
__ADS_3
" Siapa kah se sungguh nya mereka itu Gusti Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala lagi.
" Entah lah Paman, di saat kita tengah me musat kan perhatian terhadap Kotaraja ini , datang tentangan perang tanding itu,!'' jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
Pembicaraan kedua nya ter henti sejenak karena ke datangan Tumenggung Rapada dan Arya bor-bor.
" Ampun Gusti Adipati, apakah perintah yg mesti hamba kerjakan,?" tanya Tumenggung Rapada kepada sang Adipati Pamotan.
" Kakang Tumenggung, mulai hari di perintah untuk mem per siap kan prajurit Pamotan yg akan di berangkat kan ke medan perang, dari perbekalan dan keperluan prajurit, kakang yg ber tanggung jawab,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.
" Minta lah bantuan dari para Tumenggung dan Rangga untuk keperluan itu, Kali ini kita membuat landasan di tiga tempat, pertama di kandangan yaitu berada di Kadipaten Daha dekat dengan tanah perdikan Thanda, dan yg kedua berada di Antang , di wilayah kadipaten Tumapel masih ber dekatan dengan kandangan dan yg ter akhir di Pakal, berada di Kadipaten Kahuripan, bagi lah prajurit Pamotan menjadi tiga bagian, jika ada pasukan kadipaten lain yg membantu, di bagi menjadi tiga bagian,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan lagi.
" Paman Petala, berapa kira nya kekuatan pasukan kotaraja Majapahit itu,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan.
" Mungkin ber jumlah lima belas ribu prajurit, Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.
" Berarti kemungkinan Kotaraja Majapahit memiliki kekuatan dua puluh lima ribu prajurit,!" kata Sang Adipati lagi.
" Mengapa dua puluh lima ribu, Gusti Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala kurang mengerti.
" Yahh, dengan di tambah lima ribu prajurit dari Kadipaten Wengker dan Pandan Alas, berarti jumlah keseluruhan nya prajurit Majapahit itu , dua puluh lima ribu prajurit,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
" Jumlah prajurit kita, berapa paman,?" tanya sang Adipati kepada Lembu Petala lagi.
" Hampir dua puluh ribu prajurit jika dengan prajurit dari Bali,!" jawab Senopati Lembu Petala.
" Berarti kekuatan Pamotan sendiri pun seimbang dengan pasukan kotaraja Majapahit itu, belum di tambah dari Kahuripan, Daha, Tumapel dan Kabalan serta Paguhan,!" ungkap Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Bagaimana dengan Pawanuan dan Matahun, apakah mereka tidak akan mengirim kan pasukan,?" tanya Tumenggung Rapada.
" Kalau Pawanuan hanya sanggup menyedia kan per bekalan tidak dengan prajurit nya, entah dengan Matahun, seperti nya mereka pun akan mengirim kan per bekalan bukan prajurit,!" jawab Sang Adipati Pamotan.
" Satu hal lagi, upaya kan agar per siapan ini selesai sebelum bulan purnama,yg akan datang karena rencana penyerangan itu akan di laksanakan setelah purnama, jika kakang Tumenggung menemui kesulitan, ber hubungan lah dengan adi Pratanu di Daha, dan paman Tumenggung Singha Wara di Kahuripan, serta Lurah prajurit Balasewu yg ada di Tumapel.,!" kata sang Adipati Pamotan.
" Siapa kah kira nya Senopati penyerangan ini,?" tanya Tumenggung Rapada lagi.
" Tetap Paman Petala, dengan di bantu oleh Arya bor-bor , dan kalian semua para Tumenggung ,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
" Apakah Gusti Adipati tidak turut serta,?" tanya Senopati Lembu Petala.
" Jangan khawatir Paman Petala, Aku akan turut serta pada penyerangan Kali ini, jadi di harap kan pada penyerbuan ini kita harus bisa memenang kan perang dengan Kotaraja, jangan sampai ter ulang kisah perang paregreg yg menyengsara kan itu, rakyat Majapahit sudah ter lalu lama dalam kesulitan, sudah saat nya kita menyenang kan mereka, usaha kan semua perhatian ter curah pada perang kali ini,!" seru Wikala sang Adipati Pamotan.
" Ahh Kalau Gusti Adipati yg turun langsung mungkin tidak akan ter lalu lama Kota Raja Majapahit itu ber tahan,!" tukas Tumenggung Rapada.
" Kita tidak boleh ter lalu jumawa, kakang Tumenggung, di atas langit masih ada langit dan lagi Mahisa Dara tidak mungkin se mudah itu mau menyerah,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan.
" Oh iya, Gusti Adipati, Paman baru ingat bahwa utusan yg membawa surat tantangan itu seperti,..., !" ungkap Senopati Lembu Petala dan ter putus tiba -tiba.
" Seperti apa Paman,?" tanya sang Adipati dengan penasaran.
Lembu Petala ter diam se sàat dan mengingat-ingat kembali kenangan nya.
