BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 18 Singgasana Yang Suram bagian ke tujuh.


__ADS_3

Ketika hari menjelang sore kedua orang yg sedang ber main-main dengan nyawa itu semakin keras ber tarung nya. Meski di dalam hutan cuma mereka ber dua yg ada.


" Hemmph, ter nyata begal alas selentuk memang tinggi ilmu nya, rasa-rasa nya tenaga dalam ku kalah dari nya, aku harus mengeluar kan aji ngerogoh sukma ku,!" pikir Mahisa Dara dalam hati.


Hampir sama dengan Gagak Mantruk, ia pun ber pikir sangat sulit untuk menunduk kan lawan nya itu.


" Mungkin aku harus mengeluar kan segala kemampuan ku untuk menunduk kan orang ini, ter nyata kecepatan nya luar biasa meski aku berhasil mendesak nya ia pun mampu gantian mendesak ku,!" pikir Gagak Mantruk.


" Hehh, cepat lah engkau ber lutut di hadapan ku , agar engkau Ku ampuni,!" ucap Gagak Mantruk dengan garang nya.


" Kau jangan banyak bacot Gagak Mantruk, kau pikir mampu mengalah kan ku,!" jawab Mahisa Dara.


" Baik lah kalau kau tidak juga mau menyerah ter paksalah engkau harus menerima ini,, Heahh,!" teriak Gagak Mantruk sambil membuka telapak tangan nya sebelah kiri nya.


Selarik cahaya kuning keluar dari tangan kiri nya itu.


Tidak menunggu lama Mahisa Dara segera melompat dan gantian membalasi serangan itu dengan ajian tapak wisa milik nya.


" Ajian tapak wisa, hiyyaaaat,!" ter dengar teriakan dari Mahisa Dara.


Jual beli pukulan jarak jauh segera memporak poranda kan tempat itu.


Banyak pohon-pohon yg ber tumbangan. Diantara pohon-pohon yg tumbang itu kedua orang itu berloncatan saling serang mengguna kan ajian masing-masing.


Sesaat malam menjelang arah perubahan terjadi ketika Mahisa Dara mengeluar kan aji ngerogoh sukma nya.


Ketika tubuh nya telah berubah jadi tiga, begal Gagak Mantruk ter lihat kewalahan menghadapi serangan ketiga orang yg sama itu.


Beberapa kali pukulan Mahisa Dara berhasil men darat meski tidak telak.


Akan tetapi Begal Gagak Mantruk rupa nya pantang menyerah, segenap kemampuan nya di kerah kan nya untuk mengatasi ilmu dari lawan nya itu.


Ter nyata kemampuan dari begal alas selentuk itu cukup di acungi jempol, ia akhir nya ber hasil meraba kelemahan ilmu lawan nya itu, meski pundak dan lutut telah mengeluar kan darah, ia menyerang tubuh asli dari Mahisa Dara menyebab kan menantu Prabhu Suraprabhawa itu harus ber jumpalitan meng hindari serangan itu.


Setelah berhasil menghindari serangan lawan dan keluar dari jarak serang nya.


Mahisa Dara segera ber pikir untuk mengakhiri pertarungan itu.


" Baik lah , aku akan menjajal puncak ilmu ngerogoh sukma ini, mudah-mudahan telah bisa ku kuasai dengan sempurna,!" kata nya dalam hati.


Sementara Begal Gagak Mantruk segera bersiap sambil ber kata,


" Hehh, cuma segitu kah kemampuan mu bocah , keluar kan seluruh ilmu biar engkau tahu sedang ber hadapan dengan siapa saat ini,!" ucap Gagak Mantruk yg terus memperhati kan segala tindak tanduk dari lawan nya itu.


Mahisa Dara tidak memperduli kan ucapan Begal alas selentuk itu, ia tengah memusat kan nalar budi nya untuk menge trap kan ilmu Ngerogoh sukma nya yg di dapat nya dari ki jabang wingit yg berasal dari alas Roban itu.


Tubuh Mahisa Dara tampak ber getar dan per lahan tubuh nya mengeluar kan asap tipis serta sorot mata nya memancar kan cahaya kemerahan yg tidak ter lalu terang.


Ketika ia telah mengeluar kan ajian ngerogoh sukma tingkat tertinggi nya itu, perlahan ia mendekati tempat Gagak Mantruk, dan berkata,


" Tatap mata ku, tatap mata ku, !" kata Mahisa Dara perlahan.

