BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA

BARA Di Atas Tanah MAJAPAHIT Dalam Episode 2: Satria Dari DAHA
episode 19 Kekacauan bagian ke empat


__ADS_3

" Baik lah kalau begitu siap kan para Prajurit untuk menangkap mereka,!" ter dengar perintah Tumenggung Singha wara kepada salah se orang lurah prajurit Kahuripan itu.


Kemudian Tumenggung Singha Wara segera menghubungi Tumenggung Bantar Gede untuk mengepung orang-orang yg mencuriga kan itu.


Kemudian Tumenggung Bantar Gede dengan di bantu oleh Lurah prajurit Balasewu yakni Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra.


Kedua Lurah prajurit Balasewu itu bersama dengan para prajurit Kahuripan yg di pimpin oleh Tumenggung Bantar Gede segera menyiap kan perangkap untuk menangkap para maling itu.


Sementara Tumenggung Ratanu yg mengemban tugas dari Mahisa Dara tidak menyadari mereka telah masuk ke dalam jebakan yg di buat oleh Tumenggung Bantar Gede dan dua Lurah prajurit Balasewu itu.


Ketika mereka sudah mendekati bangsal perbekalan dari Kadipaten Kahuripan, Tumenggung Ratanu ber bisik kepada para prajurit nya,


" Tugas kita adalah membuat kekacauan , bukan semata-mata ingin mencuri isi di dalam bangsal perbekalan itu, jika para prajurit Kahuripan datang menyerang upaya kan melawan dan cari jalan untuk melari kan diri,!" jelas nya kepada para prajurit Majapahit yg ter pilih itu.


" Kalian mengerti kan, jangan ter lalu memaksa kan diri, bila tidak mampu mengambil bahan pangan itu, bakar saja bangsal perbekalan itu, dan langsung tinggal kan tempat ini, kita ber temu di tempat yg telah di tentukan, kalian faham,?" tanya Tumenggung Ratanu lagi.


" Faham Ki Tumenggung,!" jawab prajurit Majapahit itu.


Setelah malam semakin larut, suara-suara burung malam ter dengar sahut-sahutan, maka perlahan namun pasti mereka ber gerak mendekati bangsal perbekalan kadipaten Kahuripan itu.


Ketika mereka akan menyergap para prajurit penjaga bangsal perbekalan itu, tiba-tiba,


" Kalian menyerah lah,!" teriak dari Tumenggung Bantar Gede mengaget kan para prajurit Majapahit itu.


Mereka telah ter kepung oleh para prajurit Kadipaten Kahuripan dengan rapat.


" Hehh, kita telah ter jebak Ki Tumenggung, bagaimana ini,?" tanya salah seorang prajurit Majapahit kepada Tumenggung Ratanu.


" Segera buka jalan, kita kabur dari tempat ini,!" jelas Tumenggung Ratanu.


Tanpa di perintah untuk kedua kali nya, lima puluh prajurit terpilih dari Majapahit itu segera menyerang satu sisi kepungan prajurit Kahuripan.


Prajurit Kadipaten Kahuripan cukup ter kejut dengan serangan itu, sehingga mau tidak mau mereka memberi ruang kepada para prajurit Majapahit itu untuk melari kan diri.


Akan tetapi , para prajurit Kahuripan tidak kehabisan akal ketika prajurit Majapahit itu berusaha melari kan diri, mereka melempar kan senjata-senjata nya ke arah orang yg melari kan diri itu, menyebab kan sepuluh orang prajurit Majapahit ter kena serangan itu dan mereka pun langsung di tangkap para prajurit Kahuripan, diantara nya ada juga yg telah tewas.


Sekitar lima orang prajurit Majapahit yg ter tangkap itu masih selamat selebih nya tewas.


Sedang kan sisa nya ber hasil melari kan diri.


" Kakang Sasra Bahu, kita ter lambat mencegah mereka untuk melari kan diri, seharus nya kita telah menyiap kan perangkap yg kuat di sebelah selatan itu,!' ucap Wiera Tantra kepada Sasra Bahu.