Baru kemudian ia ber kata lagi,
__ADS_1
" Seperti orang mongol , Gusti Adipati,!"" seru Senopati Lembu Petala dengan pasti.
" Orang mongol,?" tanya sang Adipati Pamotan ter kejut.
" Ya utusan itu, seperti orang mongol, paman baru ingat setelah mengenang wajah dari jenderal Ganzorig yg memang mirip dengan utusan yg mengantar surat kemari,!" jelas Senopati Lembu Petala.
" Ahhh, berarti ini ada hubungan nya dengan jenderal Ganbataar, dan ini pasti tentang balas dendam,!" ungkap Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Mongol , jenderal Ganbataar, siapa dia,?" tanya Arya bor-bor dan Tumenggung Rapada ber samaan kepada Senopati Lembu Petala.
Kemudian Senopati Lembu menjelas kan secara ringkas tentang pe perangan antar Tiongkok dan Mongol kala itu.
Dan kedua Satria Majapahit itu berada di pihak Tiongkok, sementera Senopati agung dari Mongol yg ber nama Jenderal Ganbataar tewas di tangan Wikala sang Adipati Pamotan itu.
Dan ini ada surat tantangan dari mereka yg ke mungkinan ingin balas dendam.
Itu lah penjelasan singkat yg di beri kan oleh Senopati Lembu Petala kepada kedua rekan nya itu.
" Gusti Guru, apakah ini bukan ancaman bagi keber hasil an kita menyerang Kotaraja Majapahit,?" tanya Arya bor-bor kepada sang Adipati Pamotan.
" Mungkin iya, mungkin juga tidak,!" jawab Wikala sang Adipati Pamotan.
" Maksud Gusti Guru,?" tanya Arya bor-bor yg tidak mengerti atas jawaban dari sang Adipati.
" Kalau memang mereka menantang untuk ber perang tanding karena dendam, mungkin akan mengancam keberhasilan kita atas Kota Raja, tetapi jika perang tanding itu hanya sekedar penjajagan, berarti itu tidak terlalu ber masalah buat kita,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
" Jika mereka ber perang tanding itu atas unsur dendam, bagaimana Gusti Guru,?" tanya Arya bor-bor.
Ketiga pembantu dekat dari Adipati Pamotan itu saling ber pandangan satu sama lain men dengar ucapan dari Junjungan nya itu yg ter lihat kurang mapan dan kurang meyakin kan.
" Mengapa kalian saling ber pandangan begitu,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan .
" Apakah Gusti Gurui, tidak yakin dengan kemampuan sendiri,?" tanya Arya bor-bor.
" Bukan begitu bor, setiap kita masih perlu bersiap dan ber siaga dengan segala kemungkinan yg terjadi, ter masuk dalam hal perang tanding, supaya apa, supaya kita mem persiap kan segala sesuatu dengan matang bukan, asal-asal lan,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Sudah lah jangan ter lalu di pikir kan dengan urusan perang tanding itu , pusat perhatian semua nya kepada penyerangan kotaraja Majapahit itu,!" kata Sang Adipati Pamotan lagi.
" Kami siap melaksanakan nya, Gusti Adipati,!" jawab ketiga orang pembantu dekat Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Bagus, nanti setelah semua nya selesai,lapor kan kepada ku, dan untuk mu Paman Petala, kirim lah seorang utusan ke gel gel untuk memberitahu kan hal ini,!" kembali ter dengar perintah dari Sang Adipati Pamotan itu.
"Sendika Gusti Adipati,!" jawab Senopati Lembu Petala.
Kemudian para petinggi kadipaten Pamotan segera keluar dari tempat itu dan mulai mempersiap kan segala sesuatu nya untuk meng gerak kan pasukan kadipaten Pamotan ke kotaraja Majapahit.
Adalah Tumenggung Rapada yg sekembali nya dari tempat Sang Adipati Pamotan segera menemui saudara kembar nya Tumenggung Rapala.
" Adi Rapala, kita di perintah kan oleh Gusti Adipati untuk mem per siap kan Pasukan Pamotan guna menyerang Kotaraja Majapahit, baik prajurit maupun per bekalan nya,!" kata Tumenggung Rapada kepada saudara nya itu.
" Hehh, benar kah Pamotan akan menyerang Kotaraja Majapahit,?" tanya Tumenggung Rapala yg tidak ikut pertemuan dengan sang Adipati Pamotan.
" Benar Adi Rapala, bulan purnama, yg akan datang rencana nya penyerangan itu,!" jawab Tumenggung Rapada.
__ADS_1
" Bukan kah itu tidak ter lalu lama, kakang Rapada, berarti kita harus bertindak cepat,!" kata Tumenggung Rapala.
" Benar itu waktu yg singkat mungkin kita hanya memiliki waktu satu purnama saja untuk per siapan, jadi kakang minta segera lah beritahu kan kepada para Tumenggung dan para Rangga untuk ber siap, terutama keberangkatan dari perbekalan kita, yg akan lambat tiba nya karena di tarik dengan pedati,!" jelas Tumenggung Rapada lagi.