__ADS_1


Tanpa sengaja Begal Gagak Mantruk yg tengah ber siap melancar kan serangan itu melihat ke arah mata dari Mahisa Dara itu yg tengah ber warna kemerahan, seketika tubuh dari begal alas selentuk itu lemah, tangan nya yg sudah terangkat tiba-tiba turun kembali, dan kedua lutut nya ber geletar seolah menopang beban yg berat.


Sementara itu Mahisa Dara terus mendekat dan berkata,


" Ber lutut lah, ber lutut lah, cepat,!" kata kata itu berulang kali di ucap kan oleh menantu Prabhu Suraprabhawa itu.


Membuat tubuh dari Gagak Mantruk jatuh ber lutut, seakan akan seluruh tubuh dari begal alas selentuk itu tidak dapat di gerak kan, ia tampak pasrah di buat ilmu dari Mahisa Dara itu.


Ilmu yg sejenis dengan ilmu tenung itu nampak nya mampu menguasai tubuh begal alas selentuk itu.


Jarak Mahisa Dara dan Gagak Mantruk sudah dekat, dan pedang di tangan dari Mahisa Dara sudah ter angkat untuk menebas kepala dari begal alas selentuk itu, tiba-tiba Mahisa Dara menurun kan kembali pedang nya itu tidak jadi menebas kepala Gagak Mantruk, ia kemudian berkata,


" Apakah kau mau menyerah dan menjadi pembantu ku,?" tanya nya kepada Begal alas selentuk itu.


Nampak kepala Gagak Mantruk mendongak ke atas dan ber kata,


" Aku menyerah dan mengaku kalah serta berjanji akan setia kepada mu jika tuan mengampuni ku,!" jawab Gagak Mantruk kembali menunduk kan kepala nya.


" Aku akan mengampuni mu, jika engkau benar-benar ber sumpah setia kepada ku, karena aku memerlu kan orang-orang seperti mu,!" jelas Mahisa Dara lagi.


" Aku ber sumpah akan setia kepada mu dengan segenap jiwa raga ku, !" kata Gagak Mantruk yg kelihatan nya masih di bawah pengaruh dari ilmu Mahisa Dara itu.


" Bagus, karena engkau telah berjanji untuk setia kepada ku maka mulai hari ini kau tidak boleh menolak perintah ku,!" jelas Mahisa Dara.


" Dan kalau kau sampai melanggar janji mu itu, nyawa mu adalah taruhan nya,!" kata nya lagi.


" Aku ber sedia tuan, asal engkau me ngampuni aku, dan tetap patuh atas segala perintah tuan ,!" jawab Gagak Mantruk.


Setelah Gagak Mantruk mengucap kan janji setia akhir nya Mahisa Dara melepas kan ilmu nya dan menyebab kan tubuh Gagak Mantruk itu ambruk ke tanah dan pingsan.


Ia menyiram kan air ke tubuh Gagak Mantruk itu, dan perlahan tubuh begal alas selentuk itu siuman dan melihat Mahisa Dara berada di dekat nya.


Dengan serta merta ia menangkap tangan menantu dari Prabhu Suraprabhawa itu seraya mencium nya dan berkata,


" Terima kasih tuan mau mengampuni ku, terima kasih,!" ucap Gagak Mantruk itu.


" Asal engkau tidak mengulangi per buatan mu itu, dan lagi jangan panggil aku tuan, nama ku Mahisa Dara dan aku adalah menantu Prabhu Suraprabhawa, aku ingin engkau jadi pembantu ku, karena kemampuan yg kau miliki , kau bisa ku angkat jadi Tumenggung di Majapahit asal engkau tetap setia kepada ku,!" ujar Mahisa Dara.


" Jadi raden menantu Raja Majapahit, maaf kan lah jika aku tidak mengenal raden,!" ucap Gagak Mantruk yg ter kejut men dengar penjelasan dari Mahisa Dara itu.


" Yah aku menantu Raja Majapahit ini dan dalam perjalanan ke Wengker atas perintah Ramanda Prabhu, karena kemampuan cukup hebat , kau masih ber guna untuk negeri Majapahit ini, dengan syarat kau harus tetap setia kepada ku,!" ungkap Mahisa Dara.


