
__ADS_3
Cukup dalam para prajurit Kahuripan itu masuk ke dalam hutan di dekat kademangan Sindureja, namun mereka tidak menemu kan para pengacau yg telah melari kan diri itu.
" Kakang , apa tidak sebaik nya kita kembali ke kota Kahuripan, melapor kan hasil pengejaran kita ini, !" ujar Wiera Tantra kepada Sasra Bahu kakak nya seperguruan itu.
" Sebenar nya kakang masih penasaran tentang ke beradaan mereka,?" kata Lurah Sasra Bahu.
" Maksud kakang,?" tanya Wiera Tantra agak heran dengan ucapan kakak seperguruan nya itu.
" Iya apakah para pengacau itu masih di sini, atau memang telah benar-benar pergi dari tempat ini,!" seru Sasra Bahu kepada Wiera Tantra.
Setelah agak lama mereka mengobrak-abrik hutan itu namun tidak juga menemukan akhir nya mereka keluar dari tempat itu.
Setelah keluar ber katalah Lurah Sasra Bahu kepada Wiera Tantra,
" Menurut naluri Sandi kakang, mereka masih berada di dalam, jadi adi Wiera perintah kan para prajurit untuk pura-pura kembali dan kirim salah seorang prajurit mem beritahu kan tentang kejadian di sini kepada Tumenggung Singha Wara, dan kita kembali ke kademangan Sindureja lagi,!" jelas Lurah Sasra Bahu kepada Wiera Tantra.
" Baik kang, semua perintah siap di laksana kan,!" jawab Lurah Wiera Tantra.
Segera saja Lurah Wiera Tantra ber seru agak keras,
" Kita kembali ke Kota Kahuripan, mungkin para pengacau itu telah melari kan diri,!" teriak murid padepokan Telomoyo itu.
Kemudian iring-iringan prajurit Kadipaten Kahuripan itu ber jalan menuju arah Kota Kahuripan, ketika melewati tikungan kemudian pasukan itu kembali me mutar dan ber jalan menuju Kademangan Sindureja dari jalan yg lain dan salah seorang prajurit segera saja menuju ke Kota Kahuripan untuk melapor kan kejadian yg terjadi di dekat Kademangan Sindureja itu.
Se sampai nya di Kota Kahuripan, prajurit utusan dari Lurah Wiera Tantra itu pun segera melapor kepada Tumenggung Singha Wara.
" Demikian lah Gusti Tumenggung, bahwa menurut dari Lurah Sasra Bahu, para pengacau masih berada di sekitar kademangan Sindureja dan Ki Lurah mem bawa kembali pasukan masuk ke dalam kademangan dari jalan lain, ia mengkhawatir kan keadaan Kademangan itu, yg merupakan lumbung padi bagi kadipaten Kahuripan ini,!" jelas Prajurit itu.
" Bagus, tindakan Lurah mu cukup baik, nanti malam bila perlu kita tambah pasukan untuk mengawal kademangan-kademangan yg berada dekat Kota Kahuripan ini,!" ucap Tumenggung Singha Wara.
Ter nyata memang Lurah Sasra Bahu merupakan prajurit yg mumpuni selain ia melaporkan kejadian di kademangan Sindureja itu ke Kahuripan ia pun memberi kan laporan nya ke Kadipaten Pamotan.
Sementara Prajurit Majapahit yg di pimpin oleh Tumenggung Ratanu memang masih berada di dalam hutan itu tetapi telah jauh ber geser mendekati sebuah pedukuhan yg agak sunyi hanya beberapa rumah saja yg ada di tempat itu.
" Apakah kita akan membakar Lumbung padi pedukuhan kecil itu Gusti Tumenggung,,?" tanya salah seorang prajurit Majapahit kepada Tumenggung Ratanu.
" Tidak, kita hanya berusaha menghindar dari kejaran pasukan Kahuripan itu, nanti setelah agak sore kita kembali lagi ke Kademangan Sindureja itu, baru di sana kita melakukan perintah pangeran Mahisa Dara itu,!" jawab Tumenggung Ratanu.
Memang pedukuhan itu tidak ter lalu ramai sehingga dengan mudah para prajurit Majapahit itu melintasi tempat itu dan mengarah kembali ke Kademangan Sindureja lagi.
