai kemari, jadi kami mohon maaf atas kejadian hal ter sebut,!'' ungkap Wikala Sang Adipati Pamotan itu.


" Memang kami agak jauh dari Kotaraja, akan tetapi yg datang ke mari adalah dari Wengker dan di barengi dengan para rampok yg bekerja sama dengan kadipaten Wengker, mereka berhasil mengambil hasil panen serta harta benda rakyat Pawanuan ini, tetapi secara jujur paman juga mengakui ke terbatasan dari Pamotan, di mana letak nya sangat jauh dari sini, juga ter batas nya prajurit yg akan di kirim kemari,!" jelas Adipati Pawanuan.


" Untuk itu lah kami sempat kan untuk datang kemari sekaligus mohon restu dari Paman , kelak jika kami jadi menyerang Kotaraja Majapahit,!" kata Wikala Sang Adipati Pamotan.


" Hahh, apakah anakmas Adipati jadi menyerang Kotaraja Majapahit itu, bukan kah ketika utusan paman masih di pamotan, ia belum mendapat kan berita yg jelas tentang penyerangan itu,!" ujar Adipati Pawanuan.


" Memang benar ketika utusan paman masih berada di Pamotan , kami belum memutus kan , namun setelah menimbang-nimbang akhir nya kami putus kan untuk jadi menyerang Kotaraja Majapahit itu,!" seru Wikala sang Adipati Pamotan.


" Memang sejak di pegang oleh Kangmas Prabhu Suraprabhawa, Majapahit ini mengalami ke munduran, bahkan cenderung akan hancur, harus ada tangan yg kuat untuk menjaga Majapahit ini agar tidak pecah,!" kata Adipati Pawanuan.


" Untuk itu lah kami me mohon doa restu dari Pawanuan sekaligus jika memang paman mau mengirim kan pasukan nya kami siap untuk menerima nya,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.


" Mungkin kalau bantuan Prajurit kami akan kesulitan memberi kan nya tetapi kalau per bekalan , biar lah kami usaha kan,!" jawab Adipati Pawanuan itu.

__ADS_1


" Itu pun cukup baik, karena tentu nya kami sangat mem butuh kan per bekalan yg banyak mengingat jauh nya Pamotan dari Kotaraja Majapahit,!" ucap Wikala sangAdipati Pamotan.


Seharian kedua petinggi dua Kadipaten itu ber bicara, sehingga akhir nya Wikala sang Adipati Pamotan beserta Naja Pratanu dan Arya bor-bor menginap di Kadipaten Pawanuan itu.


Keesokan hari nya ketika terang tanah ketiga nya bertolak ke utara menuju Daha, setelah sore sampai lah ketiga nya di Daha.


Begitu melihat ketiga orang itu , prajurit Daha langsung menjura hormat karena mereka sangat mengenal ketiga nya ter lebih-lebih Naja Pratanu, yg dua kali menyelamat kan muka Adipati Daha.


Setiba di depan istana Kadipaten Daha ketiga langsung di sambut oleh Adipati Daha,


" Ahhh, apa kabar dimas Pamotan, kenapa pembayun tidak di ajak sekalian,?" tanya Adipati Daha kakak ipar dari Adipati Pamotan itu.


" Baik, kabar kami baik, sayang angger Ratna Pembayun tidak bisa di ajak karena per jalanan kami cukup jauh,!" ucap Wikala sang Adipati pamotan.


" Memang dimas kemana, apa tidak cuma ke Thanda,?" tanya Adipati Daha lagi.


" Tidak Kangmas, tujuan kami adalah Puncak Merbabu untuk melihat keadaan guru di sana,!" jelas Wikala sang Adipati pamotan.


" Hehhh, cukup jauh, bagaimana keadaan eyang Barada,?" tanya Adipati Daha.


" Eyang Guru telah mangkat dan kami telah mengubur kan nya,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.


" Eyang Barada telah mangkat,?" tanya Adipati Daha.


" Demikian lah kira nya Kangmas,!" jawab Wikala sang Adipati pamotan.


" Kangmas turut ber bela sungkawa atas mangkat nya eyang Barada itu,!' tukas Adipati Daha.


" Terima kasih Kangmas,!"


" Mari lah kita masuk ke dalam,!" ajak Adipati Daha kepada adik ipar nya itu.


Setelah berada di dalam dan di suguh kan ber bagai macam makanan dan minuman ke tiga orang itu melanjut kan lagi per bincangan nya.


" Kangmas Daha, kami datang kemari memang memerlu kan pandangan serta pendapat Kangmas tentang keadaan Majapahit ini,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan.


" Maksud nya,?" tanya Adipati Daha.


" Begini Kangmas, atas permintaan dari beberapa kadipaten kami di pamotan untuk mau menyerang Kotaraja Majapahit itu, dan di sini kami ingin men dengar Kangmas Daha yg merupa kan Putra ter tua dari Ramanda Prabhu Rajasawardhana yg masih hidup,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.


Adipati Daha nampak meng hela nafas panjang mendengar per tanyaan dari adik ipar nya itu, ia cukup memahami keadaan Majapahit sekarang ini.


" Kalau menurut Kangmas, sudah selayak nya dimas Pamotan menuruti permintaan dari para Adipati itu, selain memang paman Prabhu tidak becus memerintah , ia juga tidak memikir kan nasib dari rakyat Majapahit ini bukan nya menolong malah menyusah kan, jadi kalau di tanya pendapat, Kangmas setuju kalau Pamotan mau menyerang Kotaraja Majapahit itu,!" jawab Adipati Daha.


" Jadi Kangmas setuju kalau Pamotan menyerang Kotaraja,!" seru Wikala sang Adipati Pamotan.


Adipati Daha mengangguk.


" Dan Kangmas Daha pun setuju jika wilayah Kangmas tepat nya kandangan kami jadi kan landasan pasukan Pamotan,?' tanya Adipati Pamotan lagi.


" Kangmas setuju, dan kangmas akan membantu dengan mem beri kan prajurit Daha untuk ikut dalam pasukan dimas nanti nya,!" jelas Adipati Daha.


" Terima kasih jika Kangmas mau membantu Pamotan, jadi ganjalan di hati dimas sudah tidak ada lagi begitu Kangmas Daha merestui penyerangan itu,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.


Kedua nya kemudian ber cerita panjang lebar tentang keadaan dari negeri Majapahit itu.


Kemudian ketiga nya pun ber malam di kota Daha.


Baru ke esokan pagi nya mereka kembali ke tanah perdikan Thanda sain.


Se sampai di rumah Mpu Thanda, ketiga nya di sambut oleh Mpu Thanda dan Ki Gede Thanda yg juga sedang berada di sana.

__ADS_1


__ADS_2