
__ADS_3
Mpu Taranjana kaget setengah mati mendapati tongkat yg sangat di andal kannya itu telah putus menjadi dua, ia kemudian membuang kedua potongan tongkat nya itu seraya berkata,
" Kedua tangan Ku ini pun cukup untuk mengirim mu ke neraka,!" ucap nya sambil menatap mata Arya bor-bor.
Mendapat kan tatapan itu, Senopati Pamotan murid dari Wikala itu nampak ter lihat membuang pandangannya,ia tidak berani menatap langsung mata dari Mpu Taranjana itu.
Ternyata Arya bor-bor menyadari musuh nya itu memilki sejenis ilmu sihir atau tenung yg dapat melemah kan musuh nya.
Karena Arya bor-bor memakai cincin Kalademit pemberian Wikala, merasa yakin dengan keampuhan dari pusaka sang guru yg ter bukti mampu mengalah kan Patih Aji Jimbarang saat berada di semprangan.
Dengan memusat kan nalar budi nya Arya bor bor mengerah kan tenaga dalam nya ke cincin Kalademit yg berada di jari kiri nya itu ter lihat uap tipis keluar dari cincin Kalademit.
Sementara itu Mpu Taranjana tengah merapal ajian nya, Aji pelumpuh sukma dan menyalur kan nya ke telapak tangan nya, ter dengar teriakan dari penguasa gunung kendeng itu,
" Mampus kau Senopati Pamotan terima ini ajian pelumpuh sukma, heaaahh ,!" teriak nya
Selarik sinar terang menghantam ke arah tubuh dari Arya bor-bor.
Namun belum sempat serangan itu menerpa tubuh dari Senopati Pamotan itu, segera ia melenting kan tubuh nya ke atas mengindari serangan itu,luput lah serangan dari Mpu Taranjana.
Entah karena sudah tua atau menganggap enteng lawan nya Mpu Taranjana tidak memburu tubuh Arya bor bor dengan serangan selanjut nya, malah ia ter tawa ter bahak-bahak.
" Ha ha ha ...Hanya segitu kah kehebatan dari Senopati Pamotan, cara ber tempur seperti monyet yg di gigit kutu, panggil kemari junjungan mu itu, dan jangan cuma bisa memotong sebuah tongkat ku yg sudah lapuk itu, hadapi ini Mpu Taranjana dari gunung Kendeng,!" ter dengar kata-kata dari Mpu Taranjana.
" Heehh, kau pikir sepadan untuk berhadapan dengan guru ku, tua bangka tak tahu diri, ini aku Arya bor-bor murid dari guru Adipati Pamotan yg akan mencabut nyawa mu, terima serangan ku,!" teriak Arya bor-bor.
" Heaaahh, ajian Tapak liman '' selarik cahaya keluar dari tangan kanan Arya bor-bor.
Cahaya itu menghantam tubuh dari Mpu Taranjana, dan aneh nya ketika tubuh itu ter kena ajian tapak liman milik Arya bor-bor tidak apa-apa, bahkan Mpu Taranjana kembali tertawa,
__ADS_1
" Ha ha ha , keluar kan seluruh kemampuan mu, aku masih sanggup untuk menahan nya,!'' seru Mpu Taranjana dengan sombong nya.
" Baik lah jangan salah kan Aku jika golok ku ini akan menebas kepala mu orang tua!" kata Arya bor bor lagi.
" Kulit ku tidak akan mempan untuk semacam golok rongsokan seperti itu,!'' ejekan ter dengar keluar dari mulut Mpu Taranjana itu.
Hati Arya bor bor ter sengat mendengar ucapan dari penguasa gunung kendeng itu,
" Cincin Kalademit , heaaahh,!" teriak kan Senopati Pamotan itu di barengi dengan keluar nya asap ber warna kelabu ke arah mata dari Mpu Taranjana.
Sang Mpu yg memandang enteng serangan itu membiar kan mata nya ter kena asap yg keluar dari cincin Kalademit, hingga ter dengar suara erangan dari mulut Mpu Taranjana,
" Ehh, ahh, aaakkhh,?" sambil mengucek ucek mata nya.
Kesempatan itu tidak di sia sia kan oleh Arya bor bor, serangan dengan di barengi ilmu ajian tapak liman nya,
Kalau serangan pertama tadi Mpu Taranjana tidak ber geming sedikit pun namun kali ini tubuh tua Mpu Taranjana itu ter lontar Lima tombak, namun tubuh nya masih mampu bangkit meski harus me muntah kan darah.