Ketika mentari telah beranjak men dekati peraduan nya, pasukan kecil Majapahit itu telah mendekati Kademangan Sindureja dari sisi yg lain tepat nya dari arah selatan .
Sementara pasukan Kahuripan yg di pimpin oleh Lurah Sasra Bahu dan Lurah Wiera Tantra, telah pun masuk kembali ke Kademangan Sindureja dari arah utara.
Ki Demang Sindureja ter kejut akibat kedatangan pasukan Kahuripan itu lagi.
" Apakah yg menyebab kan Ki Lurah kembali lagi, apakah ada yg ter tinggal,?" Tanya Demang Sindureja heran.
" Ahh, tidak Ki Demang, cuma ini hanya naluri prajurit, bahwa para pengacau itu akan kembali ke mari, setelah kami melihat bekas-bekas jejak yg mereka tinggal kan, jadi kami minta Ki Demang mem perkuat penjagaan di lumbung padi itu, nanti jika mereka benar-benar datang kemari biar pasukan kami yg menghadapi nya,!" jelas Lurah Sasra Bahu.
" Apakah mereka memang akan datang kemari,?" Ki Demang Sindureja ber tanya.
" Kemungkinan itu ada Ki Demang,!" jawab Lurah Sasra Bahu lagi.
" Baik lah kalau begitu, biar para pengawal kademangan yg bersiaga menjaga lumbung padi itu,!" balas Ki Demang tidak.
Setelah matahari benar-benar tenggelam , suasana di kademangan Sindureja pun telah gelap , hanya beberapa obor yg ter pasang di sudut-sudut kademangan Sindureja itu sebagai penerangan.
__ADS_1
Tampak lah di dalam gelap itu bayangan beberapa orang yg mendekati lumbung padi kademangan Sindureja ter sebut.
Langkah mereka nampak sangat cepat, dan sebentar saja telah berada di dekat tempat itu.
" Jumlah para penjaga hanya sepuluh orang Gusti Tumenggung, apakah kita lakukan sekarang,!" tanya Lurah prajurit Majapahit itu kepada Tumenggung Ratanu.
" Ya sebaik nya kita lakukan sekarang, dan usaha kan jangan ter lalu lama kita berada di tempat ini,!" perintah Tumenggung Ratanu kepada para prajurit Majapahit itu.
" Serang !" ter dengar teriakan dari mulut Tumenggung Ratanu itu.
Serentak hampir empat puluh prajurit terpilih dari Majapahit itu menyerang para pengawal kademangan Sindureja yg sedang ber tugas menjaga lumbung padi milik kademangan Sindureja ter sebut.
Dengan cepat para prajurit Majapahit itu melumpuh kan pengawal kademangan Sindureja , namun ada salah se orang pengawal kademangan yg ber hasil memukul kentongan dengan nada titir, bunyi kentongan pertanda bahaya.
Usaha pengawal kademangan Sindureja itu ber hasil, segera seluruh kademangan itu menyambut kentongan titir, sehingga ter dengar sahut-sahutan bunyi kentongan pertanda bahaya ter sebut.
Melihat hal ter sebut, Tumenggung Ratanu pun berusaha menyala kan api pada sebuah Lumbung padi itu.
Perlahan-lahan namun pasti api mulai membakar Lumbung padi Kademangan Sindureja ter sebut.
Namun ketika upaya Tumenggung Ratanu untuk mem bakar lagi lumbung padi yg lain, ia di kejut kan oleh suara seorang yg mem bentak nya,
" Hehh kunyuk busuk, henti kan pekerjaan mu itu, !" teriak seorang yg mengguna kan tenaga dalam nya, orang itu tiada lain adalah Lurah Sasra Bahu.
" Apa urusan mu , ter serah , kalau kau mampu meng henti kan ku, maka lakukan lah,!" jawab Tumenggung Ratanu yg segera meng hentikan usaha nya untuk mem bakar habis seluruh lumbung padi milik kademangan Sindureja itu.
" Dasar manusia yg tidak mempunyai akal dan pikiran di saat orang-orang kesulitan untuk makan, kau malah ingin meng hancur kan nya, terima serangan,!" teriak Lurah Sasra Bahu sambil menjulur kan pedang nya ke arah Tumenggung Ratanu.
