
__ADS_3
" Ingat jumlah mereka cukup banyak, usaha kan mengurangi jumlah mereka, dan tempat kan posisi kalian dengan sebaik-baik nya, kali ini kits harus mampu memafaat kan hutan ini, kalian bisa ber sembunyi di atas pohon, sulur-sulur atau bahkan di balik pohon yg telah tumbang, !" ter dengar perintah dari Senopati Lembu petala.
" Bor arah kan pasukan pemanah ke tepi hutan , suruh mereka memberi kan serangan pertama untuk mengganggu konsentrasi mereka,!" kata Senopati Lembu petala lagi.
Arya bor-bor kemudian membawa pasukan yg ada di hutan itu ke arah yg di tunjuk kan oleh Lembu petala, nampak di daerah ara-ara pasukan Majapahit dengan jumlah besar tengah ber siap untuk memasuki hutan itu.
Dan di kubu Majapahit sendiri, pasukan yg di pimpin oleh Patih Kebo Mundira itu masih agak ragu-ragu memasuki hutan itu mereka takut ter jebak, dan karena jumlah mereka banyak , ber perang di dalam lokasi sempit amat tidak menguntung kan. Di tambah lagi mereka tidak tahu pasti jumlah musuh yg akan di hadapi.
" Sebaik nya kita tarik pasukan kembali ke kotaraja Majapahit, gusti Patih'' ucap Tumenggung Gangsar.
" Hehh, Bagaimana mungkin kita telah sampai di sini, akan kembali pulang ke kotaraja dengan tangan hampa, apakah kau tidak mikir Gangsar,!" jawab Patih Kebo Mundira.
Tumenggung Gangsar langsung ter diam mendengar bentak an Patih Pandan alas itu. Karena secara struktur ke prajuritan bahwa Tumenggung Gangsar dan Lirbaya sebenar nya tidak di bawah dari Patih Pandan Alas itu melain kan di bawah Patih Lohdaya, namun karena kekuasaan Kerajaan Majapahit telah di beri kan kepada Adipati Pandan Alas secara langsung tidak langsung Majapahit sekarang ini di bawah kuasa Pandan Alas itu.
" Sebaik nya kalian ber dua yg lebih dahulu masuk ke dalam, habisi mereka jika kalian menemui pasukan itu,!" perintah Patih Kebo Mundira kepada Tumenggung Gangsar dan Lirbaya.
Mau tidak mau akhir nya kedua pasukan yg di bawah pimpinan Tumenggung Lirbaya dan Tumenggung Gangsar tersebut maju mendekati hutan tempat pasukan Pamotan ber sembunyi.
Ketika pasukan Majapahit itu semakin dekat terlihat lah oleh Senopati Lembu Petala bahwa dua senopati yg memimpin pasukan Majapahit itu adalah Tumenggung Gangsar dan Lirbaya, kedua orang itu merupakan bawahan nya di saat memimpin pasukan Bhayangkara di masa Prabhu Rajasawardhana.
" Hhh, bukankah itu Gangsar dan Lirbaya, !" seru Lembu Petala yg kemudian memberi kan isyarat kepada Arya bor-bor untuk tidak menyerang dengan anak-anak panah.
Setelah melihat isyarat itu Arya bor bor menyuruh pasukan nya untuk tidak melakukan penyerangan, ia kemudian mendekati Lembu Petala.
" Mengapa mereka tidak jadi di serang, saat ini pasukan itu dalam jangkauan anak-anak panah prajurit kita,?" tanya Arya bor-bor heran dengan sikap dari Lembu Petala itu.
" Kau lihat Bor, dua senopati pasukan itu,!" kata Lembu Petala sambil menunjuk ke arah Tumenggung Gangsar dan Lirbaya.
" Memang nya kenapa dengan kedua orang itu, bukan kah yg tadi malam mencegat Singha Wara di dekat gerbang kota adalah mereka,!" jawab Arya bor-bor heran.
