
__ADS_3
" Ada satu pertanyaan lagi Kangmas, apakah kangmas tidak mengetahui di wilayah Kangmas ini ada rampok yg ber sarang tepat nya di alas selentuk itu,?" tanya Mahisa Dara kepada kakak ipar nya itu.
" Hehh, dari mana Dimas Dara tahu, apakah dimas tadi lewat selentuk,?" balik ber tanya Adipati Wengker kepada Mahisa Dara.
Yang di tanya mengangguk kan kepala nya.
" Hehh, sudah banyak punggawa Wengker yg ku kirim untuk mengatasi begal Gagak Mantruk itu, namun semua nya tewas, tidak ada yg selamat, jadi alangkah berani nya dimas melalui jalan itu sementara dimas Pandan Alas tentu sudah mem beritahukan bahwa di alas selentuk itu ada penunggu nya,!" jelas Adipati Wengker kepada Mahisa Dara.
" Kangmas , per soal annya, bukan berani atau tidak nya kita melewati tempat itu, akan tetapi jika di wilayah kekuasaan kita, di upaya kan tidak lagi ada Raja kecil yg mampu menakut-nakuti kawula kita, ada keberanian untuk menindak mereka yg menentang hukum apalagi sampai menyengsara kan rakyat, sehingga alur per jalanan bisa ber jalan lancar baik dari Wengker ke Pandan Alas atau sebalik nya, bukan malah menghindari nya hingga membuat perjalanan jadi jauh dan orang pun akan malas untuk ber kunjung ke Wengker ini, !" jelas Mahisa Dara.
" Jadi apakah dimas telah ber temu dengan Begal Gagak Mantruk itu,,?" tanya Adipati Wengker.
" Sudah , dan nanti sekembali dari Wengker ini, ia akan Ku ajak ke kotaraja Majapahit dan akan Ku beri kan tempat yg layak untuk nya , yg cukup bisa di andal kan ilmu nya, jadi orang-orang seperti nya layak di manfaat kan tenaga nya guna menghadapi Adipati Pamotan yg banyak memiliki Punggawa pinunjul sehingga menjadi kan Kadipaten Pamotan unggul di berbagai bidang , termasuk masalah ke prajuritan,!" ungkap Mahisa Dara.
" Apa kah dimas ber hasil mengalah kannya,?" tanya Adipati Wengker agak ter kejut mendapati pernyataan adik ipar nya itu.
" Demikian lah kira nya Kangmas, setelah ber tarung seharian , akhir nya aku mampu mengalah kan nya, dan memang ilmu Gagak Mantruk cukup tinggi, sangat sulit untuk di kalah kan, beruntung kemenangan masih ber pihak kepada ku, dan ia saat ini telah menyerah dan akan Ku bawa ke kotaraja Majapahit,!" jelas Mahisa Dara lagi.
" Apakah tidak membahaya kan dengan memberi pengampunan kepada nya, kelak di kemudian hari apakah ia tidak akan membokong dari belakang,?" tanya Adipati Wengker.
" Kurasa tidak Kangmas, meski terlihat menakut kan, tetapi seperti nya ucapan dari Gagak Mantruk itu dapat di percaya,!" jawab Mahisa Dara.
" Ter serah dimas lah, namun Aku senang men dengar begal Alas selentuk itu berhasil di kalah kan, nanti saat sidang paseban Aku akan melihat nya, seperti apa wajah nya yg cukup meng getar kan Kadipaten Wengker ini,!" ujar Adipati Wengker.
Setelah se hari berada di Wengker, Mahisa Dara tidak ber lama-lama lagi di tempat itu, dimana ia dan istri nya sekarang pernah me madu kasih di hutan per buruan kala itu.
Kenangan itu sempat ter lintas di hati Mahisa Dara putra dari Rakryan Mantri Kuda Langhi itu. Karena keinginan nya yg kuat untuk men dapat kan kamukten, ia meninggal kan seorang gadis desa Thanda , ya , ia meninggal kan Rara Tantri yg saat itu masih menjadi tunangan nya demi mengejar Putri Nawang Sekar, sang sekar kedaton pandan alas kala itu.
Serasa kenangan itu masih baru saja ber lalu ketika pertemuan ketiga nya di hutan per buruan saat itu.