Pertarungan terjadi antara Lurah Sasra Bahu dengan Tumenggung Ratanu, kalau masalah kedudukan di dalam ke prajuritan, jelas Lurah Sasra Bahu jauh di bawah tingaktan dari Tumenggung Ratanu namun kalau masalah ilmu kadigjayaan, Lurah Sasra Bahu tidak di bawah dari Tumenggung Ratanu.
Kedua nya langsung serang, kemampuan Lurah prajurit Balasewu itu cukup mumpuni, ia masih sempat mem beri kan perintah kepada Lurah Wiera Tantra,
Sementara Tumenggung Ratanu segera melibat per tarungan jarak dekat dengan Lurah Sasra Bahu.
Beberapa kali Lurah asal Pamotan itu harus mengemposi tubuh nya dengan ilmu peringan tubuh untuk meng hindari serangan-serangan yg cukup me mati kan dari Tumenggung Ratanu itu.
Beberapa kali pedang mereka beradu dan kedua nya sama-sama ter dorong surut ke belakang,.tampak nya tenaga dalam kedua nya seimbang.
Lain hal nya prajurit Majapahit itu, setelah ke datangan pasukan Kahuripan, mereka ter desak karena di dalam pasukan dari Kahuripan itu ada Lurah Wiera Tantra di tambah lagi para pengawal kademangan yg geram melihat tingkah para pengacau itu.
Para prajurit Majapahit itu benar-benar ter desak , hal ini menyebab kan ke kurang hati-hatian dari Tumenggung Ratanu, meski pun kedudukan nya berimbang dengan Lurah Sasra Bahu akan tetapi ia harus mem bagi perhatian nya terhadap para prajurit nya sehingga suatu saat Lurah Sasra Bahu ber hasil merobek pundak Tumenggung Ratanu.
" Hehh, ******* kau, jangan kau pikir dengan berhasil melukai tubuh ku engaku akan menang, terima ini,!" ter dengar teriakan dari Tumenggung Ratanu yg melontar kan ajian nya.
Sebuah cahaya terang menyasar tubuh Lurah Sasra Bahu, akan tetapi Lurah prajurit Balasewu itu segera mengindari serangan itu.
Dan setelah Lurah Sasra Bahu luput dari serangan itu gantian kini ia yg menyerang dengan ajian Waringin sungsang milik padepokan Telomoyo itu.
" Terima ini, ajian Waringin sungsang, heyyaahh,,!" teriak Lurah Sasra Bahu dengan mem buka telapak tangan nya.
Cahaya ke biru-biru an keluar dari telapak tangan nya itu.
Tumenggung Ratanu gantian yg harus menghindari serangan tersebut.
Sementara keadaan para prajurit Majapahit semakin sulit , mereka sudah ter kepung rapat oleh para prajurit Kahuripan di tambah para pengawal kademangan Sindureja.
Sebuah suitan panjang keluar dari mulut Tumenggung Ratanu, pertanda mereka harus segera melari kan diri.
__ADS_1
Lurah Sasra Bahu mengetahui rencana dari Tumenggung Ratanu segera ber teriak,
" Jangan kasih lolos, tangkap hidup atau mati, jangan kejadian di Kahuripan ter ulang lagi ,adi Wiera, !" seru nya mem peringat kan adik seperguruan nya itu.
" Baik Kakang,!" jawab Wiera Tantra.
Segera Wiera Tantra, menyuruh para prajurit Kahuripan untuk mengepung dengan rapat para pengacau itu.
Kali ini prajurit Majapahit itu, nasib nya berada di ujung tanduk tidak seperti se waktu di kota Kahuripan.
Sedang kan Tumenggung Ratanu pun tidak bisa melepas kan diri dari Lurah Sasra Bahu, ia ter paksa mengeluar kan segala kemampuan nya untuk melawan Lurah prajurit Balasewu itu.
" Menyerah lah, kami tahu kalian adalah prajurit Majapahit, yg ber niat mem buat keonaran di sini,!" teriak Lurah Sasra Bahu.
" Hehh, kau pikir bisa mengalah kan ku, Ki Lurah,!" jawab Tumenggung Ratanu.
" Sayang kalian seharus nya yg mengayomi para kawula alit, justru sebalik nya malah kalian pula yg menyengsara kan, kalian di kepemimpinan yg salah, jadi menyerah lah,!'' kata Lurah Sasra Bahu lagi.