" Hahh, jadi tadi yg mencegat kakang Singha Wara adalah mereka,?" seru Lembu Petala kaget.
Kepala Arya bor-bor mengangguk dan berkata,
" Ada apa dengan kedua orang itu,?" tanya Arya bor-bor lagi.
" Mereka berdua adalah bawahan ku di kesatuan Bhayangkara dahulu di bawah kekuasaan Sang Prabhu Rajasawardhana,!" ucap Senopati Lembu Petala lirih , ia kemudian melanjut kan lagi.
" Biar mereka masuk, tarik dahulu pasukan mu,!" ter dengar perintah dari Senopati kepercayaan dari Adipati Pamotan itu.
" Baik lah " ucap Arya bor-bor yg kemudian mem berikan isyarat kepada pasukan nya untuk menarik diri dari tepi hutan dan masuk agak ke dalam.
__ADS_1
Pasukan Majapahit yg di pimpin oleh Tumenggung Gangsar dan Lirbaya itu terus mendekat, mereka tepat di tepi hutan itu.
Dan ketika mereka akan masuk ter dengar lah suara dari Lembu Petala.
" Hehh, kalian berdua tidak mengenali ku lagi,!" tanya nya kepada kedua Tumenggung Majapahit itu yg adalah bekas bawahan nya di kesatuan Bhayangkara, sebuah kesatuan prajurit elit Majapahit khusus pengawal raja.
Kedua Tumenggung itu ter kejut setelah mendengar ucapan dari Lembu Petala itu yg masih ber sembunyi di balik sebuah pohon.
" Bukan kah itu suara Senopati Bekel Bhayangkara Lembu Petala,!" gumam kedua orang itu.
" Benar Aku Petala, dan ku harap kalian berdua mau masuk untuk menemui aku,!" ter dengar perintah dari Lembu Petala lagi.
Kedua Tumenggung Majapahit itu nampak ragu-ragu, namun akhir nya wajah mereka merah padam setelah mendengar ejekan dari bekas Senopati nya itu,
" Hei, apakah saat ini Majapahit tidak memiliki prajurit Bhayangkara yg pemberani dan cuma tangguh jika ada pasukan nya," ter dengar ejekan itu keluar dari mulut Senopati Lembu Petala.
Akhir nya kedua Tumenggung Majapahit itu mem berani kan diri masuk ke dalam hutan itu, dan langsung di hampiri oleh Lembu Petala.
" Kalian ber dua tentu mengenal ku dan mengerti dengan sikap ku, jika kalian mau selamat tarik pasukanmh kembali ke Kotaraja, jangan kalian jadi kan be banten dari ke serakahan Pandan Alas, karena pasukan yg kubawa ini adalah pasukan khusus Balasewu dari Pamotan, kalian berdua telah melihat sendiri kan hasil nya,!" ucap Senopati Lembu Petala menggertak kedua bekas bawahan nya itu.
Kedua Tumenggung Majapahit itu terdiam , mereka mengerti dengan sikap dan sifat dari bekas atasan nya itu.
" Kami mendapat kan perintah untuk menangkap kakang Singha Wara hidup atau mati,!" jelas Tumenggung Lirbaya.
" Ter serah kalian memberi kan alasan kepada pemimpin mu itu, namun kalau kalian tetap ingin ber perang dengan kami, jangan harap ada yg dapat keluar hidup-hidup dari dalam hutan ini," ujar Senopati Lembu Petala.
Kedua Tumenggung itu saling berpandangan seolah ingin bertanya, namun akhir nya kedua Tumenggung itu berkata,
" Baik lah kakang Senopati, kami akan menarik pasukan kami ke kotaraja,!" kata Tumenggung Gangsar dan di iya kan oleh Tumenggung Lirbaya.
" Nanti akan kami katakan kepada Patih Kebo Mundira bahwa kalian telah meninggal kan tempat ini,!" ucap Tumenggung Lirbaya.