Mahisa Dara tidak mau ter lalu larut dengan kenangan nya segera lah di pacu nya kuda yg besar milik nya itu tanpa menoleh ke arah hutan per buruan.
Ia langsung menuju Alas Selentuk untuk menyinggahi Gagak Mantruk yg akan di bawa ke kotaraja Majapahit.
__ADS_1
******
Sementara di Pamotan, Wikala sang Adipati pamotan yg ber gelar Bhre Kertabhumi itu tampak sedang gundah gulana.
Ia segera memanggil beberapa petinggi Pamotan untuk mem bicara kan per masalah an yg tampak nya cukup rumit itu.
Setelah beberapa petinggi Pamotan ber kumpul di istana Timur itu ber kata lah Sang Adipati,
" Nampak nya secara keseluruhan wilayah Majapahit mengalami paceklik, apa yg mesti kita lakukan,?" tanya nya dalam sidang itu.
" Ampun Gusti Adipati, memang benar lah kira nya ucapan dari Gusti Adipati itu, hampir seluruh wilayah per sawahan di pamotan ini gagal panen, sehingga kita terancam kelaparan Gusti Adipati,,!" ungkap Patih Sengguruh sambil menjura hormat.
" Ampun Gusti Adipati, kalau menurut hamba sebaik nya Gusti Adipati melakukan hubungan dengan kerajaan gel gel di Bali, karena dari yg ku dengar Bali tidak mengalami masa paceklik bahkan panen mereka melimpah tahun ini,!" ucap Rakryan Mantri Raka Swidak.
" Benar kah hal itu Rakryan Mantri,?" tanya Patih Sengguruh.
" Benar paman Patih, Kerajaan gel gel tepat nya pulau Bali secara keseluruhan nya mengalami panen raya, sehingga mereka saat ini ber limpah hasil padi nya,!" kata Adipati Pamotan yg menjawab pertanyaan yg di tuju kan kepada Rakryan Mantri Raka Swidak itu.
" Rupanya Hyang widhi wasa masih mem berikan anugerah nya ke pada pulau dewata itu, sehingga mereka tidak mengalami apa yg kita alami di sini,!" jawab Adipati Pamotan lagi.
" Sungguh beruntung mereka,!??" gumam Patih Sengguruh.
Adalah Rakryan Mantri Raka Swidak yg kemudian angkat bicara lagi,
" Akan tetapi Gusti Adipati, daerah Daha tepat nya tempat kelahiran dari Gusti Adipati sendiri pun tidak mengalami ke gagalan panen, malah tanah perdikan Thandasain cukup banyak panen nya tahun ini,!" kata Rakryan Mantri Raka Swidak yg masih muda itu.
" Sungguh kah itu, Mantri Swidak ?" tanya Adipati Pamotan agak terkejut.
Memang sudah agak lama ia tidak ber kunjung ke tempat kelahiran nya itu.
" Benar Gusti Adipati, dari beberapa orang yg baru kembali dari Daha, mereka menyebut kan wilayah kadipaten Daha tidak seluruh nya mengalami paceklik,!" jawab Rakryan Mantri Raka Swidak.
" Akan tetapi kalau kita meminta bantuan ke sana bagaimana pandangan Kangmas Daha, mungkin dia pun masih memer lukan bantuan dari tanah perdikan Thandasain itu, yg berada dalam wilayah nya,!" tukas Adipati Pamotan sang Bhre Kertabhumi itu.
__ADS_1
" Ampun Gusti Adipati, se sungguh nya kita bisa menjajaki ke sana sekaligus sebagai landasan pasukan Pamotan kelak jika harus berhadapan dengan Kotaraja Majapahit,!" ucap Senopati Lembu Petala
" Sebenar nya kalau masalah landasan pasukan Pamotan di Daha, Kangmas Daha telah setuju, namun saat ini kita mengesamping kan niat kita untuk ber perang dengan Kotaraja Majapahit, perhatian kita kali ini benar-benar di tuju kan kepada kelangsungan hidup rakyat Pamotan, karena nanti nya kita tentu akan di sibuk kan dengan masalah keamanan, apabila terjadi nya paceklik dan kelaparan tentu nya banyak orang yg akan mengambil jalan pintas, seperti mencuri ,merampok, dan ber kelahi demi se suap nasi, dan untuk tugas itu penanganan nya Ku serah kan kepada Paman Petala,!" ter dengar perintah dari Adipati Pamotan itu.