Namun Tumenggung Ratanu tetap ber sikukuh tidak mau menyerah sedang kan para prajurit nya pun telah ber guguran satu per satu.
Serangan Lurah Sasra Bahu makin mening kat melihat Tumenggung Ratanu ter lihat kelelahan.
Memang kondisi Tumenggung Ratanu setelah dari Kota Kahuripan belum pun sempat ber istrahat di tambah lawan nya pun seorang yg tangguh tanggon,
Ketika suatu serangan ajian Waringin sungsang yg di lontar oleh Lurah Sasra Bahu masih bisa di hindari namun serangan dengan pedang yg cepat tidak mampu di hindari lagi.
Pundak nya kena sebuah tusukan pedang , Tumenggung Ratanu segera melompat mundur, ia terus mengemposi tenaga nya untuk melari kan diri.
Usaha nya itu di ketahui oleh Lurah Sasra Bahu. Lurah prajurit Balasewu itu mengarah kan pukulan jarak jauh nya ke arah tubuh Tumenggung Ratanu.
Pukulan yg berisi ajian Waringin sungsang itu mendera tubuh Tumenggung Ratanu, akan tetapi karena pukulan itu tidak men darat dengan telak membuat sang Tumenggung masih mampu ber diri dan melari kan diri, Lurah Sasra Bahu segera mengejar nya, tetapi ketika ia hampir mencapai tubuh dari Tumenggung Ratanu itu, tiba-tiba, " Swiiing,!" suara desingan pedang yg meluncur ke arah nya, mau tidak mau Lurah Sasra Bahu menghindari serangan itu.
Hal yg sekejap itu di per gunakan Tumenggung Ratanu untuk melari kan diri dengan meninggal kan seluruh prajurit nya yg telah ber hasil di kalah kan oleh prajurit Kahuripan.
" Bagaimana kakang, apakah pemimpin nya itu ber hasil kakang tangkap,?' tanya Lurah Wiera Tantra kepada Lurah Sasra Bahu.
" Sayang ia ber hasil melolos kan diri dengan luka yg cukup parah,!" jawab Lurah Sasra Bahu.
" Apa tidak sebaik nya kita kejar,?" tanya Wiera Tantra lagi.
" Kakang pikir tidak usah, mungkin ia akan mati sendiri karena kehabisan darah, dan ajian Waringin sungsang pun telah mengenai nya,!" jelas Lurah Sasra Bahu.
" Sebaik nya kita mengurus mereka yg telah tewas dan ter luka itu dan untuk malam ini kita menginap di banjar kademangan Sindureja saja,!" ucap Lurah Sasra Bahu.
Seluruh prajurit dari Kadipaten Kahuripan ber sama para pengawal kademangan Sindureja kembali ke rumah Ki Demang Sindureja dan seluruh prajurit dari Kadipaten Kahuripan itu ber istrahat di banjar kademangan Sindureja.
Yg luka-luka di obati oleh tabib kademangan Sindureja atas perintah Ki Demang.
Memang para perusuh yg berasal dari Kotaraja Majapahit itu ber hasil mem bakar sebuah Lumbung padi Kademangan Sindureja, akan tetapi hasil per buatan mereka itu harus di bayar mahal dengan tewas nya seluruh prajurit yg di pimpin oleh Tumenggung Ratanu itu.
Sedang kan pemimpin nya sendiri yaitu Tumenggung Ratanu ber hasil melari kan diri meski dalam keadaan terluka parah.
" Bagaimana Ki Lurah, apakah Ki Lurah berhasil menangkap pemimpin nya itu,?' tanya Ki Demang setelah menerima Lurah Sasra Bahu dan Lurah Wiera Tantra di pendopo rumah nya.
" Sayang Ki Demang , ia berhasil melolos kan diri,!" jawab Lurah Sasra Bahu.
" Walau pun begitu kita wajib ber syukur tidak semua lumbung padi itu ber hasil mereka bakar,!" kata Demang Sindureja.
__ADS_1
" Yah, tetapi sikap mereka yg tidak me mikir kan kepentingan rakyat hanya me mikir kan diri sendiri itu sulit untuk di terima,!" ujar Lurah Sasra Bahu.
__ADS_2