" Baik kakang, kita harus ber gerak cepat, memberitahu kan kepada seluruh prajurit Pamotan ini, supaya mereka bisa melaksana kan perintah dari Gusti Adipati dengan baik,!" jawab Tumenggung Rapala.
Dua orang Tumenggung kembar itu segera menghubungi seluruh pemilik kepentingan di dalam struktur ke prajuritan dari kadipaten Pamotan itu, yang akan menyerang Kotaraja Majapahit kurang dari dua purnama lagi.
Jadi kota kadipaten Pamotan ter lihat sibuk dengan per siapan untuk menyerang Kotaraja Majapahit itu.
Setelah sepekan dari pertemuan itu kembali datang utusan yg mem beri kan sepucuk surat kepada Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Maaf kan saya Gusti Adipati, saya adalah sortan murid dari bikshu Gangga dhara dari Karakorum, berasal dari mongol, ingin menyampai kan surat dari Guru saya ini,!" ucap seorang yg ber tampang mongol meski mengguna kan jubah seorang bikshu.
" Oh, jadi anda dari Mongol,?" tanya Wikala sang Adipati Pamotan itu.
" Benar Gusti Adipati, kami dari Mongol, meski Guru hamba dari Tibet,!" jelas Sortan utusan dari Biksu Ganggadhara.
Kemudian Wikala sang Adipati Pamotan itu mengambil sepucuk surat yg di serah kan oleh Sortan itu dan membuka nya serta langsung membaca nya.
Setelah selesai membaca nya, mimik wajah dari Sang Adipati agak berubah.
" Baik lah katakan kepada guru mu, Kami siap melayani tantangan nya itu, dan tempat yg akan Ku pilih adalah Puncak semeru, tepat purnama nanti kuharap, Bikshu Ganggadhara telah berada di sana,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan itu.
Kepala Sortan tampak mengangguk , faham dengan apa telah di ucap kan oleh Sang Adipati itu, ia kemudian berkata,
" Baik lah Gusti Adipati, pesan dari Gusti Adipati akan saya sampai kan kepada guru, Bikshu Ganggadhara, dan saya mohon pamit,!" jawab Sortan.
" Silah kan, silah kan,!" kata Wikala sang Adipati Pamotan itu.
Setelah kepergian utusan dari mongol itu, Wikala sang Adipati Pamotan itu segera memanggil Senopati Lembu Petala.
Dan tidak ter lalu lama, Senopati Pamotan yg merupa kan bekas Bekel Bhayangkara itu sudah menghadap Sang Adipati.
" Ampun Gusti Adipati, gerangan apakah kira nya Gusti Adipati memanggil Paman,?" tanya Senopati Lembu Petala.
" Begini paman, sehubungan dengan tantangan dari Bikshu Ganggadhara, jadi nanti saat purnama, Paman dan Arya bor-bor akan Ku ajak ke Puncak semeru sebagai saksi atas Perang Tanding yg di minta oleh Bikshu Ganggadhara itu,!" jelas Wikala sang Adipati Pamotan.
" Purnama ini Gusti Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala.
" Benar paman, Bikshu Ganggadhara ingin ber tarung dengan ku sehubungan tewas nya Jenderal Ganbataar di saat perang Tiongkok waktu itu,!" ucap Wikala sang Adipati Pamotan
" Memang nya siapa Bikshu Ganggadhara itu Gusti Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala lagi.
" Ia merupakan seorang guru dari Jenderal Ganbataar dan Jenderal Ganzorig, dan ia penasaran atas tewas nya Jenderal Ganbataar di tangan ku waktu itu, kemudian ia mencari sampai kemari,!" jelas Sang Adipati.
" Apakah tidak ter lalu ber bahaya di saat Pamotan tengah ber siap untuk ber perang dengan Kotaraja Majapahit ini, Gusti Adipati,?" tanya Senopati Lembu Petala.
" Jangan ter lalu di risau kan, tampak nya Bikshu Ganggadhara hanya ingin menjajal saja, karena ter lihat dari bunyi tantangan nya yg tidak ter lalu memaksa kan, hanya ingin kenal dengan pembunuh murid nya yg paling di sayangi dan memang paling tinggi ilmu nya, sehingga ia benar -benar jadi momok di dataran mongol sekitar nya, bahkan di sebut - sebut tidak bisa di bunuh, oleh karena itu, Bikshu ganggadhara ingin ber kenalan dengan pembunuh murid nya itu, dan mungkin juga ia penasaran dengan ilmu dari tanah Majapahit ini,!" kata Wiklala sang adipati Pamotan.
" Akan tetapi kita mengenal dengan jenderal Ganbataar yg benar-benar sakti, apalagi ini guru nya, tentu lebih sakti,!" ucap Senopati Lembu Petala.
" Jangan ter lalu khawatir Paman, tetap lah jalan kan rencana kita dan nanti, saat purnama, paman ikut dengan Ku ke Puncak Semeru, jangan bepikir yg lain -lain,!" seru Sang Adipati menutup pembicaraan itu.
__ADS_1
__ADS_2