" Benar Adi Wiera, kita telah ke colongan, mungkin mereka telah menyiap kan segala sesuatu nya jika rencana mereka gagal, ada baik nya kita bersama Tumenggung Bantar Gede untuk mengorek keterangan dari yg ter tangkap itu,!" jawab Lurah Sasra Bahu.


" Baik lah, mari kita ke tempat Tumenggung Bantar Gede itu,!" ajak Wiera Tantra.


Kedua nya langsung menuju ke tempat para tawanan yg di jaga oleh Tumenggung Bantar Gede itu.


" Bagaimana Tumenggung , apakah mereka mau mengaku siapa sebenar nya mereka,?" tanya Lurah Sasra Bahu.


" Mereka masih dalam perawatan, dan ketika di tanyai mereka belum mau menjawab, apakah kalian ber hasil mengejar teman-teman nya yg melari kan diri itu,?" tanya Tumenggung Bantar Gede kepada Lurah Sasra Bahu.


" Sayang nya kami tidak ber hasil menangkap mereka, seperti nya tujuan mereka tidak semata-mata ingin mencuri bahan pangan dari bangsal perbekalan melain kan hanya ingin mem buat ke kacauan saja,!'' jelas Lurah Sasra Bahu lagi.


Tidak berapa lama kemudian datang lah Tumenggung Singha Wara dengan para prajurit Kahuripan yg lain.

__ADS_1


Se sampai nya di tempat kejadian ia tidak melihat ada nya pertempuran melain kan banyak nya prajurit Kahuripan yg ber kumpul.


" Hehh, apakah mereka ber hasil melolos kan diri,?" tanya Tumenggung Singha Wara kepada Tumenggung Bantar Gede.


" Kejadian nya begitu cepat, sehingga kami agak ter kejut dan mem buat mereka ber hasil melolos kan diri, akan tetapi ada juga yg ber hasil di tangkap sejumlah sepuluh orang, yg lima masih hidup dan sisa nya telah tewas,!" jelas Tumenggung Bantar Gede.


" Kemana arah lari nya mereka,?" tanya Tumenggung Singha Wara lagi.


" Mereka melari kan diri arah ke selatan," jawab Tumenggung Bantar Gede.


" Hahh, jangan-jangan mereka akan menyasar Pamotan,!" ujar Tumenggung Singha Wara dengan nada ter kejut.


" Apa tidak sebaik nya Lurah Sasra Bahu dan Lurah Wiera Tantra membuntuti mereka, jangan sampai mereka mem buat ke onaran lagi,!'' jelas Tumenggung Singha Wara.


" Baik lah Tumenggung Singha Wara, kami akan mengejar mereka,!'' jawab Lurah Sasra Bahu itu.


" Jangan lupa bawa pula prajurit Kahuripan se cukup nya dan bila kalian ter desak segera cepat lapor kan kemari,!" tukas Tumenggung Singha Wara.


" Baik Tumenggung Singha Wara,!" kata Lurah Sasra Bahu.


Kedua Lurah prajurit Balasewu itu segera membawa para prajurit Kahuripan untuk mengekori prajurit Majapahit yg melari kan diri itu.


Sementara para prajurit Majapahit yg ber hasil melari kan diri itu ber kumpul di suatu hutan dekat kademangan Sindureja, sebuah kademangan penyangga kota kadipaten Kahuripan.


Dan kademangan itu cukup lumayan dalam hal hasil pertanian nya.


" Bagaimana ini Ki Tumenggung, apa yg harus kita lakukan, tugas kita gagal total, jika kita kembali ke Kota Raja Majapahit tanpa hasil tentu pangeran Mahisa Dara akan murka,!" ungkap salah se orang prajurit Majapahit itu.


" Apa yg Sebaik nya kita lakukan, demi menyelamat kan wajah kita,?" balik ber tanya Tumenggung Ratanu kepada prajurit Majapahit itu.