" Sendika dawuh Gusti Adipati, hamba akan menjalan kan titah Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.
" Dan untuk penanganan masalah per bekalan terutama untuk terisi nya lumbung-lumbung padi di pamotan ini Ku serah kan kepada Rakryan Mantri Raka Swidak, Rakryan Mantri bisa meminta bantuan ke Bali atau pun Kahuripan karena Ku dengar wilayah kadipaten Kahuripan tidak seluruh nya mengalami gagal panen,!" titah Gusti Adipati Pamotan lagi.
" Sendika dawuh Gusti Adipati, perintah Gusti Adipati siap hamba jalan kan,!" jawab Rakryan Mantri Raka Swidak.
" Dan untuk penjajakan tentang kemungkinan dari per seteruan kita dengan Kotaraja Majapahit, ku serah kan tugas nya kepada adi Pratanu, sebagai utusan resmi kadipaten Pamotan ke semua kadipaten di tlatah Majapahit ini,!" kata Adipati Pamotan lanjut.
" Sendika dalem Kangmas Adipati, seluruh titah siap hamba jalan kan,!" jawab Naja Pratanu yg sedari tadi diam saja.
" Apakah tidak mungkin Kotaraja mengambil kesempatan saat-saat seperti ini,?" tanya Patih Sengguruh kepada Adipati Pamotan.
" Maksud Paman Patih, bagaimana,?" Adipati Pamotan balik ber tanya.
" Ampun Gusti Adipati, maksud hamba bahwa Kotaraja Majapahit mem beri kan bantuan kepada wilayah kadipaten yg parah dalam masalah paceklik ini dan ganti nya mereka mem berikan bantuan Prajurit ke kotaraja Majapahit dan ber siap menyerang kita,!" ujar Patih Sengguruh itu.
" Kurasa itu tidak mungkin di lakukan oleh Kotaraja Majapahit, mengingat wilayah kadipaten pendukung Kotaraja pun ter kena dampak paceklik yg sama, seperti Pandan Alas dan Wengker,,!" jelas Adipati Pamotan lagi.
" Atau mereka mengirim prajurit nya yg menyamar sebagai begal dan merampok di wilayah kadipaten Pamotan ini atau kadipaten seperti Kahuripan dan Daha yg merupakan sekutu dari Pamotan ini,!" kata Patih Sengguruh .
" Kalau itu bisa terjadi Paman Patih, bahkan mereka menyewa orang-orang di wilayah kita ini untuk membuat ke onaran sehingga ter jadi ke kacauan dalam wilayah kadipaten Pamotan , Daha maupun Kahuripan,!" jelas Adipati Pamotan.
Kemudian Sang Adipati Pamotan melanjut kan kata-kata nya,
" Untuk hal itu, kepada Paman Petala menyiap kan Lurah-lurah prajurit Balasewu untuk di kirim sebagai prajurit sandi guna mengatasi segala ke kacauan sebab di timbul kan dari masa paceklik ini, kita secepat nya meredam segala kemungkinan yg bisa terjadi dari hal ini, terutama bahaya kelaparan, jika kita mampu mengatasi nya tentu keadaan wilayah kadipaten Pamotan ini dalam keadaan aman,!" ungkap Adipati Pamotan.
" Dan juga Kotaraja Majapahit tidak akan mampu lagi memandang sebelah mata kepada kadipaten ini, saat ini mereka menganggap Pamotan hanya kuat dalam hal keprajuritan, tidak dalam pengelolaan negara,!" kata Rakryan Mantri Raka Swidak.
Seluruh petinggi Pamotan mem benar kan ucapan dari Rakryan Mantri Raka Swidak itu, kadipaten Pamotan di tantang dengan bahaya yg lebih besar dari serangan pasukan kotaraja Majapahit yaitu serangan bahaya kelaparan yg mengancam datang setelah beberapa wilayah lumbung padi mengalami ke gagalan panen.
__ADS_1
__ADS_2