" Bagus kalau kalian masih menyayangi nyawa kalian, dan Aku kasihan kepada para prajurit mu itu, yg sudah sangat sedikit, karena keseluruhan nya adalah prajurit Majapahit sendiri bukan dari Pandan Alas,!" kata Senopati Lembu Petala lagi .
" Mereka memang Prajurit Majapahit bukan dari Pandan Alas,!" jawab Tumenggung Gangsar mem benar kan.
" Cepat lah kalian tarik , biar pasukan Patih ke blinger itu yg maju, baru tahu kalau mereka akan ber hadapan dengan siapa,!" ucap Senopati Lembu Petala lagi.
Akhir nya Tumenggung Gangsar dan Lirbaya keluar dari hutan itu dan membawa kembali pasukan nya ke dalam induk pasukan yg di pimpin oleh Patih Kebo Mundira itu.
Melihat kedatangan kedua Tumenggung itu dengan pasukan nya kembali, ber tanya lah Patih Pandan Alas itu.
__ADS_1
" Bagaimana apakah kalian telah berhasil menangkap Singha Wara itu,?" tanya nya kepada kedua Tumenggung itu.
" Maaf kan kami Gusti Patih, mereka telah berhasil kabur meninggal kan tempat itu,!" ucap Tumenggung Gangsar ber bohong.
" Ahh, Aku tidak percaya mereka secepat itu meninggalkan tempat ini,!" bentak nya kepada kedua Tumenggung Majapahit itu.
Kedua Tumenggung itu diam saja tidak menjawab.
Akhir nya Patih Kebo Mundira memberi kan isyarat kepada pasukan nya untuk maju mendekati hutan tempat pasukan Pamotan berada.
Perlahan namun pasti pasukan yg di pimpin oleh Patih Kebo Mundira itu datang mendekat, dan ketika pasukan itu berada dalam jangkauan anak-anak panah maka meluncur lah anak-anak panah yg sangat banyak jumlah nya.
Pasukan Yg di pimpin oleh Patih Kebo Mundira benar-benar kesulitan menghindari serangan itu. Banyak jatuh korban pada pasukan Patih Kebo Mundira.
Patih kebanggaan dari Pandan Alas ini sangat berang melihat pasukan nya banyak yg gugur.
Ia terus memerintah kan masuk kedalam hutan meski di bawah serangan dari anak-anak panah pasukan Balasewu.
Banyak pasukan nya yg berhasil menerobos masuk kedalam, namun begitu masuk akhir nya pasukan itu menerima kenyataan bahwa mereka menemui serangan dari berbagai tempat dengan senjata-senjata rahasia.
Kembali pasukan dari Patih Kebo mundira itu harus mundur. Mereka tidak berani masuk ke dalam hutan.
Patih Kebo Benar-benar kalap, ia kemudian mengeluar kan ajian Waringin sungsang nya membakar hutan itu.
Melihat hal itu Lembu Petala dan Arya bor-bor menarik pasukan nya.
" Sudah gila Patih ke blinger itu, apa maksud nya menyerang membabi buta seperti itu,!" ucap Senopati Lembu Petala.
" Hehh, ingin rasa-rasa nya menjajal kesaktian orang itu,!" kata Arya bor bor dengan wajah ter senyum.
" Sudah biar kan saja, nanti kalau mereka berani masuk , Ku serah kan dia kepada mu bor,!" ucap Senopati Lembu Petala.
Namun lama mereka menunggu, tidak ter lihat pasukan pimpinan Patih Kebo Mundira melakukan pergerakkan.
Dan terlihat lah pasukan itu perlahan menarik diri dari ara-ara itu menuju ke arah dusun itu.
Ternyata Patih Pandan Alas itu tidak berani mengambil resiko ber perang di dalam hutan karena akibat nya sudah jelas pasukan nya akan mudah di habisi di dalam hutan itu.
Dengan hati yg panas ia menarik pulang pasukan nya setelah cukup banyak korban yg gugur.
((((((((((((((((----------------))))))))))))))))))))
__ADS_1
__ADS_2