" Baik juga usul mu, yg penting kita membuat kekacauan, tidak bisa di kota kadipaten, di kademangan pun jadi,!" kata Tumenggung Ratanu.


Kemudian Tumenggung Ratanu memerintah para prajurit nya itu ke kademangan Sindureja yg tidak jauh dari tempat mereka ber kumpul itu.


Namun langkah mereka ter henti ketika mentari telah terbit,


" Bagaimana mungkin kita masuk kedalam Kademangan itu, sementara hari telah terang,!" ucap salah seorang prajurit Majapahit.


" Tidak terasa rupanya kita sampai lupa masalah waktu, ter nyata hari telah pagi, lebih baik kita urung kan niat kita ini, nanti malam baru ki lakukan rencana tadi " ucap Tumenggung Ratanu.


Mereka kembali masuk ke dalam hutan, begitu mereka masuk untuk ber sembunyi lewat lah para prajurit Kahuripan yg di pimpin oleh Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra itu.


" Tampak nya mereka tetap membuntuti kita sampai ke mari , Tumenggung,!" kata seorang prajurit kepada Tumenggung Ratanu.


" Benar , mereka tetap mengikuti kita sampai ke mari, ter nyata begitu ketat nya penjagaan para prajurit Kahuripan itu,!" jawab Tumenggung Ratanu.


" Apakah rencana kita tetap di laksanakan nanti malam , Ki Tumenggung,?" tanya prajurit itu.


" Kita lihat lebih dahulu ke adaan nya, baru setelah itu kita putus kan, apakah tetap pada rencana semula atau kembali saja ke kotaraja Majapahit,!" jawab Tumenggung Ratanu.


Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra terus ber jalan men dekati kademangan Sindureja , bersama para prajurit Kahuripan mereka menuju ke kediaman demang Sindureja.


Setelah sampai di rumah Ki demang Sindureja mereka di sambut oleh demang Sindureja yg lagi sarapan pagi.


" Hehh, ada apa Ki Lurah, pagi-pagi begini telah sampai kemari,?" tanya Ki Demang Sindureja yg ter gopoh-gopoh menyambut kedatangan Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra.

__ADS_1


Seraya mengajak naik ke pendopo, Ki Demang Sindureja ber tanya lagi,


" Apakah ada hal yg sangat penting sehingga Ki Lurah datang ber sama prajurit yg banyak itu,?" tanya nya.


" Demikian lah kira nya Ki Demang, tadi malam ada pengacau yg masuk kota Kahuripan dan mereka mengincar bangsal perbekalan, jumlah cukup banyak, apakah Ki Demang tidak melihat mereka melintas kemari,?" tanya Lurah Sasra Bahu.


" Hahhh, bangsal perbekalan kota kadipaten di satroni maling,?" balik Ki DEmang ber tanya.


" Itu lah kejadian nya Ki Demang, di saat saat sulit seperti ini tampak nya ada fihak-fihak yg mencoba me mancing di air keruh, di mana banyak rakyat Majapahit yg kelaparan, ada segelintir orang yg me mafaat kannya,!" jelas Lurah Sasra Bahu.


" Apakah bangsal perbekalan Kota Kahuripan itu ber hasil mereka curi,?" tanya Ki Demang lagi.


" Seperti nya mereka bukan pencuri sungguhan melain kan suruhan seorang yg ber kedudukan tinggi di Kota Raja Majapahit, karena dari yg berhasil kami korek keterangan nya, mereka adalah prajurit Majapahit yg di perintah kan untuk mem buat kekacauan di saat seluruh tlatah Majapahit dalam keadaan sulit tentang kemarau yg ber kepanjangan ini, Ki Demang,!" jelas Lurah Sasra Bahu lagi.


" Apa maksud Kotaraja Majapahit itu dengan membuat kekacauan di wilayah nya sendiri itu,?" tanya Demang Sindureja lagi.