" Aku berjanji,!" jawab Gagak Mantruk yg telah pulih kesadaran nya sepenuh nya.


" Karena aku sedang ter buru-buru akan ke Wengker , kau ku tinggal dahulu disini nanti se kembali dari Wengker ,engkau akan aku temui lagi disini, kau ber sedia kan ke Majapahit,?" tanya Mahisa Dara kepada Gagak Mantruk itu.


" Aku ber sedia asal raden Mahisa Dara tidak akan memasuk kanku ke dalam penjara,!" jawab Gagak Mantruk.


" Kalau begitu Aku akan berangkat, mungkin satu dua hari lagi akan singgah kemari untuk menjemput mu,!" kata Mahisa Dara yg bergegas mendekati kuda nya.


Kemudian Mahisa Dara naik ke atas punggung kuda nya dan langsung mengge brak kuda nya itu meninggal kan begal alas selentuk itu.

__ADS_1


Mahisa Dara terus memacu kuda nya ke kota Wengker yg sebenar nya tidak ter lalu jauh dari alas selentuk itu.


Ketika mentari pagi menerangi sampai lah kuda yg di tunggangi oleh Mahisa Dara itu ke dalam kota Wengker.


Dengan cepat Mahisa Dara masuk ke dalam istana Kadipaten Wengker itu.


Ternyata Adipati Wengker belum pun bangun dari tidur nya sehingga Mahisa Dara segera ke belakang guna mem bersih kan tubuh nya yg sangat kotor akibat ber tarung dengan Begal Gagak Mantruk itu.


Setelah bersih , Mahisa Dara baru masuk ke dalam dan menemui kakak ipar nya itu.


Sementara Adipati Wengker cukup ter kejut mendengar laporan dari prajurit nya bahwa adik ipar nya telah datang pagi-pagi sekali.


" Dimas Dara, ada hal apa sehingga pagi-pagi sekali telah sampai di Wengker ini,?" tanya Adipati Wengker itu kepada adik ipar nya itu.


" Ahhh, Kangmas Wengker masih saja bisa ber santai di saat Kotaraja Majapahit ini di ambang kehancuran!'' seru Mahisa Dara


" Hahh, ada apa dengan Kotaraja Majapahit , bukan kah sejauh ini Majapahit aman-aman saja,!" jawab Adipati Wengker.


" Apakah kangmas Wengker tidak men dengar kekalahan dari pasukan Majapahit yg menyerang Kahuripan itu,?" tanya Mahisa Dara kepada kakak ipar nya itu.


" Dimas Dara, siapa yg tidak mendengar berita kekalahan dari pasukan Majapahit itu, bahkan paman Kebo Mundira telah tewas kami pun tahu, yg jadi masalah nya apa dengan kekalahan dari pasukan Majapahit itu,?" tanya Adipati Wengker itu yg sebenar nya cukup kenal dekat dengan adik ipar nya itu, sebelum menikah dahulu , putri Nawang Sekar sering berada di Wengker dengan kekasih nya yg sekarang telah menjadi suami nya itu yaitu Mahisa Dara.


Mahisa Dara geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dari kakak ipar nya itu, ia sampai mendesah panjang.


" Hhheeehh, apa kah Kangmas Wengker tidak mem perhati kan kekuasaan Ramanda Prabhu yg semakin suram, dan boleh jadi jika Adipati Pamotan menyerang Kotaraja Majapahit mungkin tidak lebih satu hari , tentu pasukan Majapahit akan tewas di bantai oleh pasukan Pamotan itu, dan apakah Kangmas Wengker tidak mengetahui jika Kotaraja Majapahit jatuh ke tangan Adipati Pamotan, bagaimana nasib yg akan menimpa kita semua ter masuk Kangmas Wengker, masih untung kalau di ampuni, kalau Trah Rajasawardhana men dendam , mungkin nasib kita semua akan mati di ujung pedang para prajurit Pamotan itu,,!" jelas Mahisa Dara.


" Apa kah itu mungkin terjadi dimas Dara,?" tanya Adipati Wengker kepada Mahisa Dara.