" ******* kau, aku akan mengadu jiwa dengan mu,!" ucap nya.
Begitu habis ucapan dari Mpu Taranjana itu, Arya bor bor langsung melesat dan menebas kan Golok nya yg besar itu tepat di leher dari Mpu Taranjana yg ber diri masih dalam keadaan sempoyongan.
" Mampus kau Mpu *******, !" teriak Arya bor bor.
" Craaassshh,!" bunyi sabetan golok dari Arya bor-bor meng akhiri hidup dari Mpu Taranjana sang penguasa gunung kendeng itu.
Ter pisah lah kepala dari Mpu Taranjana itu, dan kemudian tubuh nya ambruk ke tanah.
Setelah ber hasil menewas kan Mpu Taranjana, Arya bor-bor mengedar ksn pandangan nya keseluruhan dari peperangan di depan gerbang kota kadipaten Kahuripan itu.
__ADS_1
Di lihat nya Naja Pratanu dan Larasati tengah mengeroyok Patih Majapahit yaitu Patih Kebo Mundira sedang kan Senopati Lembu Petala tengah menhadapi Tumenggung Surengrana.
Sementara itu para Punggawa Kadipaten Pamotan yg lain menghadapi para murid dari Mpu Taranjana yg sebelum nya harus di hadapi para Lurah prajurit dari Pasukan Balasewu.
Secara keseluruhan pertempuran itu tampak nya akan di menang kan oleh Pamotan dan Kahuripan, Pasukan Majapahit tinggal menunggu saat nya saja akan tumpas. Karena baik dari jumlah prajurit nya. dan para senopati nya, Pamotan dan Kahuripan unggul jauh di banding kan dengan Majapahit.
Akhir nya Arya bor-bor men dekati pertarungan antara Naja Pratanu dan Larasati melawan Patih Kebo Mundira.
" Heh, ada hubungan apa kau dengan Resi Begawan mahameru,?" tanya Patih Kebo Mundira setelah melihat pedang di tangan dari Naja Pratanu itu.
" Aku adalah murid nya,!" Jawa Naja Pratanu.
" Hehhh bukan kah yg kau genggam itu adalah pedang Naga geni,?" tanya Patih Kebo Mundira.
" Benar ini adalah pedang Naga geni yg kalian cari sampai membunuh guru Ku, bukan,?" balik ber tanya Naja Pratanu kepada Patih Kebo Mundira.
" Bocah jangan mengada-ada, apa urusan Ku dengan Resi Begawan mahameru,!'' kilah dari Patih Kebo Mundira.
" Hehh, Patih *********, kau jangan menghindar atas dosa yg kau perbuat demi sebuah pedang ini hingga menewas kan guru dan saudara seperguruan ku itu, bukan kah saat itu kau dan paman guru mu yg telah membunuh mereka,!" teriak dari Naja Pratanu sehingga dua kakak seperguruan nya yaitu Tumenggung Rapala dan Rapada mendengar ucapan dari adik seperguruan nya itu.
Sementara Kedua nya telah berhasil mengalah kan lawan-lawan nya.
" Benar kah ucapan mu itu adi Pratanu?" tanya Tumenggung Rapada dan Rapala bersamaan.
" Demikian lah kakang, si tua Mundira itu lah yg telah membunuh guru bersama dengan Mpu Thula selaku paman guru nya,,!" jelas Naja Pratanu kepada kakak seperguruan nya itu.
" Hehh bocah kau jangan mengada-ada, bukan aku yg telah membunuh guru mu itu melain kan paman guru lah yg ber tanggung jawab, bukan Aku,!' jelas Patih Kebo Mundira yg ter sudut kan oleh ucapan dari Naja Pratanu.
Terbayang di mata Patih Majapahit itu kala mereka menyerbu padepokan Semeru guna mencari pedang Naga geni untuk di ambil dan di per gunakan melawan para tokoh per silatan dari Tiongkok yg telah ber hasil mem bunuh guru nya Mpu Tela mahalaya. Semua usaha itu atas saran dari Mpu Thula yg merupakan kakak seperguruan dari Mpu Tela mahalaya.
__ADS_1
__ADS_2