" Tujuan mereka supaya wilayah kadipaten yg tidak tunduk terhadap Majapahit akan lemah dan tidak berani menentang mereka lagi dan di samping itu, mereka pun tengah kesulitan untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka karena banyak wilayah kadipaten yg tidak mau lagi mengantar kan ulu bekti nya,!" jawab Lurah Sasra Bahu.


" Kembali pada pertanyaan yg tadi, apakah Ki Demang tidak melihat orang-orang yg mencuriga kan lewat sini , Ki Demang,?" tanya Lurah Sasra Bahu.


" Tidak, tidak ada Ki Lurah, tadi malam keadan kademangan Sindureja dalam keadaan baik, tidak ada seorang pun yg lewat di sini,!" jelas Ki Demang Sindureja itu.


" Walaupun demikian Ki Demang, sebaik nya mulai nanti malam, Ki Demang mem perketat keamanan supaya orang-orang yg tidak ber tanggung jawab itu tidak bisa membuat ke onaran di Kademangan Sindureja ini,!" ungkap Lurah Sasra Bahu.


" Apakah ada kemungkinan mereka menyasar kemari,?" tanya Ki Demang Sindureja itu.


" Kemungkinan itu tetap ada, pertama mereka tentu akan berusaha mengambil hasil panen yg cukup melimpah di kademangan ini karena, kademangan Sindureja masih bisa mendapat kan air dari sodetan Kali berantas itu, kedua sebagai penyangga kota kadipaten tentu jika mereka ber hasil membuat kekacauan di sini akan ber dampak pada Kota Kahuripan,!" terang Lurah Sasra Bahu.


" Dan kemungkinan besar mereka masih berada di sekitar sini, menurut jejak yg kami ikuti, mereka mengarah kemari, jika Ki Demang menyebut kan tidak melihat mereka lewat berarti mereka tengah ber sembunyi,!" ucap Lurah Sasra Bahu.


" Atau mereka ber sembunyi di hutan depan itu,!" seru Ki Demang Sindureja tiba-tiba


" Bisa jadi,!" jawab Lurah Sasra Bahu yg tiba-tiba teringat mereka melalui sebuah hutan kecil, namun mereka tidak menyinggahi tempat itu dan terus saja masuk ke kademangan Sindureja.


" Baik lah Ki Demang, nanti sekembali nya dari sini kami akan memeriksa nya, dan pesan kami, segera lah Ki Demang membuat penjagaan yg ketat untuk lumbung padi kademangan ini,,!" saran Lurah Sasra Bahu.


" Baik Ki Lurah, pesan Ki lurah akan kami laksana kan,!" jawab Ki Demang Sindureja.


Setelah matahari naik ke atas ubun-ubun, prajurit Kahuripan yg di pimpin oleh Lurah Sasra Bahu dan Wiera Tantra itu kembali ke kota kadipaten Kahuripan.


Namun sebelum nya mereka singgah di hutan kecil yg dekat dengan kademangan Sindureja itu.


Perlahan-lahan prajurit Kahuripan itu memeriksa ke dalam hutan.


Mereka menemu kan banyak jejak jejak kaki di hutan ter sebut.


" Kang , tampak nya mereka tadi malam berada di sini,?" ujar Lurah Wiera Tantra kepada Sasra Bahu.


" Benar di, mereka rupa nya ber sembunyi di sini tadi malam, sayang waktu itu kita tidak ter lalu ingat untuk memeriksa tempat ini,!" jawab Lurah Sasra Bahu.


" Lagi pun kita berada di sini waktu masih gelap, hingga kita terus masuk ke kademangan Sindureja itu,,!" seru Lurah Wiera Tantra.


" Sebaik nya kita periksa terus tempat ini sampai ke dalam, siapa tahu mereka masih berada di sini,,!" kata Lurah Sasra Bahu.


Kedua nya ber sama prajurit Kahuripan itu terus masuk ke dalam hutan mengikuti jejak-jejak yg ada.

__ADS_1


__ADS_2