" Aduh kangmas Adipati ini bagaimana sih, seluruh prajurit di kota raja Majapahit saat ini tengah ketakutan menunggu serangan dari Pamotan, kangmas malah ber tanya apa mungkin terjadi, jadi menurut pesan dari Ramanda Prabhu Suraprabhawa, sebelum Pamotan menyerang Kotaraja , sebaik nya kita mem persiap kan prajurit yg banyak untuk menahan serangan itu mengingat begitu banyak nya prajurit Majapahit yg tewas saat menyerang kadipaten Kahuripan itu, ter masuk Wengker ini, Ramanda Prabhu ber harap dapat mengirm kan prajurit nya untuk menambah kekuatan di Kotaraja Majapahit sebelum di serang oleh Adipati Pamotan,!" ter dengar kata-kata dari Mahisa Dara.


Adipati Wengker diam saja men dengar penuturan dari Adik ipar nya itu.


Adipati Wengker merasa Kotaraja Majapahit masih dalam keadaan yg kuat untuk melawan segala serangan dari mana pun, menurut nya.


Tetapi begitu men dengar ucapan dari adik ipar nya itu ia ter lihat mulai ber pikir keras atas permintaan Ramanda nya itu untuk mengirim kan prajurit ke kotaraja Majapahit guna membantu pasukan Majapahit, berarti ada yg tidak beres dengan kekuasaan dari Prabhu Suraprabhawa itu.


" Dimas Dara, Benar kah yg di katakan dimas itu bahwa Majapahit saat ini benar-benar dalam keadaan terancam,?" tanya nya seolah meyakin kan diri nya atas yg terjadi di Kotaraja Majapahit itu.


" Hahh, Kangmas Wengker masih belum percaya Kota Raja Majapahit saat ini dalam keadaan gawat, coba kangmas Wengker lihat berapa kadipaten yg tunduk dan patuh ter hadap Kotaraja, ?" tanya Mahisa Dara agak keras.


" Kalau melihat sidang paseban tahun lalu , tiga kadipaten yg masih turut hadir di dalam sidang itu,!" jawab Adipati Wengker.


" Dari ketiga kadipaten itu, kadipaten mana yg Adipati nya bukan putra dari Ramanda Prabhu,?" tanya Mahisa Dara.


" Kadipaten Matahun,!" jawab Adipati Wengker lagi.


" Berarti dari sini kita dapat melihat kekuasaan dari Ramanda Prabhu hanya berada di wilayah ketiga kadipaten itu, sementara wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit dari ujung barat sampai timur, jadi lebih banyak yg mem bangkang dari pada yg patuh, sehingga keluar perintah untuk menunduk kan salah satu kadipaten yaitu Kahuripan tetapi hasil nya apa, pasukan Majapahit malah di per malukan, secara langsung tidak langsung kedudukan Ramanda Prabhu saat ini berada di ujung tanduk, tetapi kangmas malah mengata kan Kotaraja Majapahit masih kuat, mungkin sidang paseban kali ini akan cuma di hadiri oleh kangmas Wengker dan Pandan Alas saja, yg lain akan ber alih ke Pamotan, yg di anggap mampu memimpin Majapahit ini,!" terang Mahisa Dara agak geram.


" Hehh, itu tidak boleh terjadi , kita sebagai putra dari Ramanda Prabhu Suraprabhawa harus meng hentikan nya, karena Ramanda Prabhu adalah keturunan langsung dari eyang Prabhu Wikramawardhana, yg ber hasil menyatu kan Istana Timur dan Barat dalam keutuhan Kerajaan Majapahit,!" jelas Adipati Wengker .


" Hampir ter lambat Kangmas, sedang musuh di depan mata Kangmas baru ter bangun, oleh sebab itu lah aku kemari untuk menyampai kan pesan Ramanda Prabhu agar Kangmas ber dua segera ber buat untuk negeri Majapahit ini jangan cuma tidur dan di buai dengan kegemaran masing-masing, seperti Kangmas yg sulit untuk meninggal kan kegemaran ber buru, saat ini Kangmas Wengker di perintah Ramanda Prabhu untuk ber buru para pemuda yg akan di jadi kan prajurit untuk menambah kekuatan prajurit Majapahit itu,!" kata dari Mahisa Dara.

__ADS_1


" Baik lah dimas Dara, mulai hari ini kami akan membuka penerimaan prajurit di Wengker ini,!" jawab Adipati Wengker itu.


" Bagus, jawaban Kangmas itu tentu akan meng gembira kan Ramanda Prabhu meski agak ter lambat,!" ucap Mahisa Dara.


